Toko Kue

235 34 3
                                        

Keseharian Kirana mulai berjalan seperti sebelumnya. Ia kembali akrab dengan sahabat-sahabatnya. Alena, Caca dan Dan memang yang terbaik, meskipun Kirana menjauh beberapa waktu lalu, mereka tetap baik dan menerima gadis itu kembali. Alena dan Surya juga sudah tidak terlihat sering bertemu di sekolah. Kakak Kirana itu juga sudah terlihat kembali seperti biasa.

"Aku pulang.. Abang! Di manaa? Kiran bawain bakso titipan Abang, nih?"

Sesampainya di rumah, ia mencari keberadaan sang kakak. Tapi yang ia temukan hanyalah beberapa buku dan ponsel Surya di meja pantry. Ponselnya menyala menandakan kakaknya baru saja meninggalkan ponsel itu.

Perlahan Kirana berjalan mendekati meja, sehingga ia bisa melihat layar ponsel Surya dengan jelas. Ia tau sebenarnya ini tidak boleh ia lakukan, namun ia terlanjur penasaran. Kemudian dilihatnya layar ponsel itu menampilkan beberapa foto makanan.. dan sebuah potret seorang gadis. Kirana menyipitkan matanya, lalu tangannya meraih ponsel itu, dan terkejut saat ia melihat dengan jelas ada beberapa foto di ponsel itu.

Dari foto-foto itu, Kirana bisa menarik kesimpulan jika Alena dan Surya sempat masih berhubungan diam-diam selama ini. "Ini.. ini Alena... sama Abang? Mereka jadian?"

Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka. Kirana segera meletakkan ponsel itu ke tempat semula dan berpura-pura mengambil mangkok untuk menuangkan baksonya.

"Udah pulang, Ran? Sorry Abang gak denger, abis dari kamar mandi."

Kirana hanya diam lalu menyodorkan mangkok ke kakaknya. Surya tersenyum melihatnya, "Wah, makasih. Tadi Abang mau beli sendiri di depan, tapi lupa ingetnya baru pas sampe rumah."

Namun Kirana hanya bergumam sekilas untuk menanggapinya. Setelah itu ia pergi begitu saja dari hadapan Surya, "Lho nggak makan bareng? Abang makan sendiri, nih?"

"Enggak, Abang aja. Kiran langsung ke kamar ya," pamit gadis itu kemudian.

Entah lah, namun Kirana hanya merasa kecewa mengetahui fakta itu. Ia kecewa Surya kembali menyembunyikan sesuatu darinya, tapi di sisi lain ia juga mulai merasa khawatir jika ia akan menghalangi kebahagiaan kakaknya. Tapu bagaimana pun, Kirana masih belum rela.

.
.
.


"ALENAA!!"

Kirana membeku seketika, ia berusaha mencerna apa yang sedang terjadi dihadapannya. Jaevan dan kakaknya langsung berlari ke arah Alena saat melihat sahabatnya itu limbung di lapangan sekolah.

Semua orang tau jika ada raut kekhawatiran di wajah dua orang itu, termasuk Kirana yang melihatnya dengan jelas. Di otaknya terdapat banyak sekali pertanyaan,

'Kak Jaevan sama Alena saling kenal?'

'Abang beneran suka ya sama Alena? Sebegitu sukanya?'

'Pasti selama ini Alena menjauh dari Abang karena udah tau gue adiknya Abang, kan?' dan masih banyak lagi pertanyaan yang bercampur di pikirannya.

Lamunan Kirana tentang apa yang terjadi beberapa saat yang lalu, seketika buyar karena ada seseorang yg menyodorkan sepiring cake di mejanya. Setelah kejadian siang itu, ia memilih untuk tidak langsung pulang, ia mampir ke mini cafe di dekat sekolahnya untuk menetralkan pikiran. Lagipula ia masih malas bertemu Surya di rumah.

"Makan, tuh. Harus dicobain cheesecake di sini." Brian duduk di samping Kirana setelah menyodorkan cake yang dipesannya tadi.

Namun Kirana masih saja diam, membuat Brian menghembuskan nafasnya pelan. "Mikirin kejadian di lapangan basket tadi, ya?" tanya Brian kemudian.

Kirana mengangkat kepalanya, menatap Brian dengan tatapan terkejut. Ia baru saja berpikir jika orang di hadapannya ini memang tau segala tentangnya, seakan ia bisa membaca pikirannya.

ForelsketTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang