Happy reading!!
“Lo dari mana bisa basah kuyup kayak gini?”
”Makam mama.” Glen yang biasanya berwajah semringah itu tampak berbeda. Ekspresinya dingin dan bibirnya gemetar. Dia menatap gadis di hadapannya dengan penuh harap. “Gue boleh masuk dulu nggak?”
“Eh ....” Dia mempersilakan Glen untuk masuk. Menyuruhnya menunggu di ruang tamu sementara gadis itu mengambilkan handuk dan teh hangat. Beberapa menit kemudian dia kembali. “Lo kenapa, sih? Udah bisa cerita?”
Glen tidak merespon. Dia menyesap teh hangatnya perlahan dan mengeringkan rambutnya dengan handuk yang diberikan oleh gadis itu. Setelahnya tanpa diduga, Glen langsung bangkit dan memeluknya.
Gadis itu terhenyak beberapa saat sampai dia membalas pelukan dari Glen.
“Bentar aja, Sha.”
“Selama yang lo perluin.”
Mereka terhanyut dalam pikiran masing-masing.
Ishana adalah sahabat kecil Glen, keduanya tumbuh bersama sampai berpisah ketika SMA. Gadis itu pernah menyimpan rasa pada Glen sampai akhirnya hanya mengambang dan hilang. Hubungan keduanya sangat akrab walaupun jarang bertemu. Ishana adalah tempat Glen mencurahkan semua keluh kesahnya. Dia sangat paham dengan masalah keluarga hingga percintaan cowok itu.
Ishana mengusap rambut Glen yang basah. “Em ... Glen.”
“Hmm?”
“Gue nggak masalah lo peluk terus, tapi kaos gue udah ikutan basah, nih.”
Glen segera melepaskan dekapannya. Dia menatap gadis itu dengan manik bersalah. “Sorry.”
“Bukannya gitu, tapi lo bisa aja masuk angin.” Ishana mengambil bantal sofa dan memeluknya. Jantungnya berdetak keras lagi. Alasan masuk angin hanya menjadi bualannya saja, tidak bisa dipungkiri kalau rasa itu kembali tumbuh saat Glen berada dekat dengannya.
“Nanti gue ada acara di sekolah. Mau nemenin nggak?”
Ishana tampak berpikir. “Boleh, sih. Acara apa? Pesta dansa akhir tahun?”
Glen menggeleng. “Bukan. Acara berkabung dan doa bersama.”
Gadis itu membulatkan bibir. Dia meletakkan kembali bantal sofa pada tempat semula. Meraih cangkir teh di depan Glen dan menyesapnya tanpa ragu. “Habis ini lo pulang dulu gitu buat ganti baju?”
Lagi-lagi cowok itu menggeleng. “Gue udah bilang kalau gue nggak akan pulang malem ini. jadi, gue pinjem baju Bang Erman dulu, ya?”
“Kebetulan Bang Erman lagi keluar sama temen-temennya. Lo mandi aja, nanti gue ambilin bajunya,” putus Ishana. Sudah tidak heran kalau Glen mampir ke rumahnya untuk menginap dan memakai pakaian kakaknya, tapi setelah sekian lama ... rasanya berbeda. Kali ini cowok itu datang dengan wajah putus asa dan segudang masalah.
“Okey. Lo emang temen terbaik gue, Sha,” ucapnya diiringi senyum mengembang.
Ishana hanya bisa mengangguk dan membalas senyuman cowok itu.
∆ I See You ∆
“Acaranya jam berapa?” bisik Ishana pada Glen. Mereka baru sampai di aula, tapi suasana masih cukup sepi. Keduanya memakai setelan hitam. Kebanyakan dari peserta juga demikian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Who is the Killer?
Misterio / SuspensoPembunuhan atau Bunuh Diri? Sepertinya, opsi kedua akan lebih masuk akal untuk diterima. Pasalnya depresi berat bisa menjadi argumen pendukung yang meyakinkan. Gadis manis dengan rambut sebahu itu ditemukan tewas gantung diri di gudang sekolah. Satu...
