O9

984 122 23
                                        

makasih banyak buat yang udah komen di chap sebelumnya, seneng banget masih ada yang nungguin cerita ini :")

jadii aku mutusin buat lanjutin pelan-pelan, doain gak mandeg lagi hehe
vote dan komennya okeh!!
enjoy! <3


"kau mabuk, pak?"

seonghwa tersentak. entah magnet apa yang menariknya sedari tadi hingga dirinya tanpa sadar telah berdiri sedekat ini dengan wooyoung.

berdehem guna memecah kecanggungan yang seketika melingkupi, seonghwa lantas memundurkan tubuhnya dan bertanya, "apa maksudmu?"

"kau berkata kalau kau ini straight," cicit wooyoung pelan, nyaris berbisik di akhir kalimatnya.

"o-oh, itu ...." seonghwa membasahi bibirnya sendiri, bingung harus menjawab apa. otaknya seakan tidak bisa diajak kerja sama untuk sekadar melontarkan satu argumen untuk menjelaskan sikapnya tadi.

"kalau begitu, berhentilah membuatku berharap," lanjut pemuda jung itu sambil tertawa hambar.

"wooyoung-ssiㅡ"

"ah! tentang tawaranmu untuk menjadi waiter tadi, kurasa tidak buruk juga."

seonghwa menghela napas lega dalam hati lalu mengulas senyum tipisnya. "baiklah, aku akan mengantarkanmu ke sana besok."

"tidak," potong wooyoung cepat kemudian melanjutkan, "kau bisa memberikan alamatnya saja padaku. aku akan melamar sendiri nanti."
































"yang ini, ya?" monolog wooyoung ketika sampai di sebuah kafe bergaya vintage dengan dekor sederhana yang dari luar saja sudah mampu memberikan kesan aesthetic bagi siapa pun yang melihatnya.

"aurora café." sekali lagi, wooyoung membaca papan nama yang terpajang di depan kafe dan mencocokkannya dengan kertas berisi alamat yang seonghwa berikan padanya kemarin.

setelah dirasa yakin, wooyoung pun masuk ke dalam kafe itu.

"selamat datang."

seorang pemuda tinggi dengan celemek bergambar minion menyapa sambil tersenyum ramah.

"eum ... bolehkah aku berbicara dengan manager kafe ini?" tanya wooyoung.

"tunggu sebentar, ya," balas pemuda itu kemudian memanggil seorang pemuda lain yang tengah duduk di belakang meja kasir dengan kacamata bulat yang bertengger di hidung mancungnya.

"hongjoong hyung!"

kim hongjoong, yang tidak lain dan tidak bukan merupakan manajer sekaligus pemilik kafe ini, menoleh karena merasa namanya dipanggil.

"ada apa, yunho-ya?"

pemuda tinggi tadi, jeong yunho, menjawab, "ada yang ingin bertemu denganmu."

hongjoong pun beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri wooyoung.

"halo." wooyoung membungkukkan badannya sopan pada hongjoong. "kudengar kafe ini sedang membutuhkan seorang waiter, jadi aku datang untuk melamar."

"eh? tapi, kami tidak sedang membuka lowongㅡ" ucapan yunho terpotong karena hongjoong menahan lengannya.

"uhm, iya ... bisa dibilang begitu?" hongjoong tersenyum kikuk sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "siapa namamu?"

"jung wooyoung."

hongjoong mengangguk-anggukkan kepalanya, lantas membatin di dalam hati, benar dia orangnya.

"kapan kau bisa mulai bekerja?"

"eh?" wooyoung sedikit terkejut mendengar pertanyaan hongjoong. jadi, dia diterima tanpa harus melakukan wawancara apa pun?

"aku bisa mulai hari ini," jawab wooyoung.

"ah, benarkah?" wajah hongjoong terlihat sumringah. ia senang melihat pemuda di hadapannya ini memiliki semangat yang tinggi.

"kalau begitu, yunho-ya, tolong kau latih dia."

"eh? aku?" yunho menunjuk dirinya sendiri, tetapi kemudian segera menyanggupinya, "baiklah, hyung."

setelahnya, yunho mengajak wooyoung ke dapur kafe untuk memberikan arahan dasar mengenai cara bersikap sebagai seorang waiter dan tata cara menyajikan hidangan pada pelanggan.

walaupun tak bisa dipungkiri, yunho masih bertanya-tanya di dalam hati, apa gerangan yang membuat atasannya itu dengan mudahnya menerima wooyoung padahal kafe mereka sama sekali tidak membuka lowongan kerja.

sementara itu, hongjoong yang baru saja kembali ke singgasananya segera mengambil ponsel untuk mengabari seseorang.

"dia sudah datang," lapornya pada seseorang di seberang sana.

"benarkah? baiklah, terima kasih banyak, hongjoong-ah!"

dahi hongjoong mengernyit mendengar nada suara yang tidak biasanya ia dengar dari lawan bicaranya itu.

tidak, tidak. sebenarnya teman dekatnya sudah bersikap aneh sejak ia meminta bantuan padanya kemarin.

"hwa-ya, katakanlah yang sejujurnya. kenapa kau memintaku untuk menerima dia menjadi waiter di kafeku?"

"aku hanya ... kasihan padanya?"

hongjoong tertawa remeh mendengar perkataan seonghwa di seberang sana. "hei! sejak kapan seorang park seonghwa peduli dengan orang lain? aku sudah mengenalmu sejak lama dan aku tahu, kau bukan orang seperti itu."

"apa-apaan. jadi menurutmu, aku ini orang seperti apa?"

"pemuda tak berperasaan yang hanya mementingkan pekerjaannya," jawab hongjoong jujur dengan sebuah kekehan di akhir kalimatnya.

"apa?!"

"kau menyukainya, 'kan?" tanya hongjoong to the point.

"a-apa maksudmu?! kau tahu sendiri bukan, aku ini straight!"

"ya, dulu," sahut hongjoong cepat. "perasaan manusia bisa berubah, kau tahu?"

"sudahlah! pokoknya ini bukan seperti yang kau pikirkan."

hongjoong memutar bola matanya malas mendengar sang lawan bicara yang masih teguh pada penyangkalannya. "ya, ya, terserah kau saja. pokoknya, jangan lupa dengan janjimu!"

"iya! tenang saja, aku akan mengatur kencan buta untukmu."

bitter sweet; hwawoo [✓]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang