Happy reading!!
Empat remaja memasuki rumah bernuansa hangat dengan didominasi warna hijau sebagai wallpaper-nya. Sang pemilik berbalik menatap tiga tamu dengan wajah semringah. Dia merentangkan tangan. “Selamat datang di rumah sederhana gue!”
“Nggak usah didengerin.” Glen menunjuk kepala dengan telunjuk seraya memutarnya. “Dia emang suka merendah buat meroket.”
“Ih, lo mah ngeselin!” sembur Ishana tidak terima.
“Makasih loh kita udah boleh nginep di sini,” ucap Lizzy dengan senyum manisnya. Tangannya tetap bertaut di sela jari-jari Kevin sejak turun dari mobil.
Ishana membalas, “Iya. Gue malah seneng kalian nginep, malam ini gue sendirian di rumah. Btw, Vin, Lizzy nggak bakal ilang kok. Kenceng amat itu borgolnya.”
Kevin mengangkat tangan kirinya yang masih bergenggaman dengan Lizzy. “Eh, dia gampang ilang, jadi harus dijagain baik-baik.”
Mendengar penuturan Kevin barusan, Glen dan Ishana terkekeh. Sedangkan Lizzy langsung menghempaskan tangan cowok itu dan mencubit pinggang Kevin.
“Aw! Sakit, Zy.”
“Makanya nggak usah ngarang!” kesalnya.
Gadis dengan rambut bergelombang yang diikat menjadi satu itu menengahi. “Nggak usah ribut-ribut. Kuy bakar jagung aja!”
“Ayok!” Glen ikut bersemangat.
Lizzy dan Kevin mengangguk sebagai jawaban.
“Bentar gue ambil jagung sama arangnya di mobil,” pamit Kevin. Dia hendak melangkah keluar, tapi tangan Lizzy menahannya.
“Gue ikut.” Tanpa adanya persetujuan dari cowok itu, mereka langsung melenggang pergi.
Ishana mendudukkan diri di sofa tamu. “Huh ... emang pacaran harus selalu nempel gitu, ya?”
Glen ikut duduk di samping gadis itu. Dia menyandarkan tubuhnya pada punggung sofa dan memejamkan mata. “Nggak tau. Gue belum pernah pacaran.”
“Dania?”
“Baru deket. Gue nggak berani nembak dia. Eh, dia pergi duluan.”
“Berarti Tuhan lebih sayang sama dia,” balas Ishana.
Glen menegakkan diri. Menatap tajam pada gadis di sampingnya itu. “Terus lo pikir Tuhan nggak sayang gue gitu?”
Ishana terkekeh. “Dasar bocil! Otak lo kayaknya nggak pernah berkembang, ya.” Dia menoyor kepala Glen, lalu menyandarkan kepalanya pada bahu cowok itu. “Tapi gue harap emang Tuhan benci lo, biar nggak cepet-cepet mati dan ninggalin gue.”
Cowok itu menggeser duduknya, membiarkan kepala Ishana merosot ke sofa. Dia mengangguk-angguk. “Gue juga nggak ada niatan mati muda, Sha.”
“Glen,” panggil Ishana.
“Hmm?”
“Jadian sama gue kuy!”
Glen membelalakkan mata. “Lo nembak gue?”
Ishana langsung berdiri. Berkacak pinggang dan menatap tajam mata cowok itu. “Nggaklah. Emangnya mata gue burem sampe nembak cowok bentukan kayak lo. Idih!”
KAMU SEDANG MEMBACA
Who is the Killer?
Mystery / ThrillerPembunuhan atau Bunuh Diri? Sepertinya, opsi kedua akan lebih masuk akal untuk diterima. Pasalnya depresi berat bisa menjadi argumen pendukung yang meyakinkan. Gadis manis dengan rambut sebahu itu ditemukan tewas gantung diri di gudang sekolah. Satu...
