14. Gara-gara Namjoonie

1.1K 199 82
                                        

Kookie peluk Chuwey

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kookie peluk Chuwey

Tandai typo.

....

Musim panas, lembab, bau tanah dan air alami yang orang-orang sebut jangnam.

Istilah Jangnam bisa dibilang hujan di musim panas sebagai salah satu ciri yang signifikan mengenai fenomena alam tersebut. Biasanya para petani senang akan hal itu karena membantu proses penumbuhan padi di ladang mereka sedangkan para petani sayur agak resah karena selain hujan angin kencang siap menjadi pendamping.

Suan mengehentikan para pekerja untuk sementara waktu. Petani berdasi tersebut berkacak pinggang sembari menatap kucuran air yang tertampung dalam kendi, ia menarik napas dalam—padahal hasil panen sudah siap di kirim ke market yang lebih besar selain pasar tradisional, kemarin pria itu sudah mendapatkan surat izin berjual dan wajib pajak di salah satu Mall di pusat kota dengan bantuan Hoseok tentunya. Tahun ini ia cukup berhasil memanen beberapa buah seperti melon, semangka dan persik. Pada musim panas minat masyarakat terhadap buah-buahan tersebut terus meningkat sepanjang musim panas dan harga tentunya relative lebih murah dibandingkan dengan musim-musim sebelumnya.

Suan mengulas senyum saat pegawai barunya datang mendorong gerobak berisikan lima buah semangka. Rambutnya dan wajahnya basah–pemuda itu melupakan topi kerjanaya, padahal Suan sudah ingatkan berkali-kali jangan lupakan sarung tangan, boots dan tutup kepala tentunya–bekerja di ladang tak semudah apa yang dikira.

"Hoseok-ah, kau pulanglah!"

"Tapi hyung, kerjaanku belum selesai."

"Tak apa kita bisa selesaikan setelah hujan reda, kau pulanglah kasihan adik-adikmu."

"Terima kasih, hyung."

"Eh, eh, tungggu sebentar!" Suan merogoh saku celana kerjanya, menarik beberapa lembar uang. "ini gajihmu bulan lalu, maaf terlambat Hoseok-ah." Suan menyimpan uang tersebut ke tangan Hoseok yang berselimut kain kasar dengan senyuman tulus.

Dahi Hoseok menyerit merasa janggal. Kalau diingat lagi ia akan menerima gaji itu dua minggu lagi atau paling cepat satu minggu setelah Suan mendapat hasil dari panennya tahun ini–dan bulan lalu ia sudah mendapat gaji. Hoseok mengangkat wajah, menerima uang itu sedikit ragu, ini bukan gaji buta, kan? "Hyung, bukankah ga–"

"Aigoo...Hoseok-ah, terima kasih sudah bekerja keras, sekarang pulanglah." Suan memotong kalimat Hoseok, matanya melirik para pekerja lain—bukannya pilih-pilih kasih terhadap pekerja lain, tetapi sebagai petani berdasi Suan harus melihat kinerja mereka satu per satu dan Hoseok merupakan pekerja yang sungguh-sungguh dan anti bermalas-malasan seperti pekerja lain padahal usia mereka seumur dengan dirinya para pemuda yang beranjak manula—kembali, ia mendekatkan diri, menepuk-nepuk punggung Hoseok pelan. "Itu bonus," katanya berbisik.

Hoseok's Homework [END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang