Kehebohan yang terjadi saat Chandra kecelakaan sudah berlalu, dan kondisi Chandra pun sudah kembali normal. Terhitung 3 bulan sudah mereka mejalani kehidupan rumah tangga. Tidak mudah memang, tapi mereka bersyukur dapat mempertahankan hubungan yang mereka bangun ini. Sama seperti pasangan pada umumnya, ada masalah-masalah kecil yang mereka alami. Tapi sejauh ini mereka masih bisa mengatasinya.
Masalah status mereka di mata murid sekolah Victoria, mereka dianggap berpacaran. Chandra tak menyangkalnya, karena ia dan Andin memang berpacaran, pacar halal.
Salah satu rutinitas mereka sebelum berangkat sekolah, sarapan. Andin selesai mengoleskan selai kesukaan Chandra pada beberapa lembar roti. Tinggal menunggu Chandra turun saja.
"Maaf, lama. Tadi Raden telfon aku," ucap Chandra yang sudah duduk di kursi yang menghadap pada Andin.
"Loh, ngomongin apa? Emangnya gak bisa diobrolin pas di sekolah?" tanya Andin yang baru saja selesai meminum susu cokelatnya, karena tadi dia sudah sarapan.
"Hm, gak bisa. Dia aja belum tentu bisa nyampe ke sekolah, biasalah. Minta dijemput, katanya motor dia ngadat."
"Oh, ya udah aku berangkat naik taksi aja. Gih sana jemput Raden, kasihan," ucap Andin bangkit dari duduknya hendak berangkat. Dia tahu, daerah perumahan Raden itu susah untuk mencari kendaraan umum ataupun ojek, makannya dia mengalah. Jika memakai mobil, ia tetap tidak bisa ikut menjemput Raden karena dia harus datang ke sekolah tepat waktu. Hari ini dia ada jadwal tes pagi.
"Enggak ah, aku antar kamu dulu baru abis itu jemput si Raden." Chandra yang sudah selesai sarapan langsung menarik Andin keluar dari apartment.
"Ih, nanti kalau bolak-balik kamu bisa telat, By."
"Gak papa, yang penting tetap sekolah. Aku janji, kok, gak akan bolos. Oke?"
"Oke, deh," ucap Andin pasrah. Satu hal dalam diri Chandra yang belum berubah, sifat pemaksanya itu.
Beberapa meter dari gerbang sekolah, Andin turun dari motor Chandra dan berbalik menghadapnya, "Hati-hati di jalan, ya."
"Siap. Kenapa? Bukannya aku udah kasih duit?" tanya Chandra heran melihat Andin menyodorkan telapak tangannya.
"Ih, bukan. Salim," ucap Andin kesal sembari menarik lengan Chandra dan mencium punggung tangannya.
Chandra yang melihat tingkah Andin pun tersenyum bahagia di balik helm-nya. Ah, indahnya memiliki pacar halal. Chandra mengusap surai Andin lembut, mencondongkan tubuhnya ke depan dan berbisik tepat di sebelah kepala Andin, "Semangat belajarnya. Love you dear .... "
Andin masih terpaku di tempatnya, menatap kepergian Chandra yang hendak menjemput Raden. Ah, kenapa semakin hari Chandra semakin manis, sih? Sepertinya Andin kembali jatuh pada pesona seorang Gus Chandra Asdaq, suaminya. Beberapa detik terus ada diposisi yang sama sampai sebuah suara membuatnya tersadar dan menoleh ke samping.
"Heh, ngelamun di jalan. Ayo masuk kelas, keburu Bu Rita dateng."
💮💮💮
"Ayo dong, kita jarang main bareng, loh. Sekali-kali gitu." Dara membujuk kedua sahabatnya itu. Kenapa sih? Diajak main ke mall susahnya minta ampun. Mereka sedang berada di kantin, selesai melakukan tes yang cukup sulit, otak butuh hiburan dan juga perut perlu mendapatkan asupan.
"Hm, aku bisa aja. Berani gak minta izin sama, tuh." Andin menggerakkan dagunya ke depan membuat Dara menolehkan kepalanya ke belakang. Oh, si Chandra.
"Gampang! Bisa banget! Cuma si Chandra ini," ucap Dara menggebu-gebu. Chandra itu lelaki yang tak perlu ditakuti sama sekali, mulut Chandra bolehlah pedas tapi hatinya selembut hello kitty, pasti diizinkan. Begitulah isi pikiran Dara.

KAMU SEDANG MEMBACA
WATER-LILY ✔
Teen Fiction"Kamu bisa menjadi laksana bunga teratai, yang tinggal di air yang kotor namun tetap mengagumkan". -Unknown (to Andin) ______________________________________________________________ Andini, sahabat kecil yang selalu dia jahili. Sahabatnya yang sel...