Apa kalian masih ingin bermain?
"Kata-kata itu yang tiba-tiba muncul di laptop gua kemaren." Ucap Bintang.
"Ah, serius lu Ntang." Tanya Elin.
"Sumpah Lin, nggak ngada-ngada gua."
"Kalau lu bener, berarti dengan kata lain, Midnight Man masih ngikut ama kita?"
"Mungkin." Jawab Bintang seraya mengerutkan dahinya.
Percakapan mereka berhenti beberapa saat sebelum Elin memulainya lagi.
"Eh Ntang, btw habis ini gue ada rencana mau jenguk Vanessa. Lu mau ikut?"
"Ide bagus tuh, gue juga khawatir bagaimana keadaannya sekarang."
********
"Ness, sampai kapan kamu nggak mau makan?" Tanya Marko yang resah dengan kondisi anaknya.
Vanessa hanya diam membisu.
"Ini makan siang mu papa taruh depan pintu ya." Ucap Marko seraya pergi dari depan pintu kamar Vanessa.
Vanessa sangat terpukul dengan kejadian di malam itu , ia hanya menaruh badan nya di atas ranjang untuk menghabiskan hari-harinya. Mungkin perasaan bersalah lah yang menyelimutinya sekarang , karena ia telah mengotori tangannya dengan darah seseorang.
"Paman, Vanessa nya ada?" Tanya Elin kepada Marko.
"Ada di dalam. Kamu Elin ya?"
"Iya saya Elin, paman tahu dari mana?"
"Bi Laksmi pernah cerita kalau kamu pernah nginep disini."
"Ada perlu apa kalian kesini?" Sambung Marko lagi.
"Maaf, karena dulu Elin nggak sempat minta ijin ke paman. Em, kalau maksud kedatangan kami kesini karena kami ingin membicarakan hal penting dengan Vanessa." Ucap Elin sungkan.
"Hal penting? Setelah kalian membuatnya masuk penjara atas dugaan pembunuhan, masih berani datang dan ingin menemui anak saya?."
Baru ingin menjawab, Elin sudah di stop oleh Bintang dengan maksud Ia saja yang menjelaskannya.
"Maaf ,seribu maaf paman atas kejadian itu ,tapi hal yang dimaksud Elin penting disini masih ada hubungannya dengan kejadian itu."
"Lancang sekali kalian. Apa kalian berniat mencelakakan anak saya lagi?" Ucap Marko Marah.
"Sekali lagi maaf, tapi kami tidak bermaksud sama sekali mencelakai Vanessa,karena semua yang terjadi hari itu benar-benar diluar dugaan kami dan sekarang... "
"Oh jadi diluar dugaan ya?" Potong Marko.
"Iya paman"
"Mendingan sekarang kalian pergi dari rumah ini, Karena Vanessa nggak butuh teman yang membuatnya jadi sesat seperti kalian."
"Tapi.. "
"Ssst" Bisik Elin memotong omongan Bintang.
"Oke paman kami akan pergi sekarang. Sekali lagi kami minta maaf sudah membuat kekacauan ini."
"Maaf terus, maaf terus . Apa kata maaf setimpal dengan penderitaan yang Vanessa alami?"
"Tahu apa paman soal penderitaan?" Ucap Bintang.
"Ntang" Panggil Elin bermaksud menghentikannya.
"Vanessa dari kecil udah menderita semenjak kehilangan mamanya, saat itu dan bahkan sampai sekarang anda dimana?, di kantor ngurus kerjaan? , ngurus Anak aja nggak bisa malah mengkambing hitamkan orang lain atas penderitaannya."
"Ntang" Ucap Elin lagi seraya memegang tangan Bintang.
"Siapa yang bisa bahagia melihat mama nya bunuh diri didepan mata kepalanya. Dan juga, anda yang harusnya peka dan lebih banyak meluangkan waktu untuk berada disisinya saat ia membutuhkan seseorang, malah memilih untuk mengesampingkannya demi urusan pribadi anda."
Marko tidak terima dan langsung memukul keras wajah Bintang.
"Ingat! Sekali lagi kamu menginjakkan kaki di rumah ini. Aku tidak segan-segan melaporkan mu ke pihak berwajib."
Bintang hanya tertawa seraya menghapus darah di hidungnya.
"Pantes aja Vanessa tidak pernah bahagia. Dasar arogan, egois, tidak berperasaan..."
Marko langsung menghajar habis-habisan Bintang hingga membuatnya terjatuh. Sedang Bintang hanya diam saja dan tidak melawan. Bi Laksmi yang melintas karena mendengar keributan itu langsung menghentikan Marko dengan memeganginya. Elin dengan sigap membawa Bintang dan menjauhkannya dari Marko.
"Sekali lagi kalian kesini, kalian akan saya hajar habis-habisan." Teriak Marko yang sangat kesal dengan Bintang yang kelewat batas.
Bintang di bawa Elin keluar dari rumah Vanessa.
"Udah Ntang udah, nggak ada gunanya lu ngelakuin hal kek gitu. Yang ada malah makin memperkeruh keadaan."
"Gua gak peduli lin, kalau emang dia punya hati, harusnya dia sadar dia juga ikut andil membuat Vanessa jadi seperti sekarang."
"Gua tahu perasaan lu, gua juga emosi sama kek lu, tapi apa hasil yg lu dapat sekarang?, Nggak ada kan?"
Bintang menarik nafas panjang dan menghembuskan nya perlahan.
"Maaf lin gua salah."
"Udah sekarang nggak penting lu salah apa nggak. Yang terpenting sekarang adalah Vanessa harus tahu kalau Iblis itu masih mengincar dan membahayakan kita."
Bersambung

KAMU SEDANG MEMBACA
The Midnight Game
HorrorEnam pemuda memainkan "Midnight Game" di rumah yang sudah 10 tahun tak berpenghuni atau yang lebih dikenal dengan "Rumah Bunuh Diri Veronika". Sesuai dengan namanya ,dahulu kala ada seorang Ibu muda mengakhiri hidupnya dengan terjun dari lantai 2 r...