PROMISE VIII

530 58 8
                                        

"Jung Wooyoung apa yang kau lakukan!!" teriak Yeosang disertai semburat malu di wajahnya. Ketika dia membuka mata, Wooyoung tengah memeluknya dengan kaki yang menyilang pada tubuh Yeosang. Yeosang mendorong tubuh Wooyoung keras ke belakang namun sayangnya hal itu tidak mengubah apapun.

Wooyoung menggeliat pelan. Dia membuka perlahan kedua matanya dan mendapati Yeosang telah menatapnya dengan tajam. Yeosang seakan mengutuknya dengan keras kala itu. Wooyoung tersenyum kecil disertai seringaian ketika melihat Yeosang. Yeosang benar-benar menggemaskan pikirnya.

"Oh sudah bangun, ya?" Wooyoung menyapa Yeosang masih dengan posisi yang sama yaitu memeluk erat pria itu.

"Lepaskan Woo-" Wooyoung semakin erat memeluknya. Yeosang berusaha untuk menghindar dengan menendang keras kaki Wooyoung. Namun usaha itu tidak membuahkan hasil apapun sebab pada akhirnya Yeosang hanya akan membuang banyak tenaganya. Dia selalu lupa, bahwa Wooyoung adalah atlet yang mana kekuatannya tidak sebanding dengan Yeosang.

Semilir angin sejuk dan hujan salju mengisi keheningan di antara mereka. Angin menyelinap melewati sela-sela kecil dari jendela tua menerpa wajah kedua insan itu. Keduanya menikmati setiap terpaan angin sejuk yang mengenai wajah mereka, bahkan tidak ada yang memulai untuk bicara. Yeosang juga telah mengendurkan perlawanannya pada Wooyoung.

"Woo-"

"Yeo-"

Mereka mulai berbicara secara bersamaan lalu saling menatap. Wooyoung terkekeh menyadari sikap mereka saat itu. Yeosang menepuk pelan dada Wooyoung ketika dia terkekeh di depan wajahnya.

"Kau duluan" kata Wooyoung.

"Hm maaf soal kemarin" ujar Yeosang mengalihkan pandangannya dari Wooyoung yang tengah menatapnya. Wooyoung menarik wajah Yeosang hingga dia kembali menatap Wooyoung. Kemerahan di wajah Yeosang tidak dapat dia sembunyikan lagi. Dia kembali gagal bersembunyi dari semburat merah itu.

"Kemarin? Kau melakukan apa?" Wooyoung bertanya dengan satu tangan menahan kepalanya. Hal itu semakin memberikan tekanan pada Yeosang.

"Maaf karena perkataanku mungkin menyakitimu tapi-"

Kecupan singkat namun terasa lembut berhasil mendarat di ujung kepala Yeosang. Wooyoung tersenyum hangat pada Yeosang yang masih tidak percaya akan perbuat pria itu. Wooyoung mengelap sisa saliva di kening Yeosang dengan menggunakan ibu jarinya.

"Wooyoung kau sialan!" kata Yeosang menepuk keras dada Wooyoung. Wooyoung tertawa keras melihat tingkah Yeosang yang terlihat malu karena perlakuannya.

"Kau ini lucu, ya. Aku sudah memaafkanmu omong-omong"

"Ciuman itu adalah bukti" Wooyoung mencoba kembali mengganggu Yeosang hingga dia tidak bisa menahan rasa malunya. Saat itu Wooyoung sedang lengah dan Yeosang dengan cepat meninggalkannya sendirian berbaring di atas kasur. Wooyoung berkali-kali memanggil nama Yeosang namun tidak pria itu indahkan. Dia tetap berjalan keluar lalu membanting pintu dengan keras.

Kau menyebalkan, Jung Wooyoung

•••

"Wooyoung! Makananmu datang!" teriak Yeosang dari arah dapur ketika suara bel berbunyi. Yeosang sedang memasak untuk makan malam tapi Wooyoung memesan makanan cepat saji. Wooyoung berlari kecil untuk mengambil makanan itu di luar dan membawanya ke dapur untuk di simpan di sebuah wadah. Yeosang melirik Wooyoung yang sedang memindahkan makanannya ke wadah plastik.

"Kau masak apa?" kata Wooyoung melihat daging dan air yang mendidih di dalam panci. Yeosang seketika menarik rambut Wooyoung keras untuk mendekat ke arah kompor. Wooyoung berteriak kesakitan ketika Yeosang menarik rambutnya.

"Biar aku rebus juga kau di situ. Aku sudah memasak untuk makan malam tapi kau malah memesan makanan" Yeosang semakin menarik rambut Wooyoung mendekat ke arah kompor. Wooyoung berusaha melepaskan genggaman tangan Yeosang dan dia berhasil. Wooyoung mengelus kepalanya yang sakit akibat ditarik oleh Yeosang dengan cukup keras. Dia meringis kesakitan karena rasa perih di bagian kepalanya.

"Aw sakit! Lagipula, aku kan sudah memesan ini sejak 1 jam yang lalu dan kau belum memasak apapun"

"Kenapa tidak bilang padaku kalau begitu?!" mereka mulai berdebat pada malam kini.

"Kau mengunci pintu kamarmu bodoh!" sahut Wooyoung dengan suara yang lebih tinggi dibanding Yeosang.

"Menyebalkan!"

"Kau yang menyebalkan!"

"Kau ingin bertengkar lagi, ya?!" kata Yeosang mendorong dada Wooyoung ke belakang.

"Wah! Kau benar-benar, Kang Yeosang!" 

"Ya sudah ayo makan! Aku membeli untuk 2 orang" sambung Wooyoung sembari mengangkat makanannya. Yeosang terdiam ketika Wooyoung mengangkat 2 porsi ayam saus pedas. Makanan itu adalah kesukaan Yeosang. Dia menelan ludahnya seraya membayangkan rasa dari ayam saus pedas itu.

Wooyoung mematikan kompor sehingga rebusan daging di dalamnya berhenti mendidih. Yeosang merasa heran saat Wooyoung melakukan itu karena dia pikir makanan akan terbuang sia-sia.

"Tapi dagingnya?"

"Nanti kita akan makan itu lagi setelah ini" sahut Wooyoung dan mereka berjalan menuju ruang tengah untuk makan malam bersama. Selain ayam, Wooyoung juga membeli minuman soda untuk penyeimbang lauk dan memberikannya pada Yeosang. Sebetulnya, Yeosang merasa senang bercampur dengan kekesalan karena Wooyoung. Di lain sisi, dia merasa kesal karena hari ini dia tidak memakan masakannya namun di waktu yang sama dia juga ingin memakan ayam saus pedas milik Wooyoung.

"Makanlah, Yeosang" ujar Wooyoung memberikan beberapa potong ayam kepada Yeosang. Dia mengambil potongan ayam itu lalu memakannya dengan lahap. Diam-diam, Wooyoung tersenyum kecil melihat tingkah Yeosang yang begitu bersemangat memakan ayam darinya.

"Kau suka sekali dengan ayam, tapi jarang membelinya secara personal" ucap Wooyoung memecah keheningan di antara mereka.

"Aku hanya berhemat" jawab Yeosang dengan mulut yang penuh dengan daging ayam.

"Telan dulu makananmu" Wooyoung memberikan Yeosang minum.

"Oh ya, apa bulan ini ibu mengirim uang?" Yeosang mengangguk pelan seraya mengunyah makanan di dalam mulutnya. Yeosang benar-benar menikmati makan malam bersama Wooyoung karena hari ini dia memakan makanan kesukaannya.

"Ibu mengirim uang lebih untuk kebutuhan bulanan kita. Aku sudah membeli semua kebutuhan rumah kemarin dan sisanya untuk keperluan tak terduga"

"Keperluan tak terduga? Apa itu?" tanya Wooyoung sembari melahap ayam bagian paha.

"Club sepak bolamu bukankah tidak diberikan secara gratis? Kau lupa ya"

"Masalah club sepak bola, aku-" Yeosang memotong pembicaraan Wooyoung. Dia tau betul bahwa Wooyoung akan membahas teman-temannya yang sudah berbuat hal buruk, lalu pada akhirnya dia akan meminta Yeosang untuk mengerti soal itu.

"Jaga dirimu" Yeosang mengelap sisa bumbu di sudut bibirnya dengan tisu dan melemparnya pelan ke plastik sampah di samping mereka.

"Kalau terjadi suatu hal, kau atasi sendiri. Aku tidak ingin tahu lagi" Yeosang kembali melahap ayam bagian kesukaannya yaitu paha. Wooyoung memutar bola matanya seakan tidak mengindahkan perkataan pria itu.

"Oh! Aku melupakan sesuatu" Yeosang mengangkat satu alisnya ke atas ketika Wooyoung tiba-tiba membahas sesuatu yang lain. Dia menunggu Wooyoung untuk bicara seraya mengoleskan saus pedas pada paha ayam miliknya.

"Aku lupa mengucapkan selamat natal padamu"

"Lalu?"

"Merry Christmas, Yeosang. God bless you"

PROMISETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang