pLAK!
tamparan keras dilayangkan oleh nyonya park pada sang anak, tepat ketika kedua pemuda yang berstatus sebagai sepasang kekasih itu berdiri di hadapannya usai tertangkap basah melakukan kegiatan yang menurutnya sangat di luar nalar.
"kau pikir mama mendidikmu untuk menjadi seperti ini?!"
nyonya park menatap putra semata wayangnya dengan napas menderu, kedua matanya yang berkaca-kaca sarat akan kekecewaan dan amarah yang meluap-luap.
"apa yang salah dari itu, mah? aku mencintai wooyoungㅡ"
"cinta? cinta, katamu?!" ulang nyonya park dengan raut wajah terperangah, seakan tak percaya akan perkataan yang baru saja keluar dari mulut anaknya.
"sADARLAH, PARK SEONGHWA! DIA LAKI-LAKI, SAMA SEPERTIMU!"
"aku tahu!" sahut seonghwa cepat, nada suaranya ikut meninggi.
"dulu aku juga menganggap ini adalah sesuatu yang tidak wajar. tapi, setelah mengalaminya sendiri, aku menjadi sadar bahwa tidak ada yang salah dengan hal itu."
ya, seonghwa masih ingat betul, bagaimana ia pernah menyangkal habis-habisan ketika bayang-bayang sosok pemuda bernama jung wooyoung itu dengan lancang mulai merasuki relung hatinya, mendistraksi hal-hal yang menjadi rutinitasnya, dan mematahkan prinsip yang selama ini seonghwa pegang.
"kau ...." kedua netra nyonya park kini beralih menatap wooyoung tajam.
"pASTI KAU YANG MERAYU ANAKKU DAN MEMBAWANYA KE DALAM HUBUNGAN MENJIJIKKAN INI, IYA 'KAN?!"
wooyoung hanya memejamkan matanya ketika kerah bajunya ditarik kasar oleh nyonya park hingga tubuhnya terguncang beberapa kali.
"ㅡdasar pria murahan!"
"mAMA!!"
"kau baru saja membentak ibumu sendiri?!"
"wooyoung-ah, keluarlah dulu. aku akan berbicara dengan ibuku." seonghwa tersenyum tipis ke arah wooyoung, mengisyaratkan pemuda mungil itu untuk menghindar dari sikap ibunya yang makin menjadi-jadi.
wooyoung tidak membantah. dengan lunglai, ia berjalan keluar menuju pekarangan depan sebelum kemudian menghentikan langkahnya karena mendapati keberadaan tuan park di sana.
pemuda bersurai ungu itu mematung di tempat, ragu apakah dirinya harus mendekat untuk menyapa ataukah berbalik arah dan pergi ke tempat lain.
"kemarilah."
suara berat nan tegas itu membuyarkan lamunan wooyoung. dengan patuh, ia menghampiri tuan park yang tengah duduk di kursi rodanya dan membungkukkan badannya sopan.
cukup lama keduanya berdiam diri dalam keheningan. yang lebih muda memilih untuk menundukkan kepala, menyiapkan hati kalau-kalau tuan park akan melayangkan cacian lain untuknya. terlebih, tatapan pria paruh baya itu terlihat begitu mengintimidasi sejak awal.
"apakah kau benar-benar mencintai anakku?"
satu pertanyaan tak terduga itu membuat kepala wooyoung terangkat dan menatap heran ke arah tuan park yang masih setia melayangkan pandang pada hamparan rumput hijau di hadapan mereka.
"i-iya, om." terbata, wooyoung menjawab.
"kalau begitu, dampingi dia dengan baik."
wooyoung tertegun mendengar ucapan tuan park. rasa takut yang sedari tadi melingkupinya, kini lenyap begitu saja.
"o-om merestui kami?" tanya wooyoung tidak percaya.
"seonghwa ... bukan tipe orang yang dapat dengan mudah membuka diri pada orang lain, bahkan tidak sedikit yang menganggapnya angkuh dan hanya mementingkan diri sendiri," ujar tuan park, nada bicaranya terdengar lebih bersahabat dibandingkan sebelumnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
bitter sweet; hwawoo [✓]
Fanfictionhidup seonghwa sebagai manager hotel menjadi runyam setelah kedatangan seorang tamu yang memaksa tinggal di kamar vip hotelnya. ㅡ bxb, lowercase, baku ㅡ dom!hwa sub!woo ⚠ li'l bit mature content
![bitter sweet; hwawoo [✓]](https://img.wattpad.com/cover/216824754-64-k929288.jpg)