17

866 106 17
                                        

yeosang akui dirinya aneh.

pasalnya, sejak kesalahpahaman yang terjadi antara dirinya dan jongho tempo hari, tanpa sadar ia menjadi lebih sering memerhatikan pemuda choi itu.

mulai dari gerak-gerik kecil ketika pemuda itu tengah menjalankan tugasnya, raut wajah tegas yang ia tunjukkan saat berbincang bersama para staff maupun klien penting, hingga senyum manis yang membuat kedua matanya ikut menyipit tatkala ia berinteraksi dengan tamu hotel anak-anak.

termasuk saat ini, jongho tengah berdiri di hadapannyaㅡtepatnya, di depan meja resepsionisㅡuntuk memeriksa data pemesanan kamar dan pelayanan hotel, dan pandangan yeosang lagi-lagi terkunci padanya.

tak seperti biasa, pemuda choi itu sedikit mengubah tatanan rambutnya hari ini. surai hitam legam yang sebelumnya selalu ia tata naik hingga memperlihatkan keseluruhan dahinya, kini ia turunkan sedikit dengan comma style.

namun, hal itu malah membuat wajah jongho terlihat semakin atraktif di mata yeosang.

"kenapa melihatku seperti itu?" tanya jongho datar, pandangannya yang tengah terfokus pada berkas di atas resepsionis ia arahkan sekilas ke arah pemuda di hadapannya itu.

sedangkan sang lawan yang merasa tertangkap basah langsung memalingkan pandangan ke arah lain sembari berdehem canggung.

"maaf soal yang waktu itu."

jongho melirik sekali lagi pada yeosang, kali ini menatap selama beberapa detik, membuat pemuda kang itu sedikit salah tingkah.

"jadi, kau memerhatikanku belakangan ini karena masih memikirkan itu?"

kedua mata yeosang sontak membola mendengar pertanyaan jongho. "k-kau menyadarinya?!"

jongho mendengus. "bagaimana aku tidak menyadarinya di saat tatapanmu sudah seperti akan menusuk orang seperti itu?" sahutnya asal, menutup berkas yang telah selesai ia periksa dan menyerahkannya kembali pada yeosang.

"choi jongho sialan," geram yeosang sambil mengibas-ngibaskan map di tangannya akibat suhu tubuhnya yang mendadak naik usai jonghoㅡdengan tidak tahu dirinyaㅡmengukir senyum miring sebelum melenggang pergi.





























wooyoung sedang merebahkan dirinya di sofa ruang tamu, menunggu kepulangan sang pemilik apartemen yang kebetulan tengah menyelesaikan pekerjaan lemburnya, ketika tanda panggilan masuk muncul pada ponselnya, menampilkan nama song mingi di sana.

seiring dengan kedua bola matanya yang berotasi dengan malas, wooyoung memutuskan untuk bersikap abai.

namun, dering ketiga kalinya membuat pemuda jung itu akhirnya menggeser icon berwarna hijau dengan ogah-ogahan.

"kenapa?" tanyanya datar.

"ada yang ingin kubicarakan denganmu."

"katakan saja."

"kita bicara langsung saja. temui aku di restoran utopia."

"heiㅡ!"

pip

wooyoung melotot usai mingi menutup panggilannya secara sepihak. "dasar seenaknya!"

meskipun wooyoung sangat malas bertemu dengan kakak tirinya itu, tetapi tak dapat dipungkiri, ia juga sedikit penasaran dengan hal yang akan dibicarakan mingi padanya.

setelah berperang dengan pikirannya selama beberapa saat, wooyoung akhirnya memutuskan untuk berganti baju dan keluar dari apartemen untuk menemui mingi.

bitter sweet; hwawoo [✓]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang