Alkisah : Mantra Si Kucing Malas

761 111 46
                                        

Tandai Typo.

OH!

Dan ini kucingnya.

•••••

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

•••••

Yoongi masih ingat beberapa potongan cerita kisah asmara dirinya dan beberapa orang gadis yang ia kencani. Bermula dari awal masuk SMP sampai SMA. Dia itu memang pekerja keras, makanya banyak gadis yang mau. Kesehariannya hanya seputar: tidur, makan, bangun, cuci muka, gosok gigi (tanpa mandi), pergi ke sekolah, main gitar lalu tidur lagi. Siklusnya memang begitu-begitu saja sedari dulu. Akan tetapi, itulah kiat-kiat mendapat aura playboy yang ia miliki.

Dia juga heran sendiri, kenapa banyak gadis yang mau? Padahal kalau ditanya, jawabannya hanya, “Kau itu badboy, aku suka”. Memang, dunia ini sudah gila, sama badboy kok mau.

Hubungan asmaranya tidak berlangsung lama, paling lama bertahan tiga bulan  karena Yoongi ‘tak terlalu peduli akan hal tersebut. Membosankan, diberi pertanyaan yang sama setiap hari, “sudah makan, belum? Makan dulu nanti kau sakit.”, “sudah mandi, belum?”—dalam hati berbisik, dia tidak akan sakit sekalipun tidak makan pun kalau dia belum mandi memangnya mau di mandikan? Hal konyol seperti itu tidak patut untuk dilayangkan padanya.

Hari ini dia pergi mengantar Jimin ke klinik, di suruh ibu. Adiknya susah buang air besar, sudah tidak buang fases selama tiga hari, perut buncitnya jadi semakin bengkak. Sesampainya di klinik, dia menggendong Jimin yang masih berumur 4 tahun. Pipinya masih gembil dengan tattoo bergambar Power Ranger tertempel di sana—hadiah dari permen karet yang dia beli katanya. Mengambil nomor antrian terlebih dulu sebelum duduk di kursi tunggu, tidak banyak pasien yang berkunjung, hanya ada kakek Jeon bersama satu orang wanita hamil. Dia sedikit berbincang bersama kakek Jeon sebelum Jimin mengintrupsi.

“Hyung, perut Jiminie tidak akan dipotong, kan?” tanyanya pelan, masih setia duduk di paha kakaknya.

Yoongi menyeringai tipis, “Hemm… tidak tahu, mungkin iya.”

“Hyung, kalau bohong aku menangis, lho.”

“Yasudah, menangis saja.”

Dan Jimin benar-benar menangis. Yoongi menghela napas, bangkit dari duduk, membawa Jimin ke hallway, menunjukan beberapa trik konyol supaya tangisannya berhenti. Lebih baik kalau tangisannya pelan, ini, mirip deru mesin traktor, sudah cempreng, kencang pula.

“Jim, sudah, ya? Nanti cicaknya keguguran mendengar kau menangis terus,” bujuknya. Yoongi merasa terusik, sedari tadi di lirik oleh beberapa pegawai klinik. Sebenarnya dia tidak perlu susah-susah untuk membujuk Jimin kalau di rumah, karena ibu selalu siap dengan rayuan manis khas miliknya. Ini, di bujuk beli es krim satu truk saja tidak mau. Sebenarnya bukan Jimin tidak mau. Pikirnya, kalau perutnya dipotong tidak akan bisa makan es krim. Jadi, sayang, nanti es krimnya dihabiskan Yoongi, sama seperti nasib Mandoo isi abon sapi miliknya kemarin.

Hoseok's Homework [END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang