WITK? [6] Teror dan Argumen

170 19 1
                                        

Happy reading!!

Haniva, siswi biasa-biasa saja, tidak banyak menarik perhatian. Warna rambutnya yang hitam menambah kesan manis saat dipadukan dengan kulit sawo matang gadis itu. Anak perempuan biasa dari keluarga yang biasa.

“Iva,” panggil seorang perempuan dari ruang tamu rumah minimalis bercat biru laut itu.

Haniva berjalan cepat untuk memenuhi panggilan dari ibunya. “Iya, Bu. Ada yang bisa Iva bantu?”

Ratna, ibu Haniva tersenyum tulus pada putri semata wayangnya. Dia meraih sebuah toples persegi panjang berisi berbagai jenis jajanan dari meja tamu. “Ini, tolong anter ke warung Bu Hasanah, satu lagi ke warung Pak Manto. Habis itu kamu bantuin ibu buat nyuci baju, ya?”

Iva hanya bisa tersenyum lalu mengangguk. Gadis itu terlalu sayang pada ibunya, tanpa Ratna dia bukanlah apa-apa. Ayahnya masih ada, tapi lelaki itu tengah berada di penjara karena kasus perampokan.

“Hati-hati di jalan,” ucap Ratna.

Lagi-lagi Haniva mengangguk. Dia mencium punggung tangan wanita itu dan segera bergegas ke tempat yang telah dititahkan ibunya.

Di persimpangan jalan setelah dari warung Pak Manto, Haniva melihat seseorang, orang asing. Gadis itu mendekat, menepuk bahu orang itu dan berjongkok di depannya. Dia mendongak. Wanita tua kurus dan kelaparan, duduk meringkuk menyandarkan diri pada dinding gang. Tatapannya yang sayu membuat Haniva iba.

“Ibu, sakit?”

Wanita itu menggeleng.

“Ibu, sudah makan?”

Dia menggeleng lagi.

Gadis itu merogoh sakunya. “Maaf kalau saya kurang sopan, tapi saya ingin membantu Ibu barang sedikit,” ucap Haniva seraya menyerahkan selembar uang sepuluh ribuan padanya.

Dengan tangan gemetar, wanita itu menerimanya. Dia menyatukan tangannya di depan dada dan sedikit membungkuk tanda terima kasih.

Haniva merasa lancang, tapi rasa penasaran mengalahkan segalanya. “Em ... Ibu tunawicara?”

Wanita itu tersenyum kecut lalu mengangguk.

“Maaf, Bu. Saya hanya bisa ngasih sedikit. Jangan lupa beli makanan setelah ini. Saya pamit.”

Saat Haniva hendak berdiri, dia ditahan oleh wanita itu. Pandangannya mengisyaratkan, Tunggu sebentar!

Haniva kembali berjongkok, memperhatikan apa yang tengah dilakukan wanita tua itu. Dia menyelipkan tangannya di balik saku celana lusuhnya, mencari sesuatu. Sebuah kotak kecil terbungkus rapi, mungkin hanya berukuran 15x5 cm. Dia meraih tangan Haniva dan memberikan kotak itu.

“Untuk saya?”

Wanita itu mengangguk antusias.

“Terima kasih.” Saat Haniva hendak membuka kotak itu, lagi-lagi tangannya ditahan. “Baiklah, nanti akan saya buka kalau sudah sampai rumah.”

Haniva beranjak. Meninggalkan wanita yang masih duduk bersandar pada dinding gang. Gadis itu tersenyum. Dia penasaran, Apa, ya, kira-kira isi kotak ini? Kalau ngintip doang nggak pa-pa, kan?

Haniva berhenti. Dia membuka pita pembungkus kotak itu. Perlahan membuka penutup atas dan betapa terkejutnya gadis itu saat mendapati dua telunjuk manusia yang sudah mulai membusuk dan dikerumuni cacing putih di sana.

“Aaaa!” Refleks saja dilemparkannya kotak itu ke sembarang arah.

Napas gadis itu memburu. Jantungnya berpacu dengan cepat. Apa-apaan itu tadi?

Who is the Killer?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang