Bagian 31 - Menuju akhir

816 80 12
                                        

Sebelum baca aku boleh minta VOTE nya dulu kan? Plis lah jangan jadi silent readers yaa;( hargai hasil karya author:(






Hemm udah vote?













Follow akunku juga boleh heheh, Oke deh happy reading guys!!🥰🥰🥰







*****

Gadis itu menatap ruang ICU dimana ibunya berbaring dirumah sakit selama sebulan penuh, disana terdapat perawat dan dua dokter yang sedang memeriksa kondisi ibundanya dan mulai melepaskan alat bantu yang dipasang pada Se-ri. Sejeong bisa merasakan penderitaan ibunya karena penyakit kronis tersebut, tetapi ia lega sebentar lagi ibunya akan melakukan transplantasi jantung. Dengan baiknya dan berhati malaikat orang tersebut yang Sejeong tidak tahu nama dan wajahnya rela mendonorkan jantung untuk ibunya.

Di lain sisi hatinya juga khawatir, selama beberapa hari ini banyak sekali pikiran yang menghampirinya, terutama mengenai "Apakah ibunya akan selamat?" dan "Bisakah penderitaan yang kami alami berakhir?" Sebenarnya terlalu banyak pikiran negatif yang menghampiri Sejeong, tetapi ia selalu mencoba berpikir bahwa semua akan baik-baik saja, tidak perlu yang dikhawatirkan, kuncinya hanya satu. Percaya.

"Dokter Kim," Panggil Sejeong melihat sang dokter yang menangani ibunya keluar.

Pria tua itu mengangguk, ia melihat jelas kekhawatiran dan rasa penuh harapan didalam mata gadis itu.

"Jangan khawatir, serahkan semuanya pada kami," Ucap sang dokter serius.

Sejeong sedikit lega, ia mencoba tersenyum untuk menenangkan perasaannya.

"Aku akan memberimu waktu untuk bicara dengan ibumu," Ucap dokter Kim.

Sejeong berjalan gontai kearah ibunya yang kini sudah akan dibawa keruang operasi, ia menggenggam erat tangan ibunya dan menangis sesegukan disana, sedangkan Se-ri sang ibu yang belum di bius menyentil dahi Sejeong dengan tangan yang satu.

"Eomma," Rengek Sejeong.

"Dasar anak nakal, cengeng. Berhenti menangis, aku tidak akan mati" Jawab Se-ri.

"Ta-pi—"

"Kau menyumpahi ku mati?!" Tanya Se-ri sarkas, walaupun dalam hati ia susah payah menahan tangisan.

Sejeong menggeleng keras, tentu saja tidak. Ia bahkan selalu pergi ke gereja untuk berdoa untuk keselamatan ibunya.

"Hidup itu tentang bagaimana kau menjalani, kau akan melihat bagaimana manusia terlahir dan mati," Ucap sang ibu.

"Jika aku pergi, aku titip ayahmu padamu, bisa?" Tanya Se-ri.

"Apa maksudmu? Eomma bilang kau tidak akan pergi!" Jawab Sejeong tak terima.

"Tsk. Hanya jaga-jaga," Ucap Se-ri bercanda.

Sejeong tak suka bercandaan ibunya, karena ia maupun ibunya tau resiko jika gagal melakukan transplantasi.

"Aku berjanji akan kembali Kim Sejeong, terima kasih telah menjadi putriku." Ucap Se-ri menyatukan kening putrinya dengan dirinya.

Nafas Sejeong tercekat, ia kembali menangis. Ia harap untuk kali ini rasa sakit akan penderitaan antara dirinya dan ibunya hilang, ia tak ingin kehilangan sosok yang sangat berharga dihidupnya, cukup kenyataan yang menampar keras hidupnya. Tapi tolong jangan ambil kebahagiaan Sejeong satu-satunya, hanya ibu kebahagiaan terakhir Sejeong.

"Aku percaya, aku per—caya kau akan kembali. Eomma," Jawab Sejeong.

Mereka pun terpaksa berpisah untuk sementara waktu, Sejeong menatap kepergian ibunya yang sudah dibawa keruang operasi. Sedangkan Sejeong menegakan kepalanya, ia harus yakin jika dunia itu masih menyayangi Sejeong, orang yang melakukan donor sudah memberi kepercayaan jantung miliknya pada ibunya, Sejeong juga harus percaya pada tenaga medis yang akan menangani Sejeong, dan Sejeong masih memiliki orang yang menyayanginya.

You're Mine. [Complete]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang