Vote Comment !
.
.
.
.
.
.
Mentari menghela nafasnya menatap bangku disebelahmya kosong, mulai hari ini hukuman Aletha berlaku ia tidak masuk selama 3 hari kedepan. Ia bosan, tidak ada teman berbicara
Mentari mengetuk-ngetuk kening dengan pulpennya. Demi apapun ia sungguh bosan, ia melirik arloji dipergelangan tangannya. Sebentar lagi waktu istriahat kedua, ia merapikan alat tulisnya terlebih dahulu.
"Baiklah, materi kita berakhir disini. Jangan lupa tugas yang belum mengerjakan segera mengumpulkan pada bapak." Pesan pak Ari sebelum meninggalkan kelas.
"Iya pak."
Setelah pak Ari keluar, mereka segera berhamburan keluar dari kelas ingin mengisi perut yang sudah meronta meminta makanan. Mentari mengeluarkan kotak bekalnya dari dalam tas lalu membawanya jeluar kelas menuju taman belakang sekolah.
Sesaat setelah sampai, Mentari duduk lesehan dibawah pohon rindang yang berada tak jauh dari tempat duduk. Ia memandang langit sejenak, semilir angin menerpa wajah teduhnya ia tersenyum kecil memandang langit terik saja sudah membuatnya senang.
"Gila? Senyum-senyum sendiri."
Mentari tersentak kaget mendengar suara berat itu masuk keindera pendengarannya tiba-tiba, sontak ia menolehkam kepalanya mendapar Bulan yang berdiri disampingnya.
Ia memukul kaki Bulan kesal, "Bikin kaget!"
Bulan acuh ia ikut duduk disamping Mentari. "Semoga jantung lo baik-baik aja,"
"Iya! Semoga aja!" Gerutu Mentari kesal. "Kak Bulan ngapain disini?"
"Terserah gue, mau ngapain. Bukan urusan lo."
Mentari memutar bola matanya malas, "Ternyata kak Bulan nyebelin ya,"
"Oh."
Mentari mendelik tajam, ia membuka kotak bekalnya menu hari ini hanya sebuah sandwich sederhana buatannya sendiri. Ia menolehkan kepalanya sejenak menatap Bulan yang sedang memejamkan matanya.
"Kak Bulan udah makan?"
Bulan membuka matanya melirik Mentari. "Perhatian sama gue?"
"Ge'er banget sih! Aku cuman nanya," Ketus Mentari.
Bulan hanya berdeham kecil, Mentari mulai memakan sepotong sandwichnya dengan tenang. Sesekali melirikik Bulan yang diam menatap lurus kedepan.
"Kak Bulan mau?" Tawarnya ragu.
"Gak, lo makan aja." Balas Bulan cuek.
Mentari mangut-mangut lalu melanjutkan makannya kembali, namun suara perut yang begitu nyaring membuat Mentari kembali menolehkan kepalanya pada Bulan sambil menahan tawa.
"Gengsi banget sih bilang mau," Ucapnya dengan kekehan kecil.
Bulan berdeham kikuk, ia merutuki perutnya yang tidak bisa diajak kompromi.
"Nih," Mentari menyodorkan kotak bekalnya yang masih berisi sepotong sandwich miliknya. "Kalau kurang enak, jangan dihabisin."
Bulan menerimanya dengan ragu, mengambil sepotong sandwich itu menelisiknya sejenak lalu memakannya dengan pelan. Isinya sederhana namun sangat enak dilidahnya, ia tersenyuk tipis.
"Makasih."
"WADAW! KETAHUAN KAN LO LAN LAGI PACARAN SAMA MENTARI!"
Teriakan yang begitu menggelegar itu memnbuat Bulan tersedak sandwich, ia terbatuk-batuk membuat Mentari panik dengan segera ia membuka botol minum yang ia bawa tadi lalu menyodorkannya pada Bulan. Pelakunya tak lain tak bukan adalan Delvin dan Orlan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bulan & Mentari [ Terbit ]
Teen FictionFollow dulu sebelum baca ! Cover by Amaris_selene Mentari Febiola Khaelsi, gadis lugu kelewat polos yang selalu dibully dan jadi korban perundungan teman sekelasnya bahkan kakak kelasnya juga tidak jarang mengerjainya. Hari-hari sekolah ia selalu di...
![Bulan & Mentari [ Terbit ]](https://img.wattpad.com/cover/224506225-64-k985816.jpg)