setelah menginap di apartemen yunho semalam, pagi ini wooyoung juga berangkat bersama pemuda jeong itu ke kafe.
"jung wooyoung!"
tepat ketika ia membuka pintu kafe, panggilan dari sang atasan menjadi hal pertama yang menyapanya. kakinya pun melangkah cepat menghampiri pemuda kim itu.
"ada apa, sajangnim?"
"seonghwa menitipkan ini untukku." hongjoong mengulurkan selembar amplop pada wooyoung.
wooyoung pun menyambutnya dan membuka amplop berwarna merah bata itu dengan ragu.
[ pesta tahunan wonderland hotel ]
begitu kira-kira judul yang tertulis pada kartu di dalam amplop.
wooyoung baru mengetahui bahwa hotel tempat dulu ia bekerja mengadakan acara tahunan seperti ini, di mana di situ dikatakan bahwa seluruh petinggi hotel, staff, dan tamu hotel diundang ke pesta tersebut.
tanpa sadar, seulas senyum terbit di bibir wooyoung. ia bahkan bukan staff hotel itu lagi sekarang, tetapi seonghwa tetap mengundangnya untuk datang.
mungkinkah secara tidak langsung seonghwa ingin bertemu dengannya?
pikiran itu hanya muncul sekelebat karena wooyoung cepat-cepat menggelengkan kepalanya guna mengusir harapan-harapan tidak pasti yang akan membuatnya sakit hati nanti.
"kenapa dia tidak menyerahkannya langsung padaku," monolog wooyoung pelan, yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri.
ㅡ
hari yang mendebarkan itu akhirnya tiba. setelah menghabiskan waktu selama satu jam, berkutat dengan deretan pakaian khas desainer untuk memilih setelan mana yang akan dikenakan untuk pesta nanti, wooyoung akhirnya tiba juga di wonderland hotel.
pemuda bersurai ungu itu melangkah gugup menuju ballroom hotel dengan balutan kemeja satin polos berwarna merah maroon dan celana bahan hitam.
di dalam ballroom, pemandangan pertama yang wooyoung tangkap adalah ratusan orang asing dengan berbagai kalangan yang sebagian besar tengah asyik bercengkerama sembari menyesap minuman yang disajikan oleh para butler.
merasa linglung karena tak ada satu orang pun yang ia kenal, kedua netranya lantas mencari keberadaan seonghwa.
usai menyapukan pandangan ke segala penjuru ruangan yang luasnya hampir mencapai dua ribu meter persegi itu, akhirnya wooyoung menemukan sosok yang ia cari.
gemuruh di dalam dadanya memuncak ketika mendapati visual seonghwa yang begitu menawan, bahkan hanya dari kejauhan. padahal, tak ada yang benar-benar begitu spesial dari penampilan pemuda park itu.
setelan jas hitam yang dikancing rapi dan rambut hitam legam yang ditata naik ke atas, penampilan yang umum dan selalu seonghwa tunjukkan dalam kesehariannya, termasuk pada pertemuan pertama mereka.
namun, entahlah. aura pemuda itu terlihat berkali-kali lipat lebih tampan malam ini. mungkin efek dirinya yang baru melihat pemuda itu lagi setelah beberapa hari belakangan, begitu pikir wooyoung.
seolah sinyal yang terpancar lewat kedua manik wooyoung sampai ke sang pemilik, seonghwa secara kebetulan juga menoleh ke arah pemuda jung itu, membuat pandangan mereka bertemu.
berjalan dengan tergesa, wooyoung hendak melambaikan tangannya pada pemuda park itu. namun, senyum lebar itu luntur seketika kala mendapati reaksi seonghwa yang sangat di luar dugaannya.
wajah dingin itu hanya berpaling begitu saja dan memilih untuk melanjutkan percakapannya dengan pria berjas lainnya kemudian bersulang atas segelas champagne di sela-sela dialog mereka.
ㅡ
kini, wooyoung hanya berdiri dengan pandangan kosong di balkon, entah sudah berapa kali helaan napas kasar lolos dari mulutnya.
"apa yang sedang kulakukan di sini ...."
wooyoung merasa seperti orang bodoh saat ini.
bergembira dan bersemangat sendiri, merasakan debaran hebat ketika maniknya bertabrakan dengan milik seonghwa, bahkan memikirkan sapaan dan pembicaraan seperti apa yang harus ia lakukan dengan pemuda park itu.
"kalau kau akan mengabaikanku seperti ini, untuk apa kau mengundangku, hah?!" maki wooyoung, entah pada siapa. ia hanya seorang diri di balkon yang sepi ini.
ya, setidaknya sampai tadi, sebelum sebuah suara menyapa pendengarannya.
"kenapa menyendiri di sini?"
wooyoung menoleh dan mendapati pemuda berkulit putih pucat tengah berjalan menghampirinya.
tidak mungkin wooyoung tidak mengenalnya. dia kang yeosang, staff resepsionis hotel yang dahulu pernah ia sambut dengan impresi buruk pada pertemuan pertama mereka.
"uhm, aku tidak terlalu menyukai keramaian," jawab wooyoung sambil tersenyum kikuk.
yeosang mengangguk-angguk mengerti. "ternyata kita sama."
selanjutnya, hanya suara semilir angin yang mengisi keheningan malam ini. sesekali wooyoung melirik ke arah yeosang yang tengah menyesap birnya dengan santai, merasa ragu untuk memulai pembicaraan dengan pemuda kang itu.
pasalnya, ketika keduanya bekerja sebagai sesama staff pun, mereka hanya berbicara seperlunyaㅡdalam artian, tidak benar-benar dekat.
"yeosang-ssi."
pemuda bermarga kang itu menolehkan kepalanya. "ya?"
wooyoung menggigit bibir bawahnya, kebiasaan yang selalu ia lakukan di kala rasa gugup sedang melandanya.
"maaf, untuk yang waktu itu." satu kalimat yang telah lama ia pendam itu akhirnya keluar juga dari mulutnya.
"... aku sudah berlaku semena-mena dengan memanfaatkan kekayaan keluargaku, bahkan mengancam untuk memecatmu. lucu sekali, ya?" tawa hambar lolos dari mulut wooyoung ketika ia tersadar, searogan apa dirinya dahulu. sedangkan kini, ia tak bisa berbuat apa-apa.
"sudah, tidak usah mengingatnya lagi. aku juga sudah melupakannya."
respon dari yeosang membuat wooyoung lega sekaligus terenyuh.
"tapi, ada apa dengan pak seonghwa, ya ...." yeosang kembali membuka pembicaraan dengan topik berbeda.
mendengar nama itu, wooyoung pun tidak bisa untuk tidak tertarik. "memangnya pak seonghwa kenapa?"
"tidak biasanya dia minum sampai mabuk begitu."
wooyoung tertegun. seingatnya, seonghwa tengah sibuk bercakap-cakap dengan para pria berpengaruh tadi.
tidak tahu harus berekspresi seperti apa, pemuda jung itu pun hanya tertawa hambar. "aku juga tidak tahu. kenapa kau menanyakannya padaku?"
"bukankah kau ada hubungan spesial dengannya?" tanya yeosang santai, membuat netra wooyoung membulat seketika.
"a-apa maksudmu?!"
"di hari itu, pak seonghwa langsung berlari menuju lantai empat karena takut terjadi sesuatu hal yang buruk padamu. aku baru pernah melihatnya begitu gusar seperti itu," ungkap yeosang, mengacu pada hari di mana wooyoung hampir diperkosa oleh salah satu tamu hotel.
"dia tak pernah membiarkan sembarang orang masuk ke dalam ruangan pribadinya, tetapi hari itu dia menggendong dan membawamu ke sana."
"dan juga, jongho berkata kalau akhir-akhir ini pak seonghwa sering bersikap aneh dan tak fokus saat bekerja. kupikir itu karena kalian sedang ada masalah," tukas yeosang panjang lebar.
sepersekian detik setelah yeosang menyelesaikan kalimatnya, wooyoung pun segera mencengkeram bahu pemuda itu dan bertanya,
"kau tahu di mana pak seonghwa di mana sekarang?"
KAMU SEDANG MEMBACA
bitter sweet; hwawoo [✓]
Fanfictionhidup seonghwa sebagai manager hotel menjadi runyam setelah kedatangan seorang tamu yang memaksa tinggal di kamar vip hotelnya. ㅡ bxb, lowercase, baku ㅡ dom!hwa sub!woo ⚠ li'l bit mature content
![bitter sweet; hwawoo [✓]](https://img.wattpad.com/cover/216824754-64-k929288.jpg)