WITK? [10] Berkabung Rindu

121 20 0
                                        

Happy reading!!

Bisikan-bisikan yang saling sahut itu mendengung seperti lebah. Warga SMA Mentari 37 belum dibubarkan, bahkan setelah upacara rutin selesai. Siswa-siswi yang mengeluh karena disengat terik dan bertanya-tanya ada apakah ini, atau hal semacam itu lebih menimbulkan gaduh.

“Mohon tenang semuanya!” pinta guru olahraga dengan tegas. Perhatian tersedot padanya, walaupun masih ada beberapa gerutuan kecil. Dia terlihat kaku sesaat sebelum menghela napas panjang. “Kepala sekolah akan menyampaikan sedikit tambahan. Mohon diperhatikan!”

Laki-laki setinggi 175cm itu turun dari podium digantikan oleh Kepala Sekolah James. Dia berdeham dua kali. “Selamat pagi semuanya.”

“Saya tahu dua minggu belakangan adalah hari yang cukup berat bagi kalian, tapi saya harap kalian tidak terlalu terguncang. Pihak sekolah sudah bekerja sama dengan kepolisian dan dua kejadian itu telah diputuskan sebagai bunuh diri. saya mohon kalian tidak mengambil langkah bodoh seperti itu dalam menghadapi masalah.” Lelaki itu menjeda. “Sebagai bentuk penghormatan pada kedua teman kalian itu, pihak sekolah akan mengadakan acara berkabung dan doa bersama nanti malam di aula. Saya harap semuanya dapat hadir. Untuk surat izin, nanti wali kelas yang akan membagikan bersama undangan untuk wali murid.”

“Oh, iya. Untuk besok silakan kalian belajar di rumah. Karena sekolah akan mengadakan pertemuan komite mendadak sebagai tanggapan keresahan orang tua kalian. Saya rasa cukup sekian yang bisa saya sampaikan. Terima kasih.”

∆ I See You ∆

Glen, Kevin, dan Lizzy tengah berdiri di ujung koridor depan tempat parkir yang hampir kosong.

“Gimana kalau kita berangkat barengan aja?” tanya Glen. Dia menyesap botol minumnya yang tinggal setengah.

Lizzy melirik pada Kevin dan cowok itu mengangguk. “Boleh.”

“Nanti biar gue yang jemput Lizzy,” ucap Kevin langsung.

Entah kenapa pandangan Glen sedikit berubah setelah mendengar penuturan Kevin barusan. Dia memasukkan botol minum yang masih digenggamnya. Menutup ritsleting tasnya dan kembali menggendongnya dengan benar. “Kalian jadian?”

Lizzy membelalak. Gimana dia bisa tahu? Mungkin cuma tebakan kebetulan.

“Iya,” jawab Kevin singkat. Ekspresinya datar seperti biasa. Tidak ada keraguan atau rasa tidak nyaman dengan suasana.

“Eh ... maksud kita bukan gitu. Glen, gue—“

Glen dengan cepat memotong ucapan Lizzy. Dia memaksakan senyum kakunya itu agar terlihat setulus mungkin. “Nggak pa-pa, Zy. Gue paham.”

Lizzy mencubit pinggang Kevin.

“Aw!”

Tatapan tajam langsung gadis itu layangkan pada Kevin. Tatapan yang menyiratkan, Harusnya lo nggak ngomong gitu! Paham suasana dong, Glen baru kehilangan Dania.

Kevin yang tidak peka terlihat seperti orang bodoh. “Ada apa, sih?”

Glen yang terkikik membuat perhatian keduanya tersedot kepadanya. “Nggak usah nggak enak gitu sama gue. Gue baik-baik aja. Kalau gitu gue duluan, dari pada jadi obat nyamuk di sini.” Cowok itu segera melenggang pergi setelah menyelesaikan kalimatnya.

Who is the Killer?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang