usai pertemuan waktu itu, sudah seminggu seonghwa dan wooyoung tidak bertegur sapa. selama itu pula, wooyoung tidak pernah keluar dan hanya mengurung diri di dalam kamar hotelnya. pemuda itu tidak pernah lagi menelepon ataupun sengaja memanggil seonghwa dengan alasan tidak masuk akal seperti dulu lagi.
dan rasanya, seonghwa pun juga tidak mempunyai alasan untuk menemui pemuda mungil itu lebih dulu. bukan karena ia sama sekali tidak peduli, tapi kesibukan ditambah gengsi yang terlalu tinggi membuat niatnya selalu urung.
baru hari ini, seonghwa kembali melihat wooyoung menampakkan batang hidungnya. ia pun memutuskan untuk menghampiri pemuda bersurai ungu yang sedang menarik kopernya menuju lobby.
"wooyoung-ssi."
deg!
detik itu juga wooyoung merutuk dalam hatinya. ia bisa gila. baru mendengar seonghwa memanggil namanya saja, darahnya langsung berdesir cepat seperti ini.
kegugupan semakin melingkupinya kala seonghwa berjalan menghampirinya namun sebisa mungkin pemuda mungil itu berpura-pura untuk bersikap biasa saja.
"kau habis check-out?" tanya seonghwa.
"begitulah."
"mau kembali ke rumah ...?"
wooyoung tersenyum remeh. "mana mungkin."
"ah, mau pindah ke hotel lain ya ...."
"tidak juga."
"lalu?"
dahi wooyoung berkerut. ia lantas menatap pemuda tinggi di hadapannya dengan pandangan tidak mengerti. "sejak kapan kau jadi banyak tanya seperti ini, tuan park seonghwa?" tanya pemuda bersurai ungu itu dengan nada sindiran yang terselip di setiap kata-katanya.
"ah, maaf kalau kau tidak suka."
wooyoung menghela napasnya kasar. sebenarnya ia tidak ingin mengatakan hal ini tapi entah kenapa kalimat itu keluar begitu saja dari mulutnya. "aku juga tidak tahu harus ke mana."
kali ini gantian seonghwa yang mengerutkan dahinya. "kalau tidak punya tempat tujuan, kenapa kau keluar dari hotel ini?"
"aish, aku sudah tidak punya uang! black card-ku juga diblokir oleh pria sialan itu!" sahut wooyoung emosi sembari menggeram tertahan saat pikirannya tertuju pada pemuda bersurai merah yang berstatus sebagai kakak tirinya itu.
sedetik setelah mengatakan kalimat itu, wooyoung memutuskan untuk beranjak dari situ karena rasa malu melingkupi dirinya.
"tunggu, wooyoung-ssi!"
"apa lagi?" wooyoung terpaksa menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya tanpa mengarahkan pandangannya ke kedua netra seonghwa.
"tertarik untuk menjadi pegawai hotel ini?"
"h-hah?!"
-----
sebenarnya ini adalah situasi yang tidak pernah wooyoung bayangkan sebelumnya. ia berpikir dirinya akan mendapat salah satu posisi terhormat di perusahaan sang ayah, bekerja dengan nyaman dan hidup tanpa kekurangan seperti sebelumnya.
tidak pernah terpikirkan di otaknya kalau ia akan bekerja di hotel iniㅡtempat yang masih menjadi tempat penginapannya beberapa menit yang lalu. ditambah ia pernah membuat keributan dengan berlagak sok berkuasa saat pertama kali datang ke sini.
kalau memikirkan masalah harga diri, wooyoung juga enggan menerima tawaran seonghwa tadi. tapi apakah pemuda itu masih memiliki pilihan lain? dirinya saja hampir tidak punya tempat tinggal sekarang.
"ini seragammu."
wooyoung tersadar dari lamunannya kemudian menerima seragam khas pegawai hotel yang disodorkan oleh seonghwa.
"mulai hari ini sampai beberapa hari ke depan aku akan memberikan training untukmu."
"k-kau yang akan memberikan training?" ulang wooyoung dengan raut wajah yang sedikit terkejut.
memang biasanya manager turun tangan langsung untuk mengajari karyawan baru seperti ini?
"kenapa? tidak suka?"
"t-tidak, bukan begitu," sanggah wooyoung cepat.
"kalau begitu, kita mulai saja sekarang," ucap seonghwa tegas lalu memulai tour-nya diikuti wooyoung yang mengekori langkahnya dari belakang.
"aturan dasar yang harus kau tanamkan saat bekerja di sini. pertama, penampilan. ingatlah untuk selalu berpakaian rapi selama bekerja. kedua, attitude. perlakukan tamu hotel ini sebagai raja, kau harus selalu bersikap ramah dan sopan pada mereka. ah, jangan lupa untuk tersenyum tidak peduli seberapa buruk pun kondisi hatimu saat itu," jelas seonghwa panjang lebar.
"apa-apaan. dia juga tidak pernah tersenyum padaku," gumam wooyoung sambil mencibir pelanㅡmengingat seonghwa tidak pernah bersikap ramah kala ia pertama kali datang sebagai tamu hotel ini.
"apa yang kau katakan barusan?"
"a-aku tidak mengatakan apa-apa!" pemuda mungil itu langsung gelagapan kemudian menundukkan kepalanya takut.
seonghwa menatap wooyoung penuh selidik tapi kemudian ia memutuskan untuk mengabaikannya.
"kulanjutkan. ketiga, gunakan panggilan yang sopan saat kau berbicara denganku dan seluruh staff hotel yang lain. kau mengerti?"
"hm."
"jawab dengan benar."
pemuda bersurai ungu itu mengerucutkan bibirnya kesal sembari menggerutu dalam hati lalu berkata, "baik, pak seonghwa."
kenapa sih seonghwa harus membuat wooyoung bingung dengan sikapnya yang berubah-ubah seperti ini?
pertama kali mengenalnya, sikapnya datar seperti robot, lalu tiba-tiba berubah menjadi peduli, sekarang kembali dingin bak pangeran es.
KAMU SEDANG MEMBACA
bitter sweet; hwawoo [✓]
Fanfictionhidup seonghwa sebagai manager hotel menjadi runyam setelah kedatangan seorang tamu yang memaksa tinggal di kamar vip hotelnya. ㅡ bxb, lowercase, baku ㅡ dom!hwa sub!woo ⚠ li'l bit mature content
![bitter sweet; hwawoo [✓]](https://img.wattpad.com/cover/216824754-64-k929288.jpg)