Jung Hoseok memainkan beberapa peran dalam hidupnya untuk mengurus adik kembar sebagai warisan mutlak dari orangtuanya.
[ᴊᴀɴɢᴀɴ ᴅɪʙᴏꜱᴇɴ-ʙᴏꜱᴇɴɪɴ]
June, 9/2019.
Cover by dorablehook.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Biar gk marah, aku kasih 7 bujangku dulu. 😅
••••
Seperti biasa Jeon Hoseok terbangun tepat pukul 7. Kakinya melangkah santai bersamaan dengan rambut yang masih berantakan dan mencuat ke atas ikut bergoyang, menguap lebar sesekali ketika menuruni tangga. Tungkainya berbelok kebagian rumah sayap kiri, berpikir kalau sikat gigi dan mencuci muka sudah cukup, mengingat musim gugur suhu bumi mengalami penurunan—begitu yang dia dengar dalam siaran warta kemarin sore pun notifikasi ponsel yang meramalkan cuaca cukup meyakinkan.
Kakinya berhenti melangkah ketika tangan hendak memutar pintu kamar mandi, kepalanya celingukan bersamaan dengan hidung yang mengerut, membau, bergerak kanan-kiri memastikan kalau aroma rumah tidak seperti biasanya. Setidaknya selama hampir setengah tahun mendekap di rumah warisan mendiang kakek, dia tidak pernah mencium bau yang sebegini mengganggu— ya, kecuali sepasang kaus kaki si bungsu Jeon yang lupa dia cuci berakhir berbau tak sedap— seingatnya dia rajin mengisi pengharum ruangan dengan aroma lavender, tetapi kali ini kasusnya beda lagi-ini-sangat-bau- pemuda itu berkeliling pada setiap sudut kemudian menemukan satu benda sepanjang ibu jari berwarna gelap berbau menyengat... ini mirip tahi kucing, tetapi, siapa yang melakukannya?
Seingatnya kedua Jeon bungsu hanya memelihara sepasang ikan bernama Pippi dan Poppo, itupun tinggal satu, kemarin usai disemayamkan dekat pohon apel. Kemudian esok harinya Yuan dan Jungkook penasaran lalu membongkar kembali kuburan yang sudah di buat dan hasilnya kosong, keduanya berpikir kalau malaikat baik sudah mengambil Pippi, padahal mayat Pippi sudah di bawa gerombolan semut.
"Meong."
Hoseok terperanjat kaget melihat obsidian mungil yang bersembunyi di balik kardus lusuh, sangat bau dan kotor, bawah kardus sudah basah, sepertinya dia kencing dan tanpa bertanya pada seluruh warga di Geochanggun pun dia tahu siapa pelaku kejahatan yang sudah membuat hidung Hoseok tersiksa— si kembar Jeon.
●●●●
Satu jam kemudian Hoseok mulai bersiap untuk menyiapkan sarapan. Mengingat tinghal di Desa dengan suhu rendah dengan tingkat kelaparan yang tinggi membuat dia terbiasa sarapan dengan menu berat. Sandwich tidaklah cukup, karena beberapa menit kemudian dia bisa memastikan perutnya akan keroncongan lagi. Itu sudah menjadi hukum alam di mana suhu menurun maka perut pun jarang bertahan lama hingga menunggu waktu siang. Maka dari itu sulung Jeon ini memasak soondubujigae dengan beberapa menu lain sebagai camilan setelah makan nanti, mengiris buah apel menjadi potongan kecil guna memudahkan kedua adiknya ketika memakannya. Setidaknya harus manis-manis dulu sebelum mengintrograsi kekacauan yang susah payah ia bereskan, termasuk membuang tahi kucing.