WITK? [3] Orang Misterius

212 22 3
                                        

Happy reading!!

Dengan napas terengah Dania terus berlari, berlari, dan berlari. Sesekali gadis itu memastikan apakah ada yang mengikutinya dengan sesekali menoleh ke belakang.

Bruk!

Dania jatuh terduduk, begitu pula dengan seseorang yang ditabraknya. Gadis itu masih penuh kepanikan. Dia menutup matanya rapat, menutup telinganya dengan kedua tangan dan berteriak, “Tolong! Tolong jangan bunuh aku!”

Laki-laki itu berjongkok di hadapan Dania, menepuk pundak cewek itu. Perbuatannya barusan malah membuat Dania lebih histeris. “Dan, Dania ... ini gue, Glen.”

Dania mendengar suara familiar yang samar-samar menyelinap di sela teriakannya. Dia memberanikan diri untuk mengintip, melihat siapa orang yang baru saja ditabraknya tadi. “Glen,” cicitnya.

Cowok itu mengangguk. “Iya, ini gue. Lo kenapa, sih?”

Dania menoleh ke belakang. “Ada orang yang buntutin gue akhir-akhir ini.”

Glen mengikuti arah pandang gadis itu. “Nggak ada siapa-siapa, Dan. Dari tadi gue juga nggak liat siapa-siapa yang mencurigakan, kok. Palingan fans lo, tuh.”

Dania menggeleng. “Dia-dia neror gue. Parahnya, orang gila itu ngancem mau bunuh gue.”

Glen mencengkeram kedua bahu Dania, membawa arah pandang gadis itu tepat pada manik hitam Glen. “Okey. Lo dengerin gue. Dan, gue tahu lo lagi banyak masalah, tapi bukan gini pelampiasannya. Jangan depresi, selalu berpikir positif, okey?”

“Lo pikir gue gila?” Dania menepis tangan lelaki itu. Dia langsung beranjak dari posisinya yang masih terduduk di lantai. “Kalo emang nggak percaya sama apa yang gue bilang, ayo ikut gue sekarang!”

Glen hanya pasrah saat tangannya ditarik oleh gadis itu. “Ini mau ke mana, sih?”

“Ke lorong loker. Orang gila itu ngirim bangkai kucing tanpa kepala pagi ini,” ucap Dania dengan nada yang begitu dingin, semacam tanpa emosi. Sangat berbanding terbalik dengan dirinya tadi yang ketakutan setengah mati.

Melihat reaksi gadis itu yang bisa berubah secepat itu membuat Glen yakin kalau Dania memang mengalami gangguan depresi. Lelaki itu tersenyum miris, bagaimanapun juga dia menyimpan rasa pada Dania. Tepat sebelum Dania membuka lokernya, Glen lebih dulu menghentikan tangan cewek itu. “Dan, please!”

Dania menggeleng tidak percaya. Dia menatap tajam pada Glen. “Gue nggak percaya, lo segitunya sama gue, Glen!”

Dengan tangan gesitnya, gadis itu membuka loker biru bernomor 46. Dania tidak melihat pada lokernya, melainkan menghunjamkan tatapan tajam pada Glen. “Lihat!”

“Dania, please!” Glen tersenyum getir, lagi-lagi dia menggeleng seraya memberikan tatapan sedih pada gadis itu.

Melihat bagaimana reaksi Glen setelah loker itu dibuka membuat Dania kebingungan. Dia langsung memastikan sendiri. Sangat mengejutkan. Dania ikut menggeleng tidak percaya. Bagaimana mungkin kotak besi itu bersih? Padahal baru beberapa menit yang lalu loker gadis itu berisi bangkai kucing yang masih dipenuhi darah.

Dania mengalihkan pandangannya pada Glen, meraih tangan cowok itu, dan menggeleng kuat. “Gue nggak bohong, Glen. Tadi ... tadi ... di loker itu—“

Glen menarik Dania hingga tenggelam dalam dekapannya. Dia mengusap punggung gadis itu, berusaha memberinya kekuatan. “Lo cuma terlalu syok aja karena ada orang iseng yang ganggu lo akhir-akhir ini. Tenang, okey?”

“Tapi—“

“Ssstt ... jangan terlalu dipikirin,” ucap Glen dengan begitu lembut.

“Dia ikutin gue sampe ke sekolah. Dia tadi bawa-bawa pisau dan ngancem mau bunuh gue,” lirih Dania dengan suara parau. Gadis itu mulai menangis.

Who is the Killer?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang