"Apa arti teman bagimu? Bagiku mereka seperti sebagian jiwa yang menjadi sosok berbeda dengan pemikiran dan pemahaman yang sama denganku. Terkadang teman lebih mengerti daripada saudara sendiri."
- Anindya Puriandini
🍀🍀🍀
BobaMoza siang ini cukup lengang. Hujan mengguyur sejak pagi dan baru reda ketika jam sudah menunjuk angka 12. Anindya mengetuk-ngetuk jarinya di meja kasir. Kedua matanya menatap pada kalender meja. Ada bulatan di angka 9 September. Dan itu artinya hanya seminggu lagi.
Di hari tersebut, Anindya diminta untuk datang ke acara wisudanya Aldyo. Ini permintaan yang Aldyo katakan tempo hari ketika mereka pergi bersama. Anindya tidak bisa menolak karena merasa berterima kasih sudah diajak keluar saat itu. Sekarang dia bingung.
Baru terpikir jika nanti Anindya pergi, itu artinya dia akan bertemu dengan keluarga Aldyo. Dan seperti yang pernah pemuda itu katakan akan memperkenalkannya sebagai calon saat bertemu dengan orang tuanya.
"Lo ngitungin siklus bulanan?"
Ini adalah celetukan Gangga. Dia berdiri di belakang Anindya. Entah sejak kapan pemuda 20 tahun ini sudah berada di sana.
Anindya berbalik. "Gue heran. Kenapa lo selalu kepo urusan gue? Lo suka kan sama gue?"
Tebakan Anindya sudah berhasil membuat Gangga memalingkan wajahnya. "Kalaupun iya. Lo akan enggak akan pernah peka."
Seketika itu tawa Anindya pecah. "Ganggara. Lo ngerepin apa dari cewek macem gue? Mending lo pilih tuh salah satu pengunjung kita. Ntar gue yang comblangin."
Gangga mencebik. "Kagak. Gue masih bisa pilih sendiri. Betewe, sampai kapan lo mau diem-dieman sama Kak Aeri?"
Tawa Anindya langsung hilang. "Bukan urusan lo." Dia langsung berbalik lagi.
"Enggak baik lo terus-terusan kayak gini. Bikin suasana berasa aneh kalau kalian ngumpul bareng," ucap Gangga.
Anindya berbalik kembali. Kedua matanya mentap tajam Gangga. "Lo bisa diem enggak. Itu urusan gue. Enggak usah ikut campur!"
Sinyal bahaya seakan terdengar di telinga Gangga. Dia langsung mundur beberapa langkah serta mengangkat kedua tangannya di depan dada. Jangan sampai kalender di dekat mesin kasir melayang ke wajahnya.
Tiba-tiba dari arah pintu masuk datang Cia yang langsung berteriak, "Hi everybody. I'm coming."
Suara Cia yang nyaring membuat para pengunjung kafe melihat padanya. Namun, remaja 17 tahun itu tidak mengacuhkannya. Dia berjalan langsung menuju meja kasir.
"Kak Piyur. Gue ngutang dulu dong. Dua boba sama kuenya juga. Anterin ke sana," kata Cia. Tanpa menunggu jawaban Anindya, dia pun segera menuju temoat angels berkumpul.
Sementara itu Anindya masih bengong. Lalu, keluarlah omelannya. Namun, tak urung juga dia mengantarkan pesanan dari member termuda Secret Angels ini.
"Lo bolos?"
"Yeu, enak aja. Mana ada muka gue potongan tukang bolos." Cia tidak terima dikatakan bolos sekolah. "Gurunya rapat. Jadi dibubabarin."
"Oh, kirain. Abisnya jam segini udah keluyuran."
Anindya duduk di samping Cia yang sedng sibuk makan kue. Remja itu begitu lahap. Tidak sampai lima menit satu potong kue sudah habis. Boba pun sudah tinggal setengah.
"Lo laper. Apa doyan?" tanya Anindya. Dia takjub melihat Cia yang mengunyah begitu cepat.
Cia tidak menjawab. Dia masih sibuk mengunyah kuenya yang kedua. Perutnya memang lapar. Pagi tadi tidak sempat sarapan.
KAMU SEDANG MEMBACA
ENCHANTED
RomanceRencana pernikahannya yang gagal membuat Anindya terpaksa menjual gaun pengantinnya. Namun ternyata pembelinya itu Aldyo, mantan pacarnya sewaktu SMA. Anindya mulai goyah dengan kehadiran Aldyo. Melupakan luka lamanya. Dan saat hatinya kian mantap...
