Chapter 9

3.3K 361 76
                                        

Huang Zi Teng melempar foto-foto Yibo dan Xiao Zhan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Huang Zi Teng melempar foto-foto Yibo dan Xiao Zhan. Mereka terlihat sangat bahagia dalam foto itu. Dia merasa kesal dengan semua omongan keponakannya yang sangat pedas. Yibo memang tak seperti putranya yang terkesan halus dan lembut. Yibo seperti ayahnya yang tegas juga terkesan memiliki mulut yang sedikit pedas. Semua hal pada Yibo berasal dari suami dari kakaknya itu.

"Tuan besar..."

"Selidiki bocah bernama Xiao Zhan itu. Wajahnya sama sekali tak asing."

"Baik Tuan. Ada lagi tuan?"

"Terus pantau Yibo. "

"Baik."

Zi Teng mengeluarkan sesuatu dari dompetnya. Sebuah foto. Ada fotonya dan seorang gadis cantik.

"Kenapa wajahnya mirip denganmu? Apa dia putramu dengan laki-laki itu? Cuih! "

🐺🐺🐺🐺🐺

Yibo masih enggan melepaskan pelukannya dari Xiao Zhan. Dia masih ingin bermanja-manja, setelah dia mengerjakan tugasnya yang kemarin tertunda. Sekarang semuanya sudah selesai, rencana dia akan mengumpulkannya hari ini.

"Yibo! Cepat mandi! Kau mau kuliah tidak? Kalau tidak, kutinggal! Aku akan berangkat sendiri!"

Mau tidak mau dia bangun.

"Ge.."

"Hm. Apa?"

Yibo memeluk Xiao Zhan dari belakang. Xiao Zhan yang sedang mengancingkan seragam khas fakultasnya agak sedikit kaget. Sedikit was was. Takutnya Wang Yibo junior bangun. Bisa repot nanti. Namun, melihat wajah serius Yibo di cermin, membuatnya menghilangkan pikiran kotor itu.

"Ge, kenapa setiap orang yang punya semuanya selalu mengontrol hidup seseorang? Dia bukan Tuhan kan? Kenapa dia harus repot mengatur ini dan itu? Atur saja hidupnya sendiri."

Xiao Zhan tersenyum lalu berbalik menatap Yibo. Dibelainya wajah tampan tapi kekanakan itu.

"Dengar. Tergantung pada aturan seperti apa? Jika aturan itu membuatmu jauh lebih baik, kenapa kau tidak menurut?"

"Kalau aku tidak bahagia? Apa aku harus menurut juga?"

"Yibo, mungkin mereka suka mengatur karena merasa punya semuanya, tapi kalau kauang tidak bahagia, kau berhak menolak. Hidupmu adalah milikmu sendiri. Jalan yang kau pilih adalah kunci kebahagianmu."

Yibo tersenyum. Mencium kening Xiao Zhan. "Ge, kebahagiaanku adalah kau. Jadi, aku akan selalu bersamamu."

Xiao Zhan mengangguk. Dia lalu mendorong Yibo ke kamar mandi.

"Mandi sana! Kau bau!"

"Aku wangi, Ge!"

"No! Kau bau! Cepat sana! Aku akan buat sarapan."

"Oke. Ge, aku mau kopi!"

"Ya. Kubuatkan."

🦁🦁🦁🦁🦁




Left & Right (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang