21

1.2K 125 4
                                        

Sesuai dengan apa yang Sasuke dan Karin sepakati, tak ada hal berlebihan yang terjadi di antara Sasuke dan Naruto. Sasuke sendiri juga akhir-akhir ini menjadi lebih sibuk dari biasanya, sehingga tak punya cukup waktu untuk bersua dengan Naruto yang tak lagi tinggal bersamanya.

Kini, mereka hanya bisa bertemu saat malam hari tiba. Sasuke akan mencuri kesempatan untuk pergi menemui Naruto, mengajak bocah itu pergi makan malam. Benar-benar hanya makan malam, tak ada apa pun yang Sasuke lakukan lebih dari itu.

Naruto jadi mulai menganggap kalau sebenarnya Sasuke tidak tertarik padanya. Mungkin laki-laki itu hanya butuh teman makan malam.

"Sasuke tak melakukan 'sesuatu' padamu di belakangku, bukan?"

Naruto berhenti mengeringkan rambut dengan handuk. Diliriknya Karin yang sedang berbaring di sofa dengan pakaian kerjanya.

"Kau pasti akan mengunyah bosmu kalau dia berani menyentuhku," jawab Naruto malas. Ia berjalan ke kamar, mengganti pakaian rumahnya dengan kaos hitam yang dilapisi jaket jeans dan juga celana jeans.

"Hm, benar. Aku hanya mengizinkannya mendekatimu demi kenaikan haji, jadi kau sendiri yang harus memproteksi diri." Karin mendudukkan badan, melirik Naruto yang sudah terlihat rapi. "Aku sudah mengenal Sasuke sejak kecil, tapi selalu gagal memahami jalan pikirannya. Entah dia mendekatimu karena tertarik, atau hanya ingin bermain-main, atau ada maksud terselubung, kita tak tahu. Tetap waspada dan jangan terbuai."

Naruto mendengkus sembari mengorek kupingnya dengan kelingking. "Kau terdengar seperti nenek-nenek."

Bugh!

"ANAK SETAN!"

"ARGH! KENAPA KAU MELEMPARKU DENGAN BANTAL?!" Naruto menggeram, lalu meraih ponsel di kantong jaket. Ia berkaca di layar ponsel sembari menggerutu, "Rambutku jadi berantakan sekarang, padahal sudah rapi tadi. Dasar, nenek sihir!"

"Rapi apanya, disisir atau tidak pun rambutmu akan selalu seperti pohon beringin," ledek Karin sambil memeletkan lidah. "Lagipula, apa gunanya merapikan rambut malam-malam begini? Tak ada gunanya."

Naruto melirik Karin, begitu pun Karin balik melirik Naruto. Saling menatap selama hampir semenit, Karin pun mengangguk patah-patah.

"Aaa ... makan malam, ya."

Naruto abai, memutuskan untuk segera pergi dari sana. Ia sudah akan menutup pintu saat Karin berteriak dari tempatnya.

"JAGA DIRIMU! JANGAN SAMPAI JATUH PADA BAJINGAN ITU!"

Blam!

●-●-●-●-●-●-●

Naruto pikir, kalau Karin benar-benar peduli padanya, seharusnya perempuan itu tak pernah mempertemukan dirinya dengan Sasuke. Seharusnya sejak awal mereka tak pernah bertemu, jika akhirnya mereka harus terjebak dalam hubungan aneh ini.

Akan tetapi, Karin juga bukan dewa atau semacamnya. Perempuan itu tak bisa memprediksi masa depan. Akhirnya, Naruto yang harus menanggung semua.

Naruto akhirnya harus menanggung beban perasaan Sasuke dan perasaannya sendiri.

"Tadi kau bilang lapar, kenapa kita malah ke sini?"

Aneh memang. Hari sudah malam, dan waktu menunjukkan pukul sembilan malam saat Naruto berangkat dari apartemen. Entah sekarang sudah jam berapa, tetapi yang pasti, sekarang bukanlah waktu yang cocok untuk pergi ke pantai. Selain karena dingin, digigit agas bukanlah hal yang menarik dan patut dicoba.

"Kupikir kita perlu meluruskan satu hal."

Sasuke menoleh. "Hn?"

"Apa yang membuatmu mendekatiku?"

"Bukankah sudah pernah kukatakan tentang itu?"

Naruto memejamkan matanya. "Sialan ... SIALAAAN!!!"

"Kecilkan suaramu!"

"KENAPA?! INI PANTAI, TAKKAN ADA YANG MEMARAHIKU KALAU AKU BERTERIAK DI SINI!"

"..."

"M-maaf ...." Naruto menciut sendiri setelah mendapati Sasuke sedang menatap datar ke arahnya. Ia memalingkan wajah, menatap ke arah ombak yang bergulung tenang. "Aku ingin mengatakan sesuatu."

"Hn."

"Sebenarnya ...." Naruto menjeda cukup lama, kemudian mengacak rambutnya sendiri. "Aish!!! Ini bahkan lebih sulit daripada tugas yang diberikan oleh dosen killer!"

"Apa yang ingin kau katakan?"

"Aku tak bisa mengatakannya!"

"Kenapa tidak bi---"

Sasuke tak sempat menyelesaikan ucapannya. Ia mematung di tempat, seakan dibekukan secara tiba-tiba. Matanya membelalak, tak percaya dengan apa yang terjadi.

Naruto baru saja menciumnya.



END



a/n: WKWKWKW ending yang sangat dipaksakan tetapi aku juga udah nda kuat lagi. Ntar masih ada epilog. Anjim.

ngebutTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang