"Nes, gue ada ide" Ucap Elin seraya melepas peluknya.
"Ide apa?"
"Jadi kemaren gue nonton lagi vidio penelusuran Bimo yang pertama."
"Heem"
"Pada waktu itu, Bimo kan bareng juga sama paranormal, tapi bukan almh. Mbak Renata."
"Oh, iya iya, gue baru inget, namanya Ki Drajat kalau nggak salah."
"Lah itu, bagaimana kalau kita minta bantuan ke dia, menurut gue dia seperti tahu sesuatu tentang rumah itu."
"Brilian juga ide lu Lin."
"Hem,Elin dilawan." Ucap Elin.
"Yok tunggu apa lagi, langsung aja dateng ke rumahnya." Ucap Vanessa seraya beranjak dari tempat duduknya.
"Tunggu Nes tunggu" Ucap Elin seraya memegang tangan Vanessa.
"Lho kenapa" Ucap Vanessa heran.
"Gue nggak tahu dimana rumahnya" Ucap Elin di sergai senyuman kecil.
"Ah lu , hilang sudah semangat gue" Ucap Vanessa seraya kembali duduk.
Elin terdiam beberapa menit seperti sedang memikirkan sesuatu, begitu juga Vanessa.
"Lin, gue ada solusi." Ucap Vanessa.
"Apa?"
"Surya, lu tahu rumahnya?"
"Nggak tahu lah, harusnya gue yang tanya itu ke lu, lu kan agak akrab juga sama dia."
"Akrab tapi nggak sampai tanya rumahnya juga Lin."
"Kalau rumah Bimo lu tau?"
"Nggak tau Lin."
"Terus gimana?"
"Youtube nya Bimo."
"Maksud lu?"
"Bentar, gue harap ada sih" Ucap Vanessa seraya mengeluarkan hp nya dan mencari channel Youtube Bimo.
"Syukurlah dapet juga." Ucap Vanessa.
Elin Bingung dan hanya menatap Vanessa.
"Nih, ada kontaknya."
"Oh iya juga ya, kenapa gue nggak kepikiran dari tadi."
"Tapi gue curiga ini Email bukan milik pribadi, jadi nggak tau dibales apa nggaknya."
"Coba aja dulu, siapa tahu di monitor terus ama mereka."
"Oke, gue coba ya" Ucap Vanessa seraya mengirim surel kepada kontak yang tertulis di deskripsi vidio YouTube Bimo.
"Udah Nes percuma lu liatin terus, tunggu aja dulu, semoga aja cepet balesnya." Ucap Elin menenangkan Vanessa.
🔊 (Suara pesan masuk)
Vanessa dengan cepat membukanya.
"Udah dibales?"
"Dia ngajak ketemu Lin"
"Oh ya, dimana?"
"Di rumah itu. Nanti jam 8 malem"
"Kenapa nggak sekarang aja?"
"Nggak tau juga si, mungkin bisanya jam segitu."
"Emmmm, okelah gapapa yang penting kita ketemu."
Elin dan Vanessa akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah Masing-masing dan menunggu sampai waktu yang ditentukan tiba.
Beberapa jam kemudian,
Mentari perlahan hilang ditelan Bumi.
Bintang menghentikan motornya tepat di sebuah rumah tua, sepertinya ia sudah ditunggu oleh seorang pria misterius sedari tadi."Gimana? Udah kamu siapkan semua?"
"Aman, beres pokoknya."
**********
"Mau kemana kamu keluar malem-malem gini?" Ucap Pak Marko memergoki Vanessa.
"Mau ke rumah temen sebentar Pa" Balas Vanessa seraya mengenakan sepatunya.
"Temen? Temen yang mana?"
"Ada pokoknya." Ucap Vanessa seraya berdiri lalu berjalan untuk mengambil motornya
"Heh heh, tunggu dulu , temen siapa?" Ucap Marko seraya berdiri menghalangi jalan Vanessa.
"Papa kenapa sih"
"Jawab dulu pertanyaan papa."
"Emang penting ya buat papa?" Ucap Vanessa sedikit menggertak.
"Jangan bilang kalau temen mu itu, temen yang dulu ngajak kamu main game pemanggil iblis nggak jelas itu."
"Kalau iya kenapa ha? Papa mau ngelarang? Vanessa udah muak pa, asal papa tau aja, tiap malam Vanessa di terror terus sama iblis itu dan bukan hanya sebatas terror, bahkan mbak Renata yang bisa dikatakan paranormal aja dibuat ketakutan sampai bunuh diri. Papa mau Vanessa seperti mbak Renata?." Ucap Vanessa kesal.
Marko langsung terdiam mendengar itu. Vanessa melanjutkan niat nya lagi dan mengambil motornya.
"Tenang pa, Vanessa janji, Vanessa akan baik-baik aja kok. Nanti kalau ada apa-apa Vanessa kabarin." Teriak Vanessa seraya menghentikan motornya sebelum meninggalkan rumah.
Setelah bicara, Vanessa kembali lagi melanjutkan niatnya dan bergerak menuju rumah bekas tempat tinggalnya.
Ditengah-tengah perjalanan ada telepon masuk di hp Vanessa, Ia pun menepi sebentar dan mengangkat teleponnya.
"Ada apa Lin?"
"Lu udah nyampe mana?"
"Cepetan kesini, gue rasa ada sesuatu yang nggak beres baru terjadi ditempat ini."
"Oke-oke, jaga diri lo baik-baik, sebentar lagi gue nyampe sana."
Vanessa langsung buru-buru menjalankan motornya dan bergerak dengan laju yang sangat cepat.
Sesampainya ditempat, Vanessa langsung memarkir motor nya dan menelpon Elin.
"Lu sekarang ada di sebelah mana?"
"Gue ada di samping rumah Ness, buruan kesini."
Vanessa turun dari motor dan bergerak cepat ke tempat Elin berada.
"Lu ga kenapa-kenapa kan Lin?" Tanya Vanessa yang sudah berdiri dibelakang Elin.
"Ness, lu ngapain disana?" Suara Elin terdengar dadi belakang Vanessa.
"Elin?" Ucap Vanessa seraya menengok kebelakang. Vanessa sangat shock , dengan Badan gemetar Vanessa mengalihkan pandangannya kembali ke depan.
Elin langsung berlari dan menghampiri Vanessa.
"Lu liat apa Nes?" Tanya Elin penasaran.
"Sumpah, tadi, tadi, tadi gue lihat lu berdiri disini" Ucap Vanessa terbata-bata.
"Santai Ness gapapa rileks, sementara kita lupain dulu apa yang lu liat barusan, karena gue mau nunjukin sesuatu yang lebih penting. Coba sini ikut gue." Ucap Elin seraya berjalan dan kembali ketempat dimana Elin tadi berdiri.
"Apa itu?" Tanya Vanessa penasaran.
"Gue yakin ini darah."
Bersambung.

KAMU SEDANG MEMBACA
The Midnight Game
HorrorEnam pemuda memainkan "Midnight Game" di rumah yang sudah 10 tahun tak berpenghuni atau yang lebih dikenal dengan "Rumah Bunuh Diri Veronika". Sesuai dengan namanya ,dahulu kala ada seorang Ibu muda mengakhiri hidupnya dengan terjun dari lantai 2 r...