Drrrt... Drrrt...
Sejak satu jam yang lalu Jungkook terus mengabaikan panggilan masuk di telpon nya. Ia meletakan ponsel nya diatas meja. Terlihat di layar beberapa kali menelpon, Lisa, Jieun, dan Jimin. Jungkook hanya melirik nya sekilas lalu mengabaikan nya.
Sebatang rokok tak pernah padam di tangan nya. Saat rokok nya habis ia akan menyalakan satu batang lagi. Sebenarnya Jungkook bukan lah perokok, namun tadi dia meminta kepada salah satu pengunjung cafe itu sebungkus rokok yang sudah tak utuh. Kepulan asap mengepul saat ia meniupkan asap rokok yang telah ia hisap.
"Tolong bawakan satu botol lagi." Jungkook memberikan kode kepada waitress.
Saat ini Jeon Jungkook sedang berada di sebuah cafe yang khusus menjual minuman beralkohol. Tidak terlalu banyak orang yang datang, itu sudah cukup untuk menenangkan pikiran nya yang sedang kacau.
"Aku akan memberitahu mu satu hal yang sangat penting." Teringat kembali ucapan Nayeon beberapa jam lalu.
"Whe... Hiks..." Jungkook menenggak wine satu gelas kecil sekaligus. Mata nya merah karena terlalu banyak menangis.
Jam menunjukan pukul dua belas malam, namun ia tak berencana untuk berhenti. Sekitar enam botol minuman telah terbuka. Bahkan puluhan panggilan telpon dan pesan ia abaikan. Bagaimana Jungkook bisa pulang setelah mengetahui kenyataan terpahit dalam hidup nya?
Sementara itu di rumah keluarga Jeon, Lisa sedang gelisah menunggu kedatangan suami nya. Ia dan Jieun menunggu di living room sambil berusaha menghubungi Jungkook. Ponsel nya aktif tapi Jungkook mengabaikan semua panggilan. Bahkan Lisa sudah menelpon Jimin untuk meminta bantuan nya. Tapi hasil nya nihil, belum ada kabar.
Salah satu pembantu bilang Jungkook buru-buru pergi setelah berbicara dengan Nayeon. Wajahnya terlihat sangat marah. Lalu beberapa puluh menit kemudian Nayeon pun pergi.
"Tidak mungkin Jungkook pergi dengan Nayeon kan ma?" Tanya Lisa.
"Tidak mungkin sayang, mungkin Nayeon sedang pergi mengunjungi Jisoo di rumah sakit." Jawab Jieun. Jieun juga sudah berusaha menghubungi Nayeon namun ponsel nya tidak aktif.
'Apa yang mereka bicarakan? Apa yang Nayeon katakan?' tanya Lisa dalam hati.
"Jim apa sudah ada kabar?" Tanya Lisa kepada Jimin, melalui telpon.
"Belum ada Lis, aku, Jin, dan Hoseok sedang berusaha mencari." Jawab Jimin.
"Bibi bilang Jungkook pergi dalam keadaan marah. Apa kalian sudah mendatangi tempat biasa untuk minum?" Tanya Lisa, insting nya sebagai pengacara selalu ada meskipun dalam keadaan panik.
"Benar, kami akan mencari kesana." Ucap Jimin. Lalu mengakhiri telpon nya.
Jieun menatap Lisa seakan bertanya, bagaimana? Dan Lisa hanya menggeleng.
"Apa mama perlu telpon polisi?" Tanya Jieun.
"Tidak bisa mah, Jungkook sudah dewasa. Butuh waktu dua puluh empat jam agar bisa melapor. Aku pikir Jungkook hanya pergi ke suatu tempat." Jawab Lisa.
Jieun mengangguk.
Krekk. Terdengar seseorang membuka pintu depan, suara sepatu nya berjalan ke arah living room.
Lisa dan Jieun langsung berdiri dan memeriksa siapa yang datang.
Nayeon.
"Adik ipar dan ibu tiri ku sedang apa disini? Menunggu kedatangan ku ya? Hahaha..." Dari cara Nayeon berbicara terlihat wanita itu sedang mabuk. "Aku sangat tersentuh. Hahaha..."

KAMU SEDANG MEMBACA
JEON'S WIFE
FanfictionJeon Jungkook adalah seorang pewaris tunggal Jeons Grup perusaahan yang sangat besar, peringkat sepuluh di Asia. Saat ini dia menjadi CEO di perusahaan yang dimiliki keluarga nya sebanyak 50% itu. Dia telah menikah selama tiga tahun namun sayang ny...