Raihan POV
Katakan ini hanyalah mimpi, aku yang sudah berharap banyak dan sudah lama menantikan saat ini harus menelan kekecewaan mendengar ucapan yang tak seharusnya keluar dari mulut wanita yang kucintai. Aku tahu ini semua bukanlah maunya apalagi mauku, namun aku tak mengerti dengan jalan pikirannya. Setidaknya berilah aku kesempatan untuk memperjuangkannya, memperjuangkan cinta dan kebahagian kami. Tapi apa yang terjadi, Dia malah menangis dan memohon agar aku menikahi adiknya, dengan alasan adiknya lebih membutuhkanku. Bukannya aku tak peduli dengan keadaan Diza tapi apa harus sampai mengorbankan perasaan dan harapan kami yang sudah lama kami pendam.
Setelah pembicaraan kami beberapa hari lalu, aku selalu dibayang-bayangi suara tangisnya. Aku tak sanggup bila mengingat wajah memelasnya yang memohon agar aku bersedia menikahi adiknya, ini sama artinya dengan menyerah sebelum berperang bukan?
Nadira, Jika boleh memilih aku lebih memilih untuk tidak pernah mengenalmu daripada aku harus melupakanmu.
Saat sedang merenung dibalkon kamarku sambil memandangi langit gelap yang malam ini tanpa bintang, ponselku berdering. Kulihat ada pesan masuk dari Diza.
Mas lagi apa? Sibuk ya? Kok ngga pernah angkat teleponku? Smsku yang kemarin-kemarin juga ngga dibales. Apa aku ada salah sama Mas? Mas marah sama aku?
Aku yang salah, perhatian yang selama beberapa bulan ini aku curahkan untuknya ternyata malah membuatnya salah paham dan membuatnya terlanjur bergantung padaku. Sejak mengetahui kalau orangtuaku telah melamar Diza ke om Wira langsung aku memang tak sekalipun membalas pesan singkatnya, teleponnya selalu kualihkan. Apalagi setelah aku mendengar ucapan Dira hari itu, aku melampiaskan kekesalanku pada Diza dengan mengabaikan semua telepon dan pesannya. Aku tahu tak seharusnya aku marah pada Diza, dia tidak bersalah dalam hal ini karena dia memang tidak tahu menahu mengenai kisah aku dengan kakaknya, mengenai perasaan yang dia miliki terhadapku seperti apa yang dibilang oleh Dira juga bukanlah salahnya karena cinta datang tanpa rencana. Ini sudah takdir, dan takdirku bukanlah bersama Nadira. Tapi kenapa sulit sekali menerimanya padahal orangtuaku begitu yakin aku bisa bahagia bersama Diza. Kalau kalian menganggap ketidaksetujuanku dengan rencana ini adalah karena Diza yang sudah tidak perawan lagi, itu salah besar. Aku tidak pernah mempermasalahkan hal itu, Diza bukanlah seorang pelacur. Dia hanyalah korban dari kebejatan pria bajingan itu.
"Ray, kamu belum tidur sayang?" Tanya mama saat menghampiriku di balkon.
Aku menoleh kearahnya, tidak terkejut karena wanita yang sudah melahirkanku itu memang biasa keluar masuk kamarku sesuka hatinya meski saat remaja aku pernah memprotes kebiasaannya itu tapi mama tak menggubrisnya.
"Yang besok mau lamaran, kok melamun sih? Santai ajah sayang, ini kan bukan akad nikah."
Aku menatap mama, aku tahu dia menyayangiku dan kalau saja dia tahu yang sebenarnya dia pasti akan lebih mementingkan perasaanku ketimbang rasa sukanya terhadap Diza, gadis yang langsung mencuri hatinya karena mama begitu mendambakan seorang putri yang tidak bisa dia miliki karena rahimnya yang lemah dan mengalami beberapa kali keguguran. Hingga akhirnya harus diangkat demi keselamatan mama.
"Kamu pasti bertanya-tanya kenapa kami lebih memilih Diza bukan Dira." Tebak mama tepat sasaran, aku memang penasaran apa yang membuat mama begitu yakin dengan pilihannya.
"Nadira gadis yang baik dan kuat, berbeda dengan Gadiza yang menurut mama rapuh. Dua kali mengalami kasus pelecehan cukup membuat jiwanya terguncang, belum lagi masa kecilnya yang sudah diwarnai kesedihan karena ditinggal ibu kandungnya untuk selamanya seperti apa yang dikatakan om Wira. Dan mama lihat keadaanya jauh lebih baik setelah dekat dengan kamu. Sejak pertama kali kamu ajak diza main kerumah, mama langsung suka dan berharap dia berjodoh denganmu dan ternyata itu semua hampir menjadi kenyataan." Ujar mama begitu sumringah yang membuatku tersenyum kecil.

KAMU SEDANG MEMBACA
Gadiza
Randomkeputusan Ayah untuk menikah lagi setelah bunda meninggal memberi kesan kalau dia sudah tidak menyayangiku lagi sebagai putrinya. Kakak perempuan yang kuharapkan bisa menjadi tempatku berbagi pun mengkhianatiku, dia menerima dengan senang hati kehad...