5

853 107 0
                                        

Lagi dan lagi.

Ia akan terus berada di tempat itu.

Melihat bintang.

Namun, yang berbeda hanyalah perasaan gundah yang selalu membuatnya tidak fokus.

Apakah suatu saat nanti dia mengingatku?

Rindu ini, bisakah ia realisasikan dengan mengatakan sebenarnya pada Jeno?

Tidak.

Itu akan menghancurkan semuanya.

Bagaimana ini . . .

Aku ingin dia mengingatku, tapi aku tidak ingin membuatnya membenciku karena ini.

Ia terbaring dengan menutup wajahnya.

Andaikan saja ia mengingatku, mungkin semuanya akan mudah.

Dan kami, bisa bersama lagi.

Frustasi.

"Aku bodoh sekali."

Bintang, apakah aku menyerah saja?

Bukan berarti aku tidak akan menemuinya lagi.

Aku hanya ingin menjalaninya, tidak masalah jika ia tidak mengingatku.

Kita bisa membuat memori baru lagi.

Iya, ku pikir akan lebih baik seperti itu.

Tangannya terangkat seolah ia sedang menggapai bulan dan bintang di sana.

Walau berat, aku akan mencobanya.

Kau pasti bisa, Jaem.

Ibarat kata :

Kenangan masa lalu akan indah jika hanya sebatas bayangan, namun akan menyakitkan bila mengharapkan agar terulang kembali.

Uraian kata akan selalu ia rangkai, layaknya penyair sajak.

Ya, berat.

Dengan memikul rasa sakit itu, tak masalah. Asalkan ia mengetahui bagaimana Jeno.

Itu sudah cukup untuknya.

"Aku akan pulang, sampai jumpa."

Malam ini, suhu udaranya begitu menusuk. Hingga membuatnya tidak dapat berpikir jernih, dengan perasaan bagai kabut.

To be Continue

To be Continue

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

- Din

𝙈𝙚𝙢𝙤𝙧𝙞𝙚𝙨 | 𝙽𝙾𝙼𝙸𝙽Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang