satu bulan telah berlalu sejak wooyoung menghabiskan hari-harinya yang terasa lebih berwarna bersama seonghwa.
dan hari ini, seonghwa mengajaknya untuk mengunjungi rumah orang tuanya yang berada di busan.
"aku takut."
entah sudah berapa kali wooyoung mengatur napasnya setelah mobil seonghwa berhenti tepat di depan rumah bernuansa oriental yang sekilas terlihat sederhana, tetapi cukup luas ketika masuk ke dalamnya.
"tidak apa-apa. ayo kita masuk." seonghwa menggenggam tangan wooyoung guna memberinya ketenangan.
"seonghwa?! ya ampun, sudah berapa lama, nak!" nyonya park mendekap erat tubuh jangkung itu sebagai sambutan untuk anak semata wayangnya yang baru kembali setelah sekian lama.
"siapa ini? tidak biasanya kau membawa orang lain ke rumah," lanjut nyonya park, seolah hapal dengan kepribadian anaknya yang sedikit enggan untuk menjalin kekerabatan yang dekat dengan orang lain.
"h-halo, tante. namaku jung wooyoung." wooyoung spontan membungkukkan badannya sopan.
"ah, iya. selamat datang, nak wooyoung," balas nyonya park ramah. "bagaimana kau bisa dekat dengan seonghwa, nak?"
"uhm, itu ... kebetulan aku bekerja di tempat yang sama dengan seonghwa hyung." wooyoung menjawab dengan senyum canggungnya.
"begitu rupanya."
"ma, kenalkan, diaㅡ"
"pAPA! LIHAT SIAPA YANG DATANG!"
baru saja seonghwa hendak memperkenalkan wooyoung sebagai kekasihnya, seruan nyonya park telah lebih dahulu menginterupsinya.
beberapa saat kemudian, wooyoung mendapati kehadiran sosok pria paruh baya yang terlihat sangat berwibawa dengan seorang asisten rumah tangga di belakangnya yang tengah mendorong kursi rodanya.
berbeda dengan nyonya park yang menyambutnya dengan ramah, wooyoung sama sekali tak mendapati senyum tipis pun yang terukir pada wajah tuan park, bahkan ketika mereka semua telah duduk di meja makan.
tak membutuhkan waktu lama, meja panjang itu kini penuh dengan hidangan yang satu per satu disajikan oleh pelayan keluarga park.
keempat orang berbeda usia itu menyantap makanan mereka dalam keheningan, hingga seonghwa yang pertama kali memecahnya,
"ma, paㅡ"
wooyoung yang duduk di samping seonghwa segera meletakkan tangannya di atas paha pemuda itu, mengisyaratkan untuk tidak menyampaikan hal yang ada di pikirannya sekarang.
entahlah, wooyoung masih belum siap melihat reaksi yang akan ditunjukkan oleh orangtua seonghwa atas hubungannya dengan anak semata wayang mereka itu.
"terima kasih atas makanannya, tante, om. aku sangat menikmatinya." tersenyum canggung, wooyoung mengisi percakapan agar kedua orang di hadapannya itu mengabaikan panggilan seonghwa barusan.
"syukurlah kalau kau suka! makan yang banyak ya, nak wooyoung," balas nyonya park dengan senyum puasnya.
ㅡ
"hft! aku merasa jantungku akan copot!" keluh wooyoung dengan nada mendramatisir ketika ia telah berada di dalam kamar seonghwa sekarang.
sedangkan seonghwa hanya terkekeh gemas melihatnya. "kenapa? apa orangtuaku semenyeramkan itu?"
"tidak juga, sih. ibumu sangat ramah. kalau ayahmu ... err, jujur memang agak sedikit mengintimidasi." wooyoung memelankan suaranya sembari mencuri pandang ke arah seonghwa, takut kalau-kalau pemuda itu merasa tersinggung dengan ucapannya.
namun nyatanya, seonghwa malah terkekeh. "ayahku memang pada dasarnya seperti itu. bukan berarti beliau tidak menyukaimu," jawabnya, berusaha menenangkan wooyoung.
"... tapi, kenapa sedari tadi kau terus memegangi perutmu? ada yang sakit?"
wooyoung mengangguk lemah. "sepertinya perutku tidak bisa mencerna dengan baik setelah makan makanan sebanyak itu."
seonghwa yang sedang merebahkan dirinya pun bangkit menghampiri wooyoung yang duduk di tepi ranjang. "kalau sudah kenyang kenapa dipaksakan, sih?"
"mau bagaimana lagi. aku tidak enak menolak tawaran ibumu," sahut wooyoung lesu.
pemuda bersurai ungu itu masih ingat bagaimana tadi ia terus menyuapkan makanan dengan paksa setelah nyonya park terus-menerus menyuruhnya untuk tambah.
"tunggu di sini."
dahi wooyoung sempat berkerut ketika seonghwa turun dari kasur dan terlihat mencari-cari sesuatu.
namun, hal itu tak berlangsung lama karena kedua netranya sontak membola begitu mendapati benda yang baru saja diambil oleh seonghwa dari dalam laci.
sebuah jarum.
"a-APA YANG AKAN KAU LAKUKAN?!" seru wooyoung panik, cepat-cepat ia menjauhkan tubuhnya dari jangkauan seonghwa.
"hei, hei! tenanglah," bisik seonghwa sambil menempelkan jari telunjuk di bibirnya. "ini pengobatan tradisional yang cukup efektif untuk mengurangi gangguan pencernaan."
"t-tapiㅡ!"
"aku hanya akan menusukkan jarum di ibu jarimu. ini tidak akan sakit."
"mana mungkin!" wooyoung masih berusaha menghindar dari seonghwa.
sedangkan seonghwa berusaha mengikuti pergerakan wooyoung hingga keadaan mereka sekarang persis seperti anak kecil yang sedang bermain gobak sodor. hanya ranjang berukuran tidak terlalu besar itulah yang menjadi penghalang keduanya.
"kemari, wooyoung-ah. ini hanya sebentar, agar perutmu cepat membaik."
"tidak mau!"
tepat ketika wooyoung hendak berlari menuju pintu kamar, kakinya tanpa sengaja tersandung kaki ranjang hingga membuatnya hampir terjungkal kalau saja seonghwa tidak cepat melindunginya.
dan berakhir mereka jatuh berdua dengan posisi wooyoung yang menindih tubuh seonghwa.
seakan terkena pengaruh hipnosis, keduanya hanya mematung dan menatap dalam diam, saling mengagumi sorot indah yang terpancar lewat kedua manik mereka, satu sama lain.
akal sehat wooyoung kembali lebih dahulu. cepat-cepat ia beranjak dengan raut wajah gelagapan, tetapi tarikan seonghwa pada tangannya membuatnya mau tidak mau kembali terduduk di atas tubuh sang dominan.
kedua netra wooyoung menatap wajah seonghwa dengan gugup, menunggu tindakan apa yang selanjutnya akan diambil oleh pemuda park itu.
"apa pun yang terjadi ... kau tidak akan meninggalkanku, 'kan?" tanya seonghwa dengan raut wajah serius, mempererat genggamannya pada jemari wooyoung.
sorot mata seonghwa yang kini tengah menatapnya penuh arti, membuat lidah wooyoung terlalu kelu untuk menjawab. karena itu, ia hanya mengangguk pelan sebagai gantinya.
bibir merah muda pucat itu masih terkatup rapat bahkan ketika seonghwa mempersempit jarak di antara mereka dan membawanya pada ciuman lembut nan panjang, sekaligus memabukkan.
"h-hyung, nanti bagaimana kalau orangtuamuㅡ"
telinga seonghwa seakan tuli. ia tidak berhenti mencumbu bibir manis itu, bahkan kini membalikkan tubuh mereka dan mengurung wooyoung di bawah kungkungannya.
namun, wooyoung tidak tinggal diam dan kembali mengubah posisi menjadi dirinya yang di atas. kali ini, seonghwa mengalah dan membiarkan sang submisif mengambil alih ciuman mereka dengan cukup liar.
wooyoung mati-matian menahan desahannya ketika tangan seonghwa mulai merambat ke bagian belakang tubuhnya dan meremas bokong sintal itu dengan sensual.
ceklek!
"nak wooyoung, tante bawakan camilan untukㅡ"
prang!
"a-apa yang sedang kalian lakukan?!"
KAMU SEDANG MEMBACA
bitter sweet; hwawoo [✓]
Fanfikcehidup seonghwa sebagai manager hotel menjadi runyam setelah kedatangan seorang tamu yang memaksa tinggal di kamar vip hotelnya. ㅡ bxb, lowercase, baku ㅡ dom!hwa sub!woo ⚠ li'l bit mature content
![bitter sweet; hwawoo [✓]](https://img.wattpad.com/cover/216824754-64-k929288.jpg)