Part 5 (Terror)

55 12 0
                                    

Hari sudah semakin gelap.
Sudah Berjam-jam Vanessa dan Bintang menunggu Elin sadarkan diri.

"Nes.... Kita dimana? "

"Syukurlah, akhirnya kamu sadar juga Lin"

"Kenapa kita ada disini? " Ucap Elin sembari beranjak duduk

"Lu dari tadi pingsan Lin, kita bawa lu kesini"

"Pingsan? "
Elin melihat jam tangan nya

"Anggara...."

Elin langsung berdiri dan bergegas berlari keluar ruangan karena ia teringat chat dari Anggara sore tadi. Vanessa dan Bintang hanya terdiam dan bingung.

"Kalian berdua mau nginep disini? "
Ucap Elin yang menengok dari depan pintu ruang medik. Vanessa dan Bintang saling bertatapan. Vanessa langsung menggelengkan kepalanya beda dengan Bintang yang malah mengangguk-angguk.

"Dasar buaya" Ucap Vanessa yang kesal dengan Bintang. Vanessa beranjak keluar dari ruangan menyusul Elin begitu juga Bintang.

"Eh kalian berdua mau nggak aku anter, ini udah malam lo, nggak baik pulang sendirian."Ajak Bintang sembari berjalan mengimbangi Vanessa dan Elin.

Vanessa dan Elin menghentikan langkahnya secara tiba-tiba dan menatap sinis ke Bintang.

"A... Ada apa? " Ucap Bintang kebingungan

"Kita ini Berdua ya, Lu aja yang sendiri" Ucap Vanessa dan Elin secara bersamaan

Vanessa dan Elin langsung berlari meninggalkan Bintang sendirian.
Bintang masih diam ditempat dan tersenyum kecil.

"Duarrrr"

Suara benda jatuh di ruangan samping Bintang membuatnya terkejut dan langsung berlari ketakutan.

"Ness....., Lin..... "

*********

"Gw duluan ya Ness"

"Eh bentar Lin" Ujar Vanessa sembari menarik tangan Elin

"Ada apa? "

"Lu tadi lihat apa di gudang? "

"Oh tadi? Gapapa Ness mungkin gw kecapean. "

Vanessa terdiam kebingungan lalu Elin melepas tangan nya dari genggaman Vanessa.

"Gw duluan ya, gw udah ada janji nih sama Anggara"

Vanessa masih terdiam bisu seribu bahasa.

"Hoi..... " Teriak Elin di kuping Vanessa

"Iya-iya gw denger lu ngomong apa. Yaudah ati-ati dijalan , kalo ada apa-apa di jalan langsung hubungi gw ya"

"Bye, sahabat terbaikku" Ucap Elin diikuti dengan lambaian tangannya.

Vanessa dan Elin berpisah jalur, Dengan 2 abang ojol yang sudah menunggu mereka.

Ditengah perjalanan pulang Vanessa terus kepikiran tentang kejadian di kampus tadi. Ia bingung kenapa Elin sampai seperti itu kalau dia tidak melihat apapun.

"Ngelamun aja neng dari tadi" Ucap abang ojol mematahkan lamunan Vanessa.

"Eh iya bang, maklum lagi banyak tugas kuliah. " Vanessa tertawa kecil.

"Bukan soal setan ya? "

Vanessa yang kaget mendengar itu perlahan memindah tatapan nya ke spion motor yang langsung mengarah ke wajah abang ojol.

"Aaaaaaaaaaaa" Teriak Vanessa yang tersedak kaget karena melihat wajah abang ojol yang hancur dan berlumuran darah.

Abang ojol itu langsung menghentikan motornya secara mendadak.

"Kenapa neng? "

Vanessa perlahan membuka mata dan menoleh ke abang ojol tsb.

"Kenapa neng? Kayak habis lihat setan aja? "

Vanessa langsung menyentuh pundak abang ojol dan mengelusnya sampai telapak tangan nya.

"Jangan disini atuh neng kalau mau ehm ehm , malu atuh rame"

Vanessa yang kesal dengan spontan menyeblakkan tangannya ke lengan si abang ojol.

"Jangan macem-macam ya, gw cuma mastiin lu manusia asli"

"Heleh, cewek emang malu-malu kucing" Umpat abang ojol pelan diikuti ketawa kecil.

"Ngomong apa lu bang? Coba sekali lagi"

"Eh... Nggak kok neng gapapa"

"Terus ngapain masih berhenti disini? "

"Oh ya lupa neng, maaf. " Ucap abang ojol yang langsung menjalankan motornya lagi.

******

"Makasih ya neng" Ucap abang ojol yang mengantar dan meninggal kan vanessa di depan rumahnya.

Vanessa langsung masuk ke dalam rumah .

"Dari mana aja kamu? "

"Kampus lah, ada urusan penting tadi"

"Jam segini baru pulang dari kampus? " Ucap Marko(Papa Vanessa) dengan nada tinggi.

"Papa kenapa sih ? urus noh kerjaan, ngapain juga pulang ke rumah"

Vanessa mempercepat langkah menuju kamarnya.

"Ness......Ah sial"

Duarrr (Vanessa membanting pintu kamarnya) .

Tok... Tok... Tok....

"Siapa?" Teriak Vanessa dari dalam

"Ini Papa, papa udah siapin surprise buat kamu,kemaren ulang tahun kamu kan?
maaf kemaren papa nggak bisa pulang karena ada meeting dadakan , papa tahu papa salah, tapi terserah kalau kamu marah sama papa, tapi asal kamu tahu , papa kerja bukan untuk papa sendiri tapi untuk keluarga kita"

"Keluarga Papa bilang? "

"Keluarga apa? Setiap hari papa sibuk kerja, papa sadar nggak selain kehilangan mama, papa udah kehilangan aku sejak lama" Teriak Vanessa dari dalam kamar nya

"Kenapa setiap ada masalah kamu selalu bawa-bawa mama. Kamu bukan anak kecil lagi Ness biarin mama mu tenang di sana. Ini masalah kita, mikir dulu sebelum kamu bicara, sudah 10 tahun lebih semenjak kejadian itu, kamu masih belum bisa ikhlas juga? Gimana mama bisa tenang? Kamu mau seperti ini terus" Ucap Marko yang kesal karena kata-kata anaknya.

"Bawa-bawa mama? Papa lucu ya. Papa bisa ikhlas karena dulu papa nggak pernah ada di posisi Vanessa. Coba aja dulu papa yang loncat pasti aku ikhlas. Biar mama aja yang hidup"

"Tutup mulutmu dan chamkan ini baik-baik. " Ucap Marko kesal dan menggedor-gedor pintu kamar Vanessa.

"Aku ini papamu, jangan pernah melewati batasan mu bicara"

Duaarrrrr. Marko menggedor pintu kamar Vanessa dengan sangat keras dan beranjak pergi dari depan kamar Vanessa.

"Ini bi, kasih ke anak yang nggak tau diri itu. Sesekali ajari dia bicara sopan pada orang tuanya."

Pak Marko menyerahkan kue yang dari tadi dipegangnya ke bi Laksmi yang sedari tadi melihatnya dari sudut ruangan.

Bersambung
Boleh dong Vote nya kalau suka.
Hatur Nuhun yang sudah baca.

The Midnight GameTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang