15

505 78 5
                                        

Mengurung diri di rumah, mengunci semua ruangan.

Tak masalah.

Pasti tidak akan ada yang mengetahui apa yang terjadi padanya.

Ponselnya selalu berdering, ia tidak perduli.

Aku akan di sini saja.

Seperti yang dilakukan kedua orang tuaku.

Mengurung diri, tanpa makan, minum.

Kau benar-benar bodoh. Jika kau melakukannya, ajalmu pasti semakin dekat.

Pikirannya akan selalu seperti itu.

Mati.

Kalian ingin tahu apa yang dilakukan Jeno?

Akan ku beritahu.

-

-

-

"Na Jaemin, angkatlah."

Ia terus berusaha menghubungi Jaemin, sudah beberapa minggu ia mencari namun tetap saja tidak ada.

Tempat yang biasanya Jaemin kunjungi, juga sudah tidak lagi.

"Kau kemana?"

(Flashback On)

"Jeno, aku melihat Jaemin. Kau tahu, dia berlari seperti ada sesuatu yang mengejarnya."

"Benarkah??"

Jeno menatap Lucas, bermaksud menanyakan apa yang Jaemin lakukan.

"Siapa Jaemin?"

Ia lupa, niatannya untuk tidak memberitahu orang lain mengenai Jaemin. Ia tidak boleh membiarkan mereka tahu.

Karena Jaemin berharga untuknya.

"Dia . . . temanku."

Lucas menatapnya tidak percaya, ia tidak yakin dengan itu. Mana mungkin, ia bisa melihat kalau Jeno mencintai anak itu.

" . . Kau serius? Hanya teman?"

"Iya."

"Kau yakin?"

"Kenapa kau bertanya seperti itu?"

Lucas langsung teringat, apa jangan-jangan ada hal yang ia tidak tahu? Apa yang Jeno lakukan dengan temannya ini?

"Kalian berdua habis melakukan apa tadi?"

Temannya tersenyum sumringah, "Aku meminta Jeno untuk membantu ku latihan, ini naskahnya."

Ia mengambil naskah itu, melihat sebuah lipatan pada salah satu lembar.

'Menggenggam tangan, lalu mencium punggung tangan lawan dan tersenyum.'

Mungkin ini yang Jaemin lihat, dan jawaban Jeno membuatnya semakin memantapkan apa yang ia pikirkan.

"Sepertinya aku tahu alasan mengapa Jaemin seperti itu."

Jeno langsung mendekat pada Lucas, berbisik. "Beritahu aku."

Tapi Lucas hanya tersenyum, "Kau harus menemukannya sendiri, kawan."

(Flashback Off)

Apa yang Lucas tahu?

Mengapa dia tidak memberitahu?

"Na Jaemin, kumohon angkat."

Kau bilang hanya teman, lalu mengapa kau mencarinya?

Apa karena dia teman masa kecilmu?

"Jaemin . . . jawab aku . ."

Sedangkan sosok itu hanya bersandar di bawah lantai yang begitu dingin.

"Kau tidak perlu mencariku lagi, Lee Jeno. Mulai sekarang, kau hanya perlu memikirkan dirimu sendiri."

Hujan tak pernah tahu ia membasahi apa, namun air mataku tahu ia jatuh untuk siapa.

Benar, hanya untuk Lee Jeno.

To be Continue

To be Continue

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

- Din

𝙈𝙚𝙢𝙤𝙧𝙞𝙚𝙨 | 𝙽𝙾𝙼𝙸𝙽Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang