08. Pahlawan yang Hilang

1.1K 260 26
                                        

Kemarin Hoseok sudah memutuskan dengan matang akan kepergian pemuda itu ke Seoul. Hoseok sudah menyiapkan dengan mental yang matang mengenai keputusan pemuda tersebut untuk menemui kedua orang tuanya di sisi lain ia juga ingin Jungkook dan Yuan melihat kota tersebut setelah sekian lama.

Pertemuan dengan Sun Jira kemarin cukup membuat hati Hoseok seakan mau lepas, gadis itu masih sama. Jika kalian berpikir Hoseok akan memulai kembali kisahnya bersama Sun Jira––kalian salah besar. Sangat tidak mungkin. Dia itu miskin, para gadis akan berpikir dua kali untuk mendekatinya. Pun kedatangan Shin Ryu Sung yang tak bisa di anggap enteng, dari tatapannya saja Hoseok tahu pria itu memiliki mata licik. Terlepas dari itu Hoseok juga ingin meluruskan semua permasalahan yang ruwet kepada orangtuanya.

Hoseok hampir mati rasanya. Ia tidak menyangka kalau ia merupakan putra dari seorang penjahat. Terlalu banyak. Kalau saja Hoseok menyebutkan satu-satu itu hanya akan membuat dirinya malu. Lebih baik tidak usah.

Sementara itu dua kursi di dekat jendela terisi oleh Jungkook dan Yuan yang masih asik bercengkrama tentang Jimin dengan tulang ikan yang menyangkut di tenggorokan dan ikan ajaib yang Hoseok tak mengerti apa itu. Sangat disayangkan. Saat itu Jimin mencekik leher seperti orang kesurupan terbatu-batuk merasa nyeri, bahkan waktu itu air minum Yuan habis karena Jimin. Tak sampai di situ prihal ikan ajaib pada faktanya adalah seekor ular air.

"Hyungie, masih lama tidak?" Yuan bertanya dengan kaki yang terayun-ayun, si sulung itu terlihat kebosanan.

"Apanya?"

Si mata bulat binar itu kini kembali menatap sang kakak dengan mulut yang sibuk mengunyah camilan. "Kita akan pulang, kan?"

"Kenapa pulang? rumah kita di Geochang."

"Rumah kita yang dulu ke mana memangnya?" Jungkook kembali bertanya.

Mungkin rasa keingin tahuannya begitu besar sampai-sampai membuat Hoseok mengdekik bahu. "Tidak tahu, kebakaran mungkin."

"Mama dan papa di mana?"

Hoseok memasang wajah masam kepada kua anak kecil yang berada di sampinhnya. Entahlah. Ia hanya tidak suka membahas topik yang seperti ini, "Mereka... pergi. Kalian hanya punya Hyung jadi jangan nakal."

Kedua Jeon kecil itu mengangguk meski dalam benak keduanya tidak mengerti apa yang terjadi pada si ramah tersebut.

Biasanya Hoseokkie itu ceria, sering-sering kasih diskon senyuman secerah mentari dan baik hati. "Yuan, kali ini sepertinya Hoseokkie sedang tersengat nyamuk jadi agak sensitif." Jungkook melakukan bisik-bisik tetangga bersama Yuan, gadis itu mengangguk menyetujui gagasan tersebut.

Lain kali sepertinya Yuan akan membelikan obat nyamuk untuk Hyungie, tunggu saja Yuan akan membongkar celengan Kookie. Batin Yuan ikut-ikutan bercokol.

...

"Maaf,"

Satu kata yang terucap di balik dinding berbahan kaca dengan tebal yang kentara. Terdabat lubang-lubang kecil yang terpampang jelas di depan mata guna untuk memperjelas apa yang kedua orang itu katakan.

Hoseok menarik sudut bibir. Sangat tidak percaya. Ia bahkan ingin membunuh dirinya sendiri setelah tahu semua kebenaran yang sayangnya ia tahu dari orang lain. Masih belum percaya. Kecewa, marah, trauma, malu. Semua Hoseok alami. Dan dengan mudahnya kedua orangtuanya hanya mengatakan kata "maaf".

Kata orang semua orang berubah dengan cepat. Seperti sekarang ini, seperti Hoseok yang membenci kedua orangtuanya padahal dulu secuil perhatian dari keduanya membuat Hoseok senang. Namun setelah tahu bahwa kedua orangtunya bekerja mati-matian dengan cara yang tidak logis Hoseok amat benci.

Hoseok's Homework [END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang