Past glimpses

5.2K 285 11
                                    

Vote sebelum baca.!!
Komen sesudah baca!!

~Happy reading~


Melihat Ruby telah selesai dengan makanan nya, Clarke langsung membereskan meja dan mencuci piring kotor, sementara Ruby masih duduk sambil memperhatikan Clarke, yg sedang membilas piring.

"Bukankah dia sudah sangat cocok untuk menjadi seorang istri? Clarke bisa masak, membereskan rumah, dan dia sangat rapih, tapi jika membayangkan Clarke menikah dengan Billy membuat hatiku hancur"- Batin Ruby menundukkan kepalanya sambil meremas tangannya yg saling bertautan.

Sementara Clarke yg baru saja menyelesaikan kegiatan mencuci piring menjadi khawatir saat melihat Ruby menunduk lirih seperti ingin menangis atau memikirkan sesuatu. Dan timbullah perasaan bersalah yg kini tertanam dalam diri Clarke pada Ruby.

"Hey, kita kembali ke kamar yah"- ujar Clarke yg sudah berada di samping Ruby, membuat Ruby terkejut dan mendongak menatap Clarke.

Ruby berdiri dari duduknya dia berjalan tertatih (bagian dari rencana guys,) saat baru berjalan 3 langkah tiba-tiba saja tangan dingin Clarke yg baru saja mencuci piring, menyentuh kakinya dan menekuknya sampai tubuh Ruby berada di gendong Clarke, secara refleks Ruby mengalungkan lengannya di leher Clarke.

"Biar aku bantu"- ucap Clarke, dan Ruby hanya mengangguk pasrah, bukan tidak mau tapi dia sangat bahagia memiliki tinggi badan yg tidak terlalu tinggi dari tinggi badan Clarke dan langsing serta seksi, sehingga Clarke dapat menggendong tubuhnya dengan mudah.

Ruby tidak bisa di bilang pendek, hanya saja tinggi badan Clarke memang seperti tinggi badan laki-laki di atas rata-rata, Clarke lebih cocok menjadi model, daripada pekerja kantoran, tapi mungkin ini jalan yg Clarke pilih dan itu menjadi keberuntungan bagi Ruby, walaupun Clarke tidak mengingat dirinya.

Flashback on.

Hari pertama masuk sekolah, Ruby sangat gugup dan takut, gugup bertemu orang baru dan asing baginya, dan takut mendapat bully seperti di sekolah lamanya, Ruby adalah gadis pendiam dan kutu buku, selalu mengikat rambutnya dan memakai kacamata walaupun penglihatan nya tidak terlalu buruk.

Ruby mengikuti guru di depan nya dengan kepala tertunduk, tangan nya gemetar dia benar-benar tidak ingin masuk sekolah lagi, jika bukan karena mom nya yg menginginkan Ruby mendapatkan penghargaan di masa anak sampai dewasanya, Ruby bisa saja melakukan homeschooling. orang tuanya juga tidak memaksa Ruby untuk masuk sekolah biasa,

Tapi demi mewujudkan keinginan sang mommy Ruby, akan melakukan apa saja agar mommy nya bahagia dan bangga terhadap dirinya.

"Diam semuanya kita kedatangan teman baru, namanya Ruby kalian harus baik terhadap dia, dan tidak boleh menakali Ruby, mengerti!!"

"Mengerti Bu!!!"

"Nah Ruby, kamu duduklah di bangku yg kosong"- Ruby mengangguk dan duduk di bangku yg berada di pojok.

"Baiklah mari kita mulai pelajarannya"- pelajaran pun di mulai dan para murid pun mulai diam dan terfokus pada guru yg sedang mengajar, walaupun ada beberapa yg masih berisik.

×

1 bulan berlalu dan selama itu pula harapan Ruby untuk nyaman dengan sekolah barunya sirna, Ruby selalu di jahili, dari yg ringan sampai yg keterlaluan, dan selama itu pula Ruby merahasiakan pembullyan terhadap dirinya dari orang tuanya. Saat pindah sekolah pun Ruby hanya berkata jika dia ingin suasana baru. Ruby hanya tidak ingin mommy nya khawatir.

Ruby selalu pulang dengan keadaan baik-baik saja dan selalu tersenyum, padahal saat dia di dalam kamar Ruby menumpahkan semua air matanya, sampai suatu saat ada anak yg benar-benar keterlaluan menjahili Ruby, seperti menjerumus ke arah pelecehan padahal mereka masih kecil.

BETWEEN USTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang