"Jadi . . . kau sedang apa?"
"Kau bilang ingin makan, jadi aku akan memasak."
"Astaga, kau tidak perlu repot-repot."
"Bagaimana aku tidak repot, jika kau saja merengek 'aku lapar'. Apa sekarang kau membodohiku?"
"Calm Na, aku hanya bercanda."
Selama Lucas mengunjunginya, kondisinya semakin baik.
"Jadi, masak atau tidak?"
"Masak!!"
Ia mendengus, benar-benar tak terduga.
"Oh, aku terpikir untuk mengajakmu jalan-jalan. Apa kau mau ikut?"
"Kemana?"
"Mall?"
"Kenapa kau bertanya padaku? Bahkan aku saja tidak tahu."
"Hei, maksudku ke Mall. Apa kau bisa?"
Mencoba menimang, apakah ia harus menerima ajakan itu atau tidak. "Nanti saja. Setelah kita makan, baru aku akan menjawabnya."
"Baiklah."
Lucas yang memainkan sendok, dan memainkannya hingga menimbulkan suara. Ia tertawa bagaimana hancurnya permainan musik itu.
"Kau tidak cocok seperti itu."
"Aku tahu . . banyak yang bilang aku sangat cocok menjadi pelawak."
"Tepat sekali."
"Kau juga?? Ya Tuhan . . . aku bisa gila."
Ia telah selesai memasak, segera ia mengambil dua piring dan menyiapkan makanan. Lucas memperhatikan Jaemin, dengan telaten dia menyiapkannya.
"Ini dia, silahkan."
"Woah . . . bahkan ini udang."
Jaemin mengambil gelas untuk mereka berdua, ia memberikan satu untuknya.
"Ini."
"Mana airnya?"
"Kau ambil sendiri."
"Astaga . . kenapa kau jahat sekali padaku?"
"Aku bercanda, aku ambilkan botol minum untuk kita."
Langsung saja sebuah botol minuman berada di atas meja. Lucas tersenyum lebar, "Akhirnya~"
"Kau mengerikan jika tersenyum seperti itu."
"Benar-benar . . . hanya kau yang tidak mengerti perasaanku." Sedangkan dirinya terkekeh menanggapi perkataan Lucas.
"Ngomong-ngomong, apa kau sudah bertemu Jeno?"
"Belum."
"Kenapa kau tidak menemuinya?"
Ia memutar bola matanya. "Ada sesuatu yang membuatku enggan untuk bertemu dengannya."
"Apa itu?"
"Aku . . . tidak bisa menjelaskannya."
Lucas pun mencoba melahap makanan itu.
"Kau tahu kan, jika dia mencarimu?"
"Iya."
"Mengapa kau abaikan dia?"
Jaemin mencubit hidung Lucas, "Kau ini . . . . lebih baik fokus makan saja."
Sebenarnya Lucas tahu, tentang bagaimana Jeno yang hanya menganggap Jaemin sebagai teman.
Apakah ia harus melakukan sesuatu?
"Aku akan ikut."
Lucas menatapnya,
"Benarkah? Kau ikut ke Mall?"
"Iya."
"Nanti malam, kita akan jalan. Aku akan menjemputmu."
Jaemin tersenyum.
Sepertinya, ia memang harus melakukannya.
Dengan mempertemukan Jeno dan Jaemin. Jika seperti ini terus, akan menyakitkan bagi keduanya.
Ia harus menyadarkan Jeno terlebih dahulu.
To be Continue
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
- Din
KAMU SEDANG MEMBACA
𝙈𝙚𝙢𝙤𝙧𝙞𝙚𝙨 | 𝙽𝙾𝙼𝙸𝙽
Fanfiction[Fanfiction : Nomin] "Memori, apakah bisa mempertemukan kami? Potongan memori ini, masih ada. Tak akan pernah hilang. Karena kamu, sangat berharga untukku." Cast : • Na Jaemin • Lee Jeno Other : • Wong Yukhei • Lee Minhyung
