Vote comment readers !
Jangan siders :")
.
.
.
.
.
.
Hancur. Satu kata yang menggambarkan Bulan, Erlan dan lainnya sekarang, menatap sedih pada makam Mentari. Erlan menangis tersedu-sedu disampingnya, ia sangat merasa bersalah tidak ada yang bisa ia lakukan sekarang.
"Maafkan ayah nak, maafkan ayah.." Erlan tak hentinya mengatakan maaf.
Bulan pun tak bisa membendung air matanya, ini lebih sakit dari apapun. Ia berbalik enggan menatap makam Mentari, ia masih tidak menyangka jika Mentari akan pulang secepat ini.
Orlan dan Delvin menghampiri Bulan, ia menepuk-nepuk pundak sang sahabat agar terus tegar.
"Ini sudah waktunya Mentari memang harus pulang, jangan terlalu bersedih. Gue yakin Mentari gak suka liatnya." Ujar Orlan.
Delvin mengusap sudut matanyayabg berair, ia menarik nafasnya sejenak. "Sudah cukup penderitaannya disini, biarkan ayahnya menyesal karna telah menyia-nyiakannya."
Bulan semakin terisak, ia menutup wajahnya menangis tersedu-sedu. Ia berjalan menjauh dari pemakaman, menuju mobilnya.
Bulan mengusap wajahnya kasar. "ARGH!"
Demi apapun, ini sangat sakit. Bisakah ia protes meminta kembali Mentari hidup didunia dengan berjanji akan menjaga dan membahagiakannya.
Bulan memukul dadanya yang terasa sesak, ia terduduk lemas disamping mobil. "Kenapa secepat ini Mentari?"
"Lan, udah. Lo jangan terpuruk gini." Celetuk Delvin seraya mengangkat tubuh Bulan agar berdiri kembali.
Bulan menggeleng lirih. "Temenin gue kekost Mentari,"
Orlan mengernyit heran. "Ngapain?"
"Mentari kasih amanah sama gue," Sahut Bulan singkat.
"Oke."
■ ■ ■ ■ ■
Bulan membuka pintu kost milik Mentari, ia bersama dengan Orlan dan Delvin masuk kedalam. Matanya kembali memanasa melihat betapa banyak kertas note yabg tertempel didinding kamar.
Bulan menyentuh meja belajar milik Mentari, meneliti tumpukan buku yang tersusun rapi disana. Ia tersenyum melihat novel miliknya masih disimpan oleh Mentari.
"Lan, coba lo baca notenya." Titiah Orlan, Bulan menolehkan kepalanya lalu mendekat pada Irlan yang berada disampingnya.
Bulan membaca satu-persatu, menahan kuat air matanya.
Bunda apa kabar? Bahagiakan disana.
Ternyata begini rasanya dibenci.
Semakin kesini, aku semakin kebal dibully haha.
Jangan tanyakan kabarku. Aku pasti tidak baik-baik saja.
Besok, kerja dicaffe.
Aku punya teman !!
Kak Bulan ngajak jalan-jalan hari ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bulan & Mentari [ Terbit ]
Teen FictionFollow dulu sebelum baca ! Cover by Amaris_selene Mentari Febiola Khaelsi, gadis lugu kelewat polos yang selalu dibully dan jadi korban perundungan teman sekelasnya bahkan kakak kelasnya juga tidak jarang mengerjainya. Hari-hari sekolah ia selalu di...
![Bulan & Mentari [ Terbit ]](https://img.wattpad.com/cover/224506225-64-k985816.jpg)