11

1.2K 168 4
                                        

Sudah saatnya Naruto bangun dari mimpi bodohnya.

Anak itu melihat ke sekeliling dengan raut tak percaya. Ia menatap dramatis ke arah mahasiswa-mahasiswi yang tak menggunakan pakaian putih-hitam---senior di jurusan mereka. Kepalanya bergeleng pelan.

"Apa yang kau pikirkan?" Kiba menyenggol Naruto yang terpaku di sampingnya. "Kenapa? Kau masih terkejut dengan gedung perkuliahan jurusan kita? Hei, ini bukan pertama kalinya kau melihat gedung besar. Jangan membuat malu."

"Kau tahu, apa yang membuatku ingin kuliah?" tanya Naruto tanpa melunturkan raut tak percaya di wajahnya. "Ibuku bilang, orang-orang di kota, terutama para pelajar dan mahasiswa sangatlah menawan. Mereka semua rapi, bersih, dan bertubuh seksi. Masing-masing membawa mobil sendiri atau terkadang membawa helikopter. Mereka kaya, mereka luar biasa."

"Bukankah kau sudah tahu kenyataannya sejak datang ke sini pertama kali?"

Naruto menoleh ke arah Kiba dengan sangat cepat. Kiba hampir berteriak histeris karena mengira leher Naruto akan patah.

"Kau tahu ... aku sudah sangat kecewa saat melihat teman-teman seangkatan kita, tetapi aku masih ingin mengampuni semesta karena berharap lebih pada kakak-kakak tingkat kita." Naruto menarik napas dalam-dalam, lalu membuang pandangan kembali ke depan. "Dan kau lihat sendiri apa yang ada di hadapan kita."

Beberapa kakak tingkat perempuan duduk berdempetan di bangku seperti sedang duduk di dalam bus. Rambut warna-warni seperti kepala mereka baru saja disiram cat---Naruto tidak sadar rambutnya juga sama saja dengan mereka. Mata segaris, pipi tembam, tubuh gempal. Saling rebutan satu bungkus keripik kentang memaki satu sama lain. Bertingkah layaknya anak sekolah dasar yang tidak tahu apa pun selain bersenang-senang.

Di sekitar mereka sama saja. Ada yang sedang bercermin sambil menebalkan gincu yang warnanya sangat menyilaukan---merah muda super terang. Ada yang sedang berjongkok sambil menjaili seekor kodok. Ada yang melakukan ... senam? Dance? Atraksi monyet sirkus? Naruto tak begitu yakin apa yang disaksikannya sekarang.

Rasa malu mulai menggerogoti jiwanya. Baru tadi malam Naruto berkoar-koar di hadapan Sasuke tentang dirinya yang akan bertemu dengan para senior seksi dan akan memacari salah satu atau beberapa dari mereka. Pantas saja semalam Sasuke cuma tersenyum miring dan menyuruh Naruto untuk makan ramen instan super pedas agar kantuknya hilang. Rupanya Naruto memang bermimpi dalam keadaan bangun.

"Aishhh! Rasanya aku ingin pergi ke Pluto saja."

Kiba terbahak-bahak di samping Naruto. Ia bahkan sampai bertepuk tangan, mengapresiasi ketololan sang sahabat yang dipancarkan dengan begitu tulusnya.

Waktu memang berlalu, tetapi kebodohan Uzumaki Naruto akan tetap abadi.

"Apakah menjadi bodoh adalah bakatmu?"

"Diam kau!" Naruto menggerutu sambil memalingkan wajah.

"Uzumaki Naruto ...?"

"APA LAGI---ah ...."

Kaki Naruto seperti kehilangan tulang di kakinya. Terlalu terkejut sampai rasanya akan jatuh di tempat. Matanya membelalak, terlihat terlalu terkejut dengan seseorang dengan pakaian rapi yang berdiri di samping Kiba.

"Ah, ternyata itu kau." Laki-laki itu tersenyum tipis sambil menurunkan masker yang menutupi separuh wajah. Jemari menyugar poni yang jatuh di dahi sebelum menyapa dengan ramah, "Akhirnya kita bisa bertemu lagi, Naru-chan."

ngebutTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang