13. Realization

1.9K 326 36
                                        

Kantor tempat Levi bekerja ternyata berada di dekat pusat kota Mitras dan cukup jauh dari asramaku. Perjalanan ke sana membutuhkan waktu sekitar setengah jam bila kondisi jalanan sedang padat. Sesuai dugaan, bangunan kantor tersebut termasuk dalam kategori besar, menjulang tinggi ketika aku berdiri di trotoar. Keraguan sebenarnya masih terasa di dalam dada. Berbagai pemikiran negatif pun kembali berputar di kepala.

Bagaimana jika kedatanganku justru membuat Levi terganggu? Bagaimana kalau ia terlalu sibuk dan terpaksa harus mengusirku?

Semua pemikiran tersebut tidak dapat kusingkirkan begitu saja. Bahkan saat aku harus berhadapan dengan resepsionis di lobi, kepalaku masih bekerja, mencari alasan negatif lainnya.

"Selamat malam. Ada yang bisa saya bantu?"

Aku berdeham pelan. Sekilas melirik tanda nama yang melekat di bagian dada kiri wanita tersebut. Ilse Langnar.

"Uhm... ya. Saya ingin bertemu dengan Levi," jawabku sembari berusaha memberikan senyum terbaik.

Senyum ramah yang terlihat di wajah Ilse, mendadak menghilang begitu saja. Ia menggeleng pelan. "Maaf. Apakah Anda sudah membuat janji?"

Janji? Apakah menanyakan alamat tempat Levi bekerja sudah termasuk membuat janji?

"Y-Ya, sudah," dustaku dengan suara sedikit bergetar. Kegelisahan perlahan mulai hadir. "Saya sudah membuat j-janji dengan Levi."

Sejenak, Ilse hanya diam. Ia memandangku dari ujung kepala hingga kaki. Sebelum menatap lurus, tepat di mataku, seolah berusaha mencari kebohongan. Pada akhirnya, ia segera menunduk dan terdengar bunyi ketukan keyboard.

"Baik. Maaf jika saya sedikit lancang, tapi dengan siapa saya bicara?"

"U-Uhm, Eren. Eren Jeager."

Bunyi ketukan keyboard terdengar lagi. Detik berikutnya, Ilse kembali menatap ke arahku. Kali ini disertai dengan senyum kecil dan gelengan lemah. "Mohon maaf, tapi tidak ada nama Anda di buku tamu."

"E-Eh? Jadi... saya tidak bisa bertemu dengan Levi?"

Lagi, Ilse menggeleng. "Tidak bisa. Semua tamu harus membuat janji maksimal tiga hari sebelumnya."

"Oh... begitu...," ucapku lirih lalu menunduk. Mengamati tas kecil yang sedari tadi aku jinjing dengan tangan kanan. Seolah sadar dengan arah pandanganku, Ilse juga ikut menunduk. "Aku... hanya ingin memberikan kejutan makan malam untuknya."

Bayangan menikmati makan malam bersama dengan Levi perlahan pudar. Nyatanya, kehadiranku di kantor ini justru ditolak oleh resepsionis karena tidak membuat janji terlebih dahulu. Rasa menyesal tiba-tiba hadir. Jika saja aku mengaku kepada Levi tentang rencana ini. Mungkin ia akan memberitahu Ilse sebelum aku datang.

Pada akhirnya aku mengangkat wajah dan memberikan senyum kecil kepada wanita berambut hitam tersebut. "Terima kasih, Ilse-san. Mungkin aku akan datang lain wak—

"Sebentar," potongnya lalu meraih gagang telepon di meja resepsionis. Ia melirik ke arahku lalu tersenyum misterius. "Rico-san? Ada tamu untuk Levi-san... Oh? Begitukah?... Uhm, atas nama Eren Jeager..."

Aku terdiam dengan jantung berdebar. Mengapa Ilse tiba-tiba berubah pikiran? Bukankah aku tidak boleh masuk jika belum membuat janji? Semua terasa ganjil saat wanita itu kembali menatap ke arahku lalu mengucapkan sesuatu dengan suara lirih. Seolah tidak ingin membuatku mendengar pembicaraannya dengan seseorang bernama Rico.

Beberapa menit kemudian Ilse sudah menutup telepon. Wanita bermata cerah itu mengulum senyum yang terlihat sangat berbeda. "Maaf membuat Anda menunggu lama. Silakan gunakan lift di sebelah kanan untuk ke lantai sembilan. Rico-san akan menjemput Anda di sana."

When We Meet [Rivaere]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang