ih aku baru sadar ada typo di chap kemarin wkwk ;_;
anyway, buat siders, jangan sungkan buat ninggalin komen okeh!!
enjoy!
ㅡ
"kau tahu di mana pak seonghwa sekarang?"
"tadi kalau tidak salah sedang menuju lantai dasarㅡ"
tanpa menunggu yeosang menyelesaikan kalimatnya, wooyoung langsung berlari pergi setelah mengucapkan terima kasih.
dengan napas menderu, wooyoung memencet tombol lift bersimbol panah turun itu dengan tergesa. di dalam, matanya berulang kali melirik ke arah angka digital di bagian atas lift, yang entah mengapa berjalan begitu lambat baginya.
persetan dengan harga diri dan rasa malu, wooyoung hanya ingin bertemu seonghwa dan mengklarifikasikan semuanya dengan pemuda park itu.
kalau memang benar sikap seonghwa padanya selama ini tak lebih dari rasa kasihan semata, maka barulah wooyoung akan benar-benar memutuskan kontaknya dengan pemuda itu dan melupakan perasaan bodoh ini.
ting!
tepat setelah pintu lift terbuka, wooyoung berlari menyisir areal lantai dasar yang sepi itu kemudian mengarahkan kakinya menuju ruangan pribadi seonghwa.
diketuknya pelan pintu bercat hitam itu, tetapi karena tak kunjung mendapat respon, wooyoung mengintip lewat celah pintu yang ternyata tidak dikunci itu.
tak mendapati sosok yang ia cari, wooyoung kembali berjalan cepat sambil mengedarkan pandangannya ke segala penjuru, seperti orang linglung.
tubuh mungil itu sedikit terperanjat ketika seseorang menarik tangannya tanpa aba-aba dan membawanya ke salah satu lorong panjang yang sepi.
"p-pak seonghwa?!" pupil wooyoung melebar ketika menangkap sosok yang baru saja menyeretnya dengan paksa.
"kau ... apa yang kau lakukan padaku?" seonghwa bertanya dengan nada rendah, kedua netranya menatap lekat pada pemuda bersurai ungu yang kini berada dalam kungkungannya.
"a-apa maksudmu?" wooyoung bertanya tidak mengerti, nyalinya sedikit menciut mendapati aura dominan milik seonghwa yang jauh lebih mengintimidasi dari biasanya.
aroma alkohol menguar kuat memenuhi indra penciumannya, membuat wooyoung menerka-nerka, sudah berapa gelas yang dikonsumsi oleh seonghwa hingga kesadaran pemuda itu seolah diambil alih oleh sisi lain dirinya seperti ini.
"padahal aku sudah menahan diri dan menjaga jarak denganmu, tapi tetap saja ...." kalimat itu terputus sejenak seiring dengan kedua tangan yang mengusap wajah tampannya dengan frustasi.
baru kali ini wooyoung melihat sisi seonghwa yang seperti ini. kendati dirinya merasa tidak sabar untuk segera menuntut tanya, ia membiarkan seonghwa melanjutkan kalimat dengan sendirinya.
"kau ... membuatku gila. sepanjang hari, pikiranku hanya penuh dengan rupamu, hingga aku tak bisa fokus bekerja beberapa hari belakangan."
"... aku bertanya-tanya apa yang sedang terjadi dengan diriku. ketika sudah mendapatkan jawabannya, aku berusaha menyangkalnya dengan berpegang teguh pada pendirianku dan menjauh darimu. namun nyatanya, aku tetap kalah."
hanya keheningan yang menyelimuti mereka setelah seonghwa merampungkan seluruh pengakuannya. pengaruh alkohol membuat kata-kata terpendam yang ada di pikiran pemuda park itu keluar begitu saja bak ombak yang menghempas tepian pantai.
"bodoh."
satu kata pertama yang lolos dari mulut wooyoung sebagai respon atas sikap seonghwa barusan.
baru saja seonghwa hendak melayangkan protes, niatnya dibuat urung ketika melihat si surai ungu yang kini terisak dengan raut yang tak kalah frustasi dan memukul-mukul dadanya sebagai pelampiasan.
"kukira hanya aku ... kukira hanya aku yang bersikap seperti orang bodoh," ucap wooyoung di sela-sela isakannya. "aku takut kalau aku hanya salah mengartikan sikap baikmu selama ini."
"... berulang kali aku mencari alasan untuk menghubungi dan menemuimu, tapi aku takut kau merasa risih, terlebih dengan sikap dingin yang kau tunjukkan tempo hari ... aku takut kau akan membenciku."
wooyoung memberi jeda pada rentetan kalimatnya untuk mengambil napas. ditatapnya sekilas wajah seonghwa yang kini tengah mendengarkannya dengan seksama, meskipun ia tidak yakin pemuda itu masih akan mengingatnya pada esok hari.
"sebenarnya, aku tidak suka berada dalam keramaian pesta seperti ini. aku melakukan itu semata-mata karena merindukanmu. tapi, melihatmu memalingkan pandangan seperti tadi, aku ...."
"maaf. aku hanya takut kalau-kalau pertahananku akan runtuh di depan para investor."
wooyoung mendengus, bibirnya mengerucut tanpa ia sadari, membuat seonghwa menahan gemas di dalam hati.
"menyebalkan. kau membuatku seperti orang bodoh."
ditangkupnya wajah si mungil dan diusapnya lembut cairan bening yang membasahi kedua pipi tirus itu menggunakan ibu jarinya.
"bahkan saat menangis pun, kau masih terlihat cantik."
wooyoung menatap tak percaya ke arah pemuda di hadapannya yang juga tengah menatap ke arahnya dengan tatapan memuja.
dari mana seorang park seonghwa yang dingin dan kaku seperti kanebo kering, mempelajari gombalan cheesy seperti itu?
yah, walaupun begitu, tak bisa dipungkiri bahwa semburat merah tetap memenuhi kedua pipi wooyoung secara alami tatkala suara bariton yang melantunkan pujian untuknya itu memenuhi rungunya.
"wooyoung-ssi."
wooyoung mendongak ragu-ragu ke arah seonghwa, masih sibuk menetralkan degup jantungnya yang tidak beraturan itu.
"bagaimana rasanya berciuman dengan seorang laki-laki?"
kedua manik hitam bening yang masih meninggalkan jejak air mata itu serta-merta membola, terlalu terkejut dengan pertanyaan tak terduga yang seonghwa tembakkan barusan.
"a-aku tidak tahu," jawabnya terbata.
dahi seonghwa berkerut mendengar jawaban wooyoung. "kau tidak tahu?" ulangnya.
"uhm, aku memang tertarik pada laki-laki, tetapi belum pernah melakukan hal seperti itu."
perkataan wooyoung barusan membuat seonghwa tertawa kecil. masih terekam jelas dalam ingatannya, bagaimana dulu seorang jung wooyoung dengan gamblangnya mengajak dirinya untuk bercinta.
dan sekarang, apa katanya? ciuman saja belum pernah, mengapa dahulu begitu nekat menanyakan hal semacam itu pada pemuda asing yang baru saja dikenalnya?
"kalau begitu ...."
seonghwa menggantungkan kalimatnya, seiring dengan tatapannya yang jatuh pada bibir merah muda milik wooyoung.
ia mendekatkan wajahnya pada wajah wooyoung, membuat pemuda mungil itu terpaku sembari mengerjapkan kedua netranya beberapa kali, lantas menahan napas ketika yang lebih tua berbisik dengan nada rendah,
"... mau mencobanya bersama-sama?"
KAMU SEDANG MEMBACA
bitter sweet; hwawoo [✓]
Fanfictionhidup seonghwa sebagai manager hotel menjadi runyam setelah kedatangan seorang tamu yang memaksa tinggal di kamar vip hotelnya. ㅡ bxb, lowercase, baku ㅡ dom!hwa sub!woo ⚠ li'l bit mature content
![bitter sweet; hwawoo [✓]](https://img.wattpad.com/cover/216824754-64-k929288.jpg)