Under Series -3

6.8K 1K 92
                                        

Scene terakhir...

"Halo, Sir. Kenapa menelepon malam sekali?"

'Aku akan menjemputmu jam delapan pagi, jangan membuatku menunggu lama.'

Belum sempat menjawab, sambungan sudah terputus. Hasa mengerutkan keningnya. Kenapa bisa ada orang seperti Jeon Jungkook ya?

So, enjoy it~(Jangan lupa vote dan berikan komentar yaaa)
___________________________



Hasa memasang kacamata hitamnya saat pintu mobil dibuka. Ia keluar dan langsung diterpa oleh angin yang cukup kencang. Jungkook berjalan lebih dulu ke arah private jet yang sudah terparkir tidak jauh dari mereka. Gadis itu berjalan dengan cepat dan menaiki tangga.

Setelah masuk ke dalam jet, ia bisa melihat Taehyung duduk bersama seorang gadis dan terlihat dekat. Buktinya gadis itu memeluk lengannya sambil tertawa. Oh, bukan urusannya, pikir Hasa.

"Nona Han yang terhormat akhirnya bisa ikut dengan kita" kata Jimin ketika Hasa melewatinya. Sama saja, ada seorang gadis di samping pria itu, tapi mereka cukup berjarak, mungkin hanya Taehyung saja yang berengsek. Sama seperti alasannya meninggalkan pria itu.

"Kau bisa pilih tempat dudukmu" ujar Jungkook saat ia mulai duduk. Hasa menatap bingung.

"Kita tidak duduk berdua?" tanya Hasa. Jungkook menghela nafas dan memilih memakai airpods. Gadis itu merotasikan mata dan duduk tidak jauh dari pria itu, lebih tepatnya bersebrangan, kanan dan kiri.

Suara pemberitahuan bahwa jet akan lepas landas mulai terdengar. Hasa menatap ke arah jendela. Dalam hatinya senang bisa ikut dengan Jungkook, namun di satu sisi juga dia merasa tidak diinginkan siapa-siapa. Semoga saja itu hanya perasaan belaka.

Hasa bukan tipikal orang yang mudah akrab dengan orang asing. Maka ketika ia memilih untuk akrab dengan Jungkook, itu artinya ia sudah membuka tembok tingginya. Dan, semoga tidak sia-sia, Hasa benci salah mengira.

"Apa ada yang ingin Anda pesan, Nyonya?" tanya seorang pramugari dan Hasa mengangguk. Sebuah buku menu ditaruh dengan sopan di depannya.

"Wine saja."

"Untuk jenisnya, Nyonya?"

"Wine Merlot."

"Akan segera diantarkan."

Tidak lama dari proses memesan, satu botol wine yang sudah dibuka ada di depan Hasa. Ia bahkan sudah menegak seperempat isinya. Wajah gadis itu sedikit memerah, tapi dia tidak mabuk, toleransi alkohol Hasa sangat tinggi.

"Mau ku temani?" tanya seseorang dan Hasa tidak perlu menoleh untuk tau siapa si pemilik suara.

Jimin duduk di depannya, pria itu meminta satu gelas kosong ke arah pramugari, dan ikut menikmati wine bersama Hasa yang menatap risih ke arahnya.

"Kenapa kau ke sini?" tanya gadis itu tidak suka. Tapi aslinya dia merasa senang karena tidak sendirian lagi, tapi secara keseluruhan Hasa suka sendirian.

"Minum," jawab Jimin singkat.

"Terserah."

Pria itu tertawa. Jimin mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Itu sapu tangan, dengan gerakan pasti, tangannya terjulur dan mengusap sudut bibir Hasa. Gadis itu tidak marah atau menolak, ekspresinya saja masih datar.

"Kau bisa panggil aku kalau butuh teman. Dan, partnerku namanya Nara, dia gadis yang baik. Kalau dirimu berpikir aku sembarang menyentuhnya, itu tidak benar. Aku berengsek, tapi bukan berarti bodoh."

"Aku tidak bertanya," saut Hasa.

"Aku bercerita."

"Berapa lama penerbangan ini?" tanya Hasa tanpa melihat ke arah si lawan bicara. Jimin tersenyum lalu kembali menegak wine itu.

Under Shades ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang