Headache

220 34 5
                                        

Wira merintih kesakitan di bawah kungkungan Caca, "Arghh.. udah, Ca! Udah!"

Caca lalu lepasin kunciannya ke Wira. Dan mereka berdua jatuh rebahan terlentang di atas alas matras biru di bawah mereka.

"Gue gatau Kak.. lo ganteng-ganteng jago juga ternyata. Walaupun lebih jago gue, sih."

"Mana ada hubungannya sih ganteng sama jago?"

"Ada lah. Jadi essay kalo gue jelasin. Gue jelasin sekalian apa? Ehm.. ehm.. cek suara dulu gue ya, mau pidato.. cek cek 1.. 2.. 3.."

"Aduh aduh mendadak kuping gue ada suara ngiiing.."

"Heh? Dipikir gue sound rusak apa?!"

"Lo sendiri ya yang bilang?"

Mereka berdua akhirnya tertawa bersama menanggapi candaan mereka itu. Battle judo sore hari ini sebenarnya tidak terlalu melelahkan karena Wira dan Caca tidak benar-benar seratus persen menggunakan tenaga mereka. Mereka harus menyimpan energi mereka untuk pertandingan yang sesungguhnya minggu depan. Setelah mereka rasa istirahatnya cukup, mereka berdua langsung ganti pakaian dan bersiap buat pulang.

Wira yang sudah selesai duluan menunggu Caca di depan sanggar, dia melihat jam tangannya beberapa kali tapi Caca belum keluar juga. Akhirnya dia berinisiatif untuk kembali ke dalam dan memeriksa Caca.

Wira terkejut saat ia melihat Caca yang sudah ganti baju, sekarang duduk berjongkok dan mukanya terlihat menahan tangis. Wira mendekat ikut berjongkok dan menatap mata Caca yang terlihat berkaca-kaca.

"Huee.. Kak Wira.. gue benci sama dia! Benci banget!"

"Siapa? Benci... siapa?"

Caca nunjuk sesuatu yang ada di atas tasnya. Seekor kecoa yang tidak terlalu besar. Wira berkedip sebentar melihat itu, lalu tawanya lepas begitu saja tanpa bisa ditahan.

"Kok lo ketawa sih, Kak?! Usirin dong!"

"Hahah.. iyaa, iyaaa!"

Wira berdiri dan Caca bersembunyi di balik badannya. Tidak lama kemudian Wira berhasil mengusir kecoa itu dan mengembalikan tas Caca ke pemiliknya. Wira terlihat sedang gemas pada gadis di sampingnya, karena sekarang Caca sedang memejamkan mata tidak berani melihat.

"Udah, heh! Ini tas lo."

Caca membuka matanya pelan-pelan, lalu mengambil tasnya begitu saja dari Wira.

"Ngapain sih merem segala?"

"Kalo gue lihatin biasanya dia nanti terbang ke arah gue!"

"Oh... ehh ada lagi di bahu lo!!"

"Huaaaa Mamaaaa!"

Wira tertawa dengan puas melihat respon Caca yang langsung memejamkan mata dan tidak berani bergerak sama sekali. Mendengar Wira yang tertawa, Caca tau jika dia sedang dikerjai oleh Wira, hal itu jelas saja membuat si gadis langsung murka.

"KAK WIRAAA GUE BANTING LO YA!!"

"Uluh.. uluh... mau banting katanya.."

Wira mengacak rambut Caca lalu dia berlari sebelum benar-benar dibanting oleh Caca.

.
.

"Abis diapain lo sama Wira?"

Brian terlihat mengerutkan dahinya saat melihat Caca, dia tidak paham kenapa Caca dari jauh datang ke arahnya sambil memasang muka sebal. Hari ini mereka berniat pergi mencari sesuatu, tapi Brian masih menunggu Caca yang berniat ingin sparring dulu dengan Wira di sanggar.

ForelsketTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang