🌼16. GOSIP PACARAN PADAHAL NIKAHAN🌼

1 1 0
                                    

Andin berjalan menelusuri lorong sekolah menuju kelasnya dengan langkah tergesa. Andin tidak bersama Chandra, katanya dia ada urusan dengan teman-temannya, entahlah apa yang sedang dia lakukan. Selama ia berjalan, terlihat jelas tatapan tidak suka yang mereka layangkan, khususnya kaum hawa. Andin risih, beginilah resikonya jika dia berjalan sendirian di sekolah tanpa sahabatnya. Sebagian besar siswi di SMA Victoria menggilai sosok Chandra. Karena Chandra humoris, lah, ramah dan paling penting, tampan. Ya, walaupun menurut Andin Chandra itu tak terlalu tampan sih, tapi menyebalkan. Dan karena Chandra yang terlihat sangat perhatian padanya, membuat dia dijadikan bahan pelampiasan mereka karena merasa diabaikan oleh Chandra.

Setelah sampai di depan pintu kelas, barulah ia dapat menghela napas lega. Diam sebentar untuk menetralkan detak jantungnya yang tak beraturan, lalu melangkah memasuki kelas dengan senyum di bibir saat matanya dan Azura saling bersitatap.

"Gak bareng Chandra?" tanya Azura saat Andin sampai dan duduk di sebelahnya.

"Dia ada urusan sama temen-temennya. Gak tau tuh ngapain," jawab Andin mengedikkan bahunya.

"Oh, sekarang katanya kelas mereka ada ulangan dadakan dari Pak Irwan."

"Loh? Baru masuk sekolah udah dikasih ulangan? Pantesan di jalan Chandra ngedumel gak jelas," ucap Andin mengingat kelakuan Chandra saat berangkat sekolah. Ngebut-ngebutan di jalan sambil ngedumel gak karuan, untung Andin sabar.

"Namanya juga ulangan dadakan, ya sekarang mereka lagi nyari bocoran ke kelas yang udah pernah ulangan sebelum liburan."

"Kita gak ada ulangan juga 'kan?" tanya Andin yang takut ketinggalan info selama liburan sekolah.

"Ya enggaklah."

💮💮💮

"Mau ke mana?" tanya Andin heran. Tepat setelah bel istirahat berbunyi, Chandra memasuki kelas Andin dan langsung menariknya keluar dari sana.

"Ya ke kantin-lah, Sayang. Nikah 'kan udah, jadi aku gak usah bawa kamu ke KUA lagi," ucap Chandra santai. Mendengar perkataan Chandra, Andin memukul bahunya pelan.

"Ih, ini di sekolah. Kalau ada yang denger gimana?" tanya Andin panik. "Kok gak ajak yang lain juga sih? Main seret-seret aja," protes Andin.

"Gak perlu diajak, Neng. Nanti juga nyamper sendiri." 

"Dih, gila banget. Liat deh mukanya, sok polos. Gak punya malu apa? Jadi orang kok kegatelan banget, gak pernah diajarin apa sama orang tuanya?"

Tiba-tiba Chandra berhenti berjalan dan berbelok mendekati segerombolan siswi yang jaraknya tak jauh dari Chandra dan Andin berada.

"Ngomong apa barusan? Ulangi!" bentak Chandra pada salah satu siswi. Saat sedang berjalan, Chandra tak sengaja mendengar apa yang sedang mereka bicarakan, dan mereka sedang menjelek-jelekkan Andin, Chandra tak suka itu. Orang cantik kok dijelek-jelekin gitu!

"Hah? Ngomong apa? Gak ada tuh," ucap siswi itu berlagak pilon.

"Dih, sok polos! Gue cakar muka lo baru tahu rasa lo! Awas aja, sekali lagi lo ngatain cewek gue, gue gorok muka belang lo itu!" ancam Chandra menunjuk-nunjuk wajah siswi itu.

Sebenarnya Andin pun mendengar apa yang siswi itu katakan, tapi dia mencoba untuk mengacuhkannya. Berjalan mendekati Chandra dan menariknya untuk pergi dari sana, sebelum pergi, Andin menatap siswi itu dengan mata yang sudah berkaca-kaca, "Kak Manda boleh hina aku sepuasnya. Tapi jangan hina keluarga aku, orang tua aku, mereka gak salah."

WATER-LILY ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang