19. Perisai Lotus

866 162 75
                                        

Tandai Typo.

3 semprul pemburu ikan ajaib.

....

"Yuan noona, panggil begitu dulu."

Jungkook mengerutkan bibir, malas sekali rasanya kalau Yuan sudah bertingkah menyebalkan. Padahal hanya ingin seekor capung yang hinggap pada tetumbuhan liar. Capungnya warna merah—capung langka menurutnya—baru ditemui antara tiga capung yang asik terbang di atas kepala; warnanya cantik. Dia jadi suka, tidak seperti capung pada biasanya yang berwarna hijau atau orange kecoklatan.

"Yuan noona, Kookie mau capung itu," Katanya dengan malas.

Kalau saja dia bisa menagkap capung itu seperti yang Yuan lakukan pada capung lain —sudah dia tangkap dengan tangan kosong lalu di masukkan dalam kandang, ada tiga capung dengan sayap kusut—Jungkook tidak akan merajuk begini. Sayang, dia terlalu ganteng untuk menangkap capung. Begini, dia sempat ingin menangkap capung, tetapi baru satu langkah capungnya sudah terbang, tidak tahu kenapa. Sempat berasumsi begini : Mungkin tidak kuat melihat kegantengan Kookie.

Yuan tersenyum lebar, menggulung kaus panjang sampai sikut, menarik tangan si bungsu, mengajaknya bersembunyi di balik semak belukar. Gadis cilik ini memiliki nyali besar (seperti laki-laki). Ramutnya di kucir satu menambah kesan garang terlebih ketika matanya itu menajam. Dia menempatkan jari telunjuk pada bibir; memberi isyarat.

Jungkook hanya mengangguk, matanya tatap takut-takut ketika Yuan mulai mengendap-endap (mirip maling curi garam di warung). Ketika tangan itu hampir menjapit ekor capung hewan itu terbang hinggap pada tumbuhan lain tangannya terlalu pendek untuk menjangkau tersebut, kemudian Yuan mengambil satu langkah lagi.

Jungkook menakup kedua tangan, disimpan di dada seraya berdoa. Tetapi, ketika mata bulatnya bersua, capung itu terbang dengan cepat berikut suara yang ia tangkap: jeritan Yuan. Jungkook keluar dari persembunyian, mulutnya menganga, detik berikutnya menangis ketika melihat tubuh si kakak menggelepar tak berdaya. Seharusnyan dia mendengar apa yang kakaknya pesan bahwasannya struktur tanah di bukit tidak rata.

Kepalanya berbantalkan batu, kakinya tersangkut akar pohon. Jungkook menangis kencang; berteriak, "HYUNG!"

•••

"Hyung, kenapa kita tidak ikut ke bukit?" Taehyung berujar sendu. Ia lihat lagi kail pancing yang di pasang Namjoon. Kailnya tertancap pada celah kayu dermaga, sudah hampir satu jam diam di sana tidak ada ikan yang mau memakan umpan mereka. "dari tadi kita mancing tidak dapat-dapat."

Ini pertanyaan ke-sekian yang Taehyung lontarkan. Namjoon kembali pandang bukit itu sebentar sebelum tersenyum ke arah adiknya dengan tulus. "Nanti Taetae tidak kuat kalau ke sana, hyung tidak mau gendong."

Taehyung cemberut, topinya merahnya dilepas lalu kedua tangannya disimpan pada pinggang. "Taehyungie kuat kok. Kemarin saja bantu Mama angkat jemuran, keranjangnya dibawa sama Taetae, isinya tiga baju. Naik tangga pula, kuat tau!"

"Iya, jagoan. Tapi, bukit itu tinggi, nanti kalau Taetae pegal-pegal siapa yang pijat?" Katanya sembari terkekeh.

"Namjoonie hyung,"

"Hyung juga pegal-pegal kalau naik bukit, siapa yang pijat?"

Taehyung menghembus napas, tangannya meraih bahu Namjoon. Kebetulan pria itu tengah duduk di dermaga jadi Taehyung mudah meraih pundaknya. Menempel seperti Koala. "Taetae, jadi kita saling pijat," katanya di barengi tawa renyah.

Namjoon hanya mengangguk, fokusnya kembali pada ikan-ikan kecil di bawah air jernih. Suara burung terdengar kentara sekali bersahutan dengan suara kambing di ujung sungai tengah memakan rerumputan—tepatnya di ladang yang ditumbuhi tumbuhan liar. Beberapa pohon prem tertanam di sana beraksen buah-buah setengah matang, di sisi kanal tertanam lima buah pohon gino berjajar rapi, berikut sayuran hijau yang tertutup plastic mulas dan tiga petak dari sebrang sungai padi-padi mulai menguning; siap panen.

Hoseok's Homework [END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang