"Sesuatu yang di paksakan emang nggak akan berdampak baik.
Cobalah beradaptasi dengan keadaan yang ada. Akal sehatmu akan menerimanya."
-Erik Paling Tampan Sedunia-
***
"Bang, nasi goring satu. Yang pedes."
"Oke dek."
Di lagit aku tak melihat bulan, mungkin terhalang bangunan-bangunan tinggi di sepanjang gang .Udara malam ini pun terasa lebih dingin dari hari-hari sebelumnya. Itu sebabnya malam ini aku memutuskan untuk mengenakan hodie. Tapi siapa kira, tubuhku justru terasa panas.
TUNG TUNG!
Notivikasi ponselku berbunyi. Aku segera merogohnya dari saku celana yang amat longgar—khas celana training pendek. Ternyata Lili barus aja memosting foto bersama teman-temannya di pelataran sebuah kedai. Aku tak tahu itu di mana, tapi ini sudah terlalu lama sejak dia berangkat jam 03.20. Sedangkan sekarang sudah pukul 19.15.
Aku merasa gusar. Seharusnya aku menanti pesananku sambil menikmati suasana tenang malam ini. Tapi tidak, rasanya seperti sudah berjam-jam aku membuang-buang waktuku dengan duduk di kursi plastik abang nasi goreng. Hari ini dia memasak terlalu lama. Jika saja mama tidak menginap di rumah sakit hari ini, mungkin aku tidak usah repot-repot membeli makan di luar. Aku rasa hari ini sedikit sial.
"Ini dek nasi gorengnya, sepuluh ribu."
"Alhamdulillah. Makasih bang."Akhirnya siap. Aku segera beranjak dari kursi dan memberikan uang pas supaya tidak usah menunggu uang kembalian lagi.
Kakiku berayun secepat yang ku bisa. Rumahku tidak begitu jauh dari sini, agak berlari pun tidak akan membuang banyak tenaga bagi pemuda sepertiku. Untung saja jalanan tidak begitu ramai kendaraan lewat. Mungkin karena dekat dengan perumahan, jarang orang luar berkepentingan di sekitar sini.
Aku akan memilih jalan memutar melewati rumah Lili. Memang akan lebih jauh, aku hanya ingin memastikan apakah dia sudah pulang atau belum. Jika ibunya pulang lebih dulu darinya mungkin aku masih bisa menolongnya mencari alasan supaya kemarahan ibunya tidak meledak. Tapi jika ibunya tidak pulang lagi, mungkin nasi goreng ini bisa membantu. Nafsu makan Lili begitu besar .Mengingat saat dia merasa lapar saja sudah membuatku ingin tertawa.
***
Seperti yang biasa ia kenakan saat bepergian. Celana jeans dan atasan kemeja motif dengan rambut di kuncir kuda. Lili sedang melambaikan tangan kearah mobil di jalanan depan rumahnya. Dan kemudian mobil itu berlalu perlahan tanpa meninggalkan asap pekat khas mobil tua. Aku langsung berlari menghampirinya sebelum dia masuk ke dalam rumah.
"Li!" Yang ku panggil menoleh. Sama sepertiku, Lili nampak begitu berkeringat. Tangannya langsung menarikku untuk segera duduk di tangga teras depan rumahnya. Tangan Lili terasa dingin seperti lantai yang tengah ku duduki ini.
"Untung kamu kesini Pan. Tadi aku takut, langsung pulan deh."
"Emangnya kenapa? " Jawabku ringan. Nampaknya ibu Lili belum pulang, atau lebih tepatnya tidak pulang. Aku sendiri juga hanya menduga saja . Tapi yang pasti rumah Lili nampak sepi dan tidak ada tanda-tanda mobil terparkir di dalam garasi.
"Kamu inget aku pernah cerita soal nomor yang neror aku itu? Dia tadi telpon aku. Dia ketawa gak jelas gitu terus bilang "rumah" . Ya, aku takutnya kan rumah ini bakal di rampok terus ada pembunuhan kayak di film-film gitu. Untung aja rumahnya kosong."
Lili bercerita sambil melihat kesetiap sudut rumah dan sekali-kali tangannya mempraktikkan yang di ucapkan. Aku hanya menanggapinya dengan anggukan. Benar seperti dugaanku, ibunya tidak ada di rumah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lili
Teen FictionVanezi Nataliliana, itu aku. Sebagai anak yang hanya tinggal bersama Ibu aku menjadi anak penurut. Ayah? Ayah dan kakakku pergi sejak orang tuaku memutuskan untuk berpisah. Dengan sehari hari yang menjadi pribadi kurang rajin. Topan selalu membantu...
