O7

1.3K 218 30
                                        

⚠️
warn!
lil' bit mature content; rape

sudah hampir sebulan wooyoung bekerja sebagai staff hotel sehingga sedikit banyaknya pemuda bersurai ungu itu sudah mulai terbiasa.

"wooyoung-ssi, ada panggilan dari kamar 410," ucap yeosang usai menerima panggilan telepon dari penghuni kamar tersebut.

wooyoung pun mengangguk tanda mengerti lalu melangkahkan kakinya menuju lift dan menekan tombol 4.

tok tok

ia mengetuk pelan pintu kamar bernomor 410 itu begitu sampai di sana kemudian merapikan dasi kupu-kupunya sambil menunggu pintu dibukakan.

ceklek

tak butuh waktu lama, pintu terbuka menampilkan sosok pemuda berbadan tegap yang hanya berbalutkan bathrobe khas hotel ini.

"anda butuh bantuan, tuan?" tanya wooyoung dengan sopan.

pemuda itu terdiam sejenak sembari memandangi wooyoung dari ujung kepala hingga ujung kaki sebelum akhirnya menjawab, "ac kamarnya tidak dingin. sepertinya rusak."

"ah, kalau begitu bolehkah saya masuk untuk mengeceknya?"

pemuda itu tersenyum miring lalu menjawab, "tentu, masuklah."

wooyoung sedikit bergidik menyaksikan smirk yang terukir pada bibir pemuda ituㅡwalaupun hanya sekilasㅡtapi kemudian ia memilih untuk menepis hal-hal buruk yang menghinggapi otaknya dan masuk ke dalam kamar itu.

karena ac di setiap kamar hotel ini cukup tinggi, wooyoung pun harus naik ke kursi untuk melihat keadaan ac itu.

tanpa wooyoung sadari, pemuda itu terus memandangi setiap inci tubuhnya dengan tatapan lapar sedari tadi, apalagi celananya terbilang cukup ketat sehingga bokongnya tercetak jelas di mata pemuda itu.

"sudah selesai?" tanya pemuda itu setelah beberapa saat, membuat tubuh wooyoung sedikit tersentak karenanya. pasalnya, pemuda itu berbicara tepat di samping kursi tempat ia berdiri sekarang.

wooyoung akhirnya turun dari kursi itu kemudian menjawab, "setelah saya lihat, tidak ada yang salah dengan ac-nya, tuan. coba ditunggu beberapa saat, nanti kalau masih bermasalah saya akan panggilkan tukang service."

"... kalau begitu saya permisi dulu," lanjut wooyoung lantas membungkukkan badannya lalu berjalan cepat menuju pintu tapi sayang, tangannya keburu dicekal oleh pemuda itu.

"bagaimana kalau kau ikut menunggu bersamaku di sini?" bisik pemuda itu dengan nada seduktif. kini ia sudah berdiri tepat di belakang wooyoung dan menghimpit tubuh pemuda mungil itu ke arah pintu.

"t-tuan, tolong jangan begini," ucap wooyoung. nada suaranya mulai bergetar karena takut.

pasalnya ia bisa merasakan sesuatu yang keras tengah bergesekan dengan bokongnya di bawah sana.

-----

















"yeosang-ah, sudah waktunya ganti shift 'kan?" seonghwa menghampiri yeosang yang sedang mondar-mandir di belakang meja resepsionis dengan gusar.

"ah, pak seonghwa. saya sedang menunggu wooyoung."

"wooyoung kenapa?" tanya seonghwa tidak mengerti.

"itu ... tadi tamu kamar 410 memanggil, tapi sudah hampir satu jam ia belum kembaㅡ"

sebelum yeosang menyelesaikan kalimatnya, seonghwa telah terlebih dahulu berlari menuju lift.

ditekannya tombol lift menuju lantai atas berulang kali namun karena tak kunjung terbuka akhirnya seonghwa berlari menuju tangga.

entahlah, perasaannya sangat tidak enak saat ini.

-----





















"maaf, tapi aku tidak bisa membiarkanmu pergi begitu saja, manis."

dengan sekali dorongan, pemuda itu berhasil menghempaskan wooyoung di kasur berukuran king size itu dan mengungkung tubuh pemuda bersurai ungu itu di bawahnya.

"l-lepasㅡ!" tak peduli sekuat apapun wooyoung memberontak, tenaga pemuda itu jauh lebih kuat darinya, ditambah rasa takut yang melingkupi wooyoung saat ini makin membuat dirinya tak berdaya untuk melawan.

"bersenang-senanglah denganku malam ini," ucap pemuda itu sebelum kemudian mencium bibir wooyoung dengan brutal, menggigitnya dengan cukup keras guna memaksa si mungil untuk memberikan akses bagi lidahnya.

"h-hentikan, tolong ...," ucap wooyoung susah payah saat tangan pemuda itu mulai menarik paksa dasinya dan membuka kancing bajunya dengan lincah.

tak mengindahkan permohonan wooyoung, pemuda itu tetap asyik dengan kegiatannya, merasakan setiap inci dada mulus wooyoung dan menyesap kedua nipple kemerahan itu bergantian.

dengan mata terpejam, air mata mulai turun membasahi kedua pipi wooyoung sembari menahan perih pada bibir bawahnya yang sedikit mengeluarkan darah akibat gigitan pemuda itu tadi.

di sela isak tangisnya, pikiran wooyoung tertuju pada sang manager.

terlalu berlebihankah apabila ia berharap seonghwa akan datang menolongnya saat ini?

ia benar-benar sudah tidak memiliki kekuatan. tubuhnya lemas dan gemetar. berteriak pun rasanya percuma karena kamar hotel ini kedap suara.

"bagaimana kalau kita masuk ke intinya, manis?"

"tidak!!!"


bRAK!!

"jung wooyoung!!"

pintu didobrak paksa menampilkan sosok seonghwa dengan napas terengah dan peluh yang membasahi wajahnya akibat berlari menaiki tangga dari lantai dasar menuju lantai 4.

"sialanㅡ!"

melihat keadaan wooyoung, seonghwa langsung melayangkan tinjunya berkali-kali hingga pemuda itu terjerembab dari kasur dan tergeletak tak berdaya di sudut ruangan.

setelah itu, seonghwa menghampiri wooyoung yang kini tengah terduduk di atas kasur dengan raut wajah tak beraturan dan pakaian yang sudah acak-acakan. pandangannya kosong dan seluruh tubuhnya gemetar ketakutan.

tidak tahu kenapa, hati seonghwa berdenyut kala melihat hal itu. ia kemudian merengkuh wooyoung ke dalam pelukannya sembari mengusap surai ungunya dengan lembut.




"tidak apa-apa, kau sudah aman sekarang."

-----


a/n

aaaa ga nyangka udah 1k readers ajaa padahal awalnya aku cuma iseng bikin cerita ini hshs

makasii banyak yang udah baca, vote apalagi komen! sini ciyom dulu satu-satu (づ ̄ ³ ̄)づ

bitter sweet; hwawoo [✓]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang