Hari ini adalah hari terakhir dari serangkaian acara perlombaan dalam rangka mempetingati HUT sekolah. Semua siswa-siswi berbaris dan berkumpul di lapangan, karena seperti tahun-tahun sebelumnya, hari terakhir selain dilakukan penutupan juga dilakukan pengumuman juara lomba internal.
Seminggu lebih sudah berlalu dari kejadian tribun siang itu. Selama seminggu ini semuanya berjalan baik-baik saja. Ya ... setidaknya begitu yang ada dipikiran Jungwon.
Cowok manis itu menatap ke arah lapangan, sedikit harus berjinjit karena dia ada di barisan belakang dan tubuhnya tergolong mungil. Sunoo di sebelahnya tak henti bergerak gelisah, terkadang memainkan jari-jarinya sampai lompat-lompat kecil tidak jelas.
"Noo, bisa diem gak?" protes Ni-Ki yang berada di barisan belakang mereka.
"Gak. Gue gugup setengah mati."
"Tingkah lo kaya udah yakin banget kelas kita mau menang."
"Ya emang lo gak yakin?!"
"Biasa aja."
Sunoo spontan menendang tulang kering Ni-Ki membuat cowok itu mengaduh kesakitan.
"Lo bar-bar banget sih? Sakit tau!"
"Gue gak suka punya temen yang pesimis. Jadi maaf aja ya." Sunoo memalingkan wajahnya angkuh.
"Oh! Awas aja ya lo besok kalo butuh sama gue!"
"Won lo denger gak? Kayak ada yang marah-marah tapi kok gak keliatan ya?" Sunoo melirik ke arah Ni-Ki.
"Wah! Bener-bener ya lo! Tau gini pas dulu abis bakar-bakar di rumah Jungwon gue gelindingin lo dari lantai atas."
Jungwon berdecak melihat tingkah kedua temannya yang dimanapun dan kapanpun pasti selalu berdebat.
"Kalian bisa berhenti dulu gak? Dari tadi kita diliatin terus sama kelas lain tau."
Sunoo dan Ni-Ki melihat sekitar. Benar. Beberapa siswa terutama yang berada tepat di barisan sebelah kanan dan kiri mereka menatap ke arah mereka tidak suka. Keduanya langsung terdiam dan fokus ke depan.
Pengumuman juara dimulai ketika kepala sekolah selesai melakukan sambutan. Sunghoon dan beberapa anggota osis lain langsung maju ke depan ketika kepala sekolah turun dari mimbar. Dari seluruh rangkaian lomba, ada dua yang paling ditunggu-tunggu yaitu putra-putri Cendekia dan Cendekia Got Talent.
Kalau putra-putri Cendekia, benefit-nya setahun ke depan mereka yang menang akan menjadi duta sekolah. Sangat bagus untuk menaikkan popularitas dan tentu saja mengambil hati guru-guru yang seringkali berdampak pada nilai. Sedangkan Cendekia Got Talent, tidak lain karena hadiahnya yang paling besar.
"Won, tolong gue deg-degan banget!" Sunoo menggenggam sebelah tangan Jungwon erat.
"Belum tentu kelas kita menang, Noo."
"Lo kok jadi pesimis kayak yang di belakang juga sih? Gue tau lo pesimis sama hubungan lo dan Kak Jay, tapi jangan pesimis di segala hal dong." Sunoo bersungut-sungut.
"Noo!" Ni-Ki memperingatkannya dari belakang bahwa apa yang dia katakan sedikit kelewatan.
"Maaf, Won. Gue gak ada maksud buat ..."
"Gak papa."
Setelahnya tidak ada lagi yang berbicara. Ni-Ki menendang kecil Sunoo dari belakang. Bodoh sekali sahabatnya itu, setelah beberapa waktu lalu membuat keributan, kini malah dirinya dengan bodohnya mengatakan hal seperti itu.
"Won, lo marah?"
"Marah aja, Won. Temen gak tau diri emang dia." sahut Ni-Ki dari belakang.
"Gak, Noo. Santai aja." Jungwon tersenyum, "Tuh abis ini Cendekia Got Talent diumumin." Jungwon berusaha mengalihkan pembicaraan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Every (Little) Thing ; Jaywon ✔
Fiksi Penggemar[Jaywon version] - Sometimes, every little thing means everything for somenone - [Disclaimer] BxB! Jaywon x another cast Homophobic not suggested to read this story! 15+ Contain harsh words! Diharapkan bijak dalam membaca. Published : 22 September...
