Kehidupan Dalam keluarga

103 22 6
                                        

Rasya gadis tomboy yang sangat disayang kelurganya, tak pernah mengeluh akan sikapnya yang sangat berbeda dengan gadis lain, walaupun keluarga Lasmana cukup tersohor dikalangan atas. Gadis yang seharusnya feminim dan pintar make up, tidak pernah keluarganya paksakan. Mereka ingin Rasya tumbuh atas kemauannya, bukan kekangan dan aturan orang.

Gadis yang dibicarakan pun kini tengah duduk anteng dimeja makan bersama kedua kakaknya. Seragam putih abu yang masi melekat ditubuhnya, menandakan gadis itu baru saja datang.

"Ayah udah pulang?" tanya Rasya sambil menuangkan air kedalam gelas.

"Hem ... udah tu," jawab Kakak Rasya yang paling besar, seorang dokter muda yang cukup terkenal di Jakarta, apalagi dengan keahliannya yang sangat handal, bukan cuma dokter, iya juga berhasil mengembangkan rumah sakit hadiah wisuda orang tuanya. Kakak Rasya itu bernama lengkap Gatan Lasmana

"Terus dimana sekarang?"

"Berduaan sama bunda." Sekarang giliran kakak kedua Rasya yang
menjawab, siapa lagi kalau bukan Askan Lasmana, seorang CEO muda yang terkenal sampai mancan negara. Iya sampai dijuluki CEO muda yang berbakat dan sangat handal dalam bidangnya mengembangkan perusahaan.

"Ooh .... " gadis itu menjawab singkat, hendak menengak air yang sudah berisi penuh didalam gelas, namun baru saja Rasya ingin mengakatnya, dengan rakus Askan malah mengambilnya dan meminumnya hingga habis.

Rasya memandang datar atas tindakan kakaknya, iya kembali mengambil gelas dan menuangnya hingga penuh. "Kak Gatan kok ngak kerja?" Rasya sengaja bertanya pada Gatan saja, karna masi merasa kesal dengan tingkah Askan tadi.

"Jaga malem dek .... " balas Gatan yang masi fokus dengan ponselnya, Gatan ini memang tipe orang yang agak cuek dengan sekitar, tapi sangat perhatian pada orang dekatnya, terutama kedua adiknya.

"Kak Askan nggak ditanya ni .... " goda Askan dengan gaya tengilnya.

"Ah nggak guna."

"Jangan gitu sama Kakak sendiri."

"Terus harus gimana?"

"Ya harus saling sayang lah."

"Disayangin malah besar kepala, entar dikasi hati malah minta jantung."

"Kaya judul lagu," sela Gatan yang sudah meletakan ponselnya, bahkan iya kini sudah melirik gelas yang tadi Rasya tuang. "Kakak yang minum airnya ya?"

Rasya menoleh cepat kearah Gatan. "Eh ja .... " ucapan Rasya terputus, melihat air yang tadi sudah Rasya tuang tinggal menyisakan gelas kosong. "Hem ... kalo haus tuang sendiri kenapa si?"

"Habisnya Kakak liat airnya dianggurin karna lagi pada debat." Gatan menjawab dengan santainya, nada tak peduli alias cuek yang dimilikinya, dibalik sikap sayang dan penuh perhatiannya.

Rasya mencebik kesal, mengepalkan tangannya menahan emosi. "Kalian sama aja," ketus Rasya.

"Loh ini ada apa si, kok mukak Rasya kesel gitu?" tanya Arkan yang datang dari ruang keluarga, bersama istrinya Ana. Yang sudah Arkan ajak membangung rumah tangga 27 tahun dan berhasil memberinya hadiah dua putra dan satu Putri.

"Tanya mereka."

Arkan melirik kedua putranya dengan raut wajah meminta penjelasan. Askan yang paling pekapun menghembushkan napasnya sebentar, lalu menjelaskan kejadian tadi, sedangkan sang Ayah hanya mangut-mangut paham.

"Udah jangan kesel gitu, ini Bunda tuangin airnya." dengan lembut Ana membunjuk anak gadisnya itu, menyodorkan segelas air dengan senyum lembut khas keibuan miliknya.

"Kok Ayah juga ngak dituangin si?" tanya Arkan manja, dengan wajah menggodanya.

"Para jomblo kepanasan," sindir Askan.

Rabi (Sudah Terbit)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang