Terungkap💥

111 14 3
                                    

Di pesantren ini, mengaji diadakan sebanyak empat kali, yaitu ba'da Shubuh, ba'da dzuhur, ba'da Asar dan Ba'da Isya.

Dan sekarang sudah pukul 12.30 WIB. Semua santri langsung bergegas mengambil buku dan Alqur'an dan memasuki ruang belajarnya masing-masing

"Sekarang jadwalnya Ustadzah Tsumayyah, ya?" tanya Rumi di perjalanan menuju kelas

"Na'am, dan aku akan curhat banyaaakk banget sama beliau" Sambung Alisa "Pokoknya aku akan ceritain semua tentang si Oo itu!" lanjutnya

Medina hanya menggelengkan kepala saja.
Ummunya adalah seorang guru yang siap menerima curhatan murid yang bermacam-macam itu, yaa kalau di sekolah formal bisa disebut juga dengan guru Bk.

Jadi, nanti semua keluhan itu akan beliau jawab langsung atau ditampung dulu, dan pelajaran Ustadzah Tsumayyah ini sangat ditunggu-tunggu sekali oleh smua santri, karena mereka dapat saling mengobrol, bertukar fikiran, curhat tentang masalah dan yang laimnya, namun sayangnya pelajaran ini hanya ada dalam satu bulan sekali.

Setelah semua santri duduk rapi, Ustadzah Tsumayyah pun memasuki ruang kelas dengan memakai gamis longgar berwarna hujau tua dan kerudung selutut berwarna hitam pekat. Dia nampak cantik dan awet muda dengan kacamata Minusnya

Setelah semua santri menjawab salamnya, Ustadzah Tsumayyah pun langsung berbicara dengan lantang kepada semua santri

"Sekarang, saya tidak akan membiarkan kalian semua berbicara, karena kalau seperti itu suka tidak kondusif"

"Maksud saya misalkan bulan kemarin Rifal yang curhat dan banyak masalah, terus semua orang ikut menanggapi, sementara yang lainnya harus saya tumpuk untuk dibahas selanjutnya, terus belum lagi dari kelas lain."

"Saya juga manusia biasa dan saya juga tidak mau membiarkan masalah kalian membesar, saya hanya ingin berusaha membantu jika kalian tidak keberatan, kalian faham kan maksud ibu?"

"Faham buuu"

"Yasudah, sekarang siapa saja yang mau curhat?" Tanya Ustdzh Tsumayyah sembari duduk di kursinya

Sepuluh dari sekian banyak penduduk keas sepuluh mengacungkan tangannya, termasuk Medina

"Kakak?" tanya ustzh Tsumayyah pelan, mengapa putrinya mengacungkan tangan? Ada masalah apa dia? Biasanya kan selalu bicara, dan tidak sampai dibawa-bawa ke kelas.

Medina hanya menjawab pertanyaan singkat itu dengan senyuman

"Yasudah cuman sepuluh orang yang angkat tangan, berarti yang lainnya baik-baik saja ya? Maksud saya setiap manusia pasti punya masalah, tapi masalah kalian masih bisa kalian atasi sendiri, begitu?"

"Alhamdulillah ustadzahhh"

"Sok yang sepuluh orang, silahkan curhatkan isi hati kalian ke dalam untaian kata, kemudian di kedepankan, kalau ibu bisa jawab sekarang, ibu akan jawab dan jangan lupa dikasih nama, tapi kalau yang gak mau namanya disebutkan, dikasih tanda cakra di bawahnya, faham?"

"Fahamm"

Mereka pun memulai menulis apa yang mereka rasakan saat ini.

Lima menit kemudian...

"Sudah beres? Yang sudah boleh di kedepankam"

Setelah tumpukkan kertas itu berada didepannya, Ustadzah Tsumayyah langsung membaca lembar demi lembar kertas itu, dan tak sengaja dia membuka kertas milik Medina

Ummu, Apakah Aku boleh pacaran? Aku mencintai salah satu santri dikelas ini, tapi   aku malu untuk bicara ke ummu,

Ustadzah Tsumayyah pun langsung mengerutkan Alisnya, "yasudah ibu akan tampung dulu kertasnya, sebenarnya masalah-masalah ini sangat gampang sekali untuk dikasih solusi, tapi ibu ada pekerjaan mendadak, jadi See you next time, Assalamualaikum Warahmatullahi wabarakaatuh" ucap Ustadzah Tsumayyah meninggalkan kelas itu

Cinta dan Luka (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang