1O

972 125 17
                                        

"park seonghwa?" hongjoong menatap tak percaya pada sosok pemuda yang baru saja datang ke kafenya pagi ini. "kau tidak berangkat kerja?"

"jung wooyoung ada?" tanya seonghwa, mengabaikan pertanyaan hongjoong sebelumnya.

"belum datang, mungkin sebentar lagiㅡ nah, itu dia!"

sepersekian detik ketika hongjoong menunjuk ke arah pintu masuk, seonghwa mengikuti arah pandang itu dan menghampiri pemuda bersurai ungu yang baru saja datang.

hal itu membuat hongjoong mendengus. "sudah begitu masih saja menyangkal."

"wooyoung-ssi," panggil seonghwa, diikuti keterkejutan dari sang pemilik nama.

"pak seonghwa?! kenapa bisa ada di sini ...." wooyoung berseru tanpa sadar, tetapi nadanya semakin memelan di akhir, seiring dengan memorinya yang kembali memutar rekaman ucapan seonghwa pada pertemuan terakhir mereka.

cepat-cepat wooyoung mengusir ingatan itu karena ia sadar, dirinya tidak boleh berharap terlalu jauh pada pemuda di hadapannya ini.

"aku membawakan barang-barangmu," ucap seonghwa datar, bahkan terlalu datar di telinga wooyoung.

seolah, seorang park seonghwa telah kembali ke sifat awalnya.

"ah, iya. terima kasih, pak," jawab wooyoung kikuk, mengambil alih koper di tangan seonghwa.

"kau sudah mendapat tempat tinggal?"

"eh? o-oh, itu ... sudah, kok," dusta wooyoung.

mungkin lebih baik kalau ia tak merepotkan pemuda park itu lebih jauh lagi, begitu pikir wooyoung.

"baiklah."

setelah percakapan singkat itu, seonghwa pun pamit pergi, meninggalkan wooyoung yang menatap punggung pemuda itu dengan tatapan sendu usai melihat perubahan sikapnya.




























"biar aku saja yang kunci kafenya, sajangnim," ucap wooyoung ketika melihat satu per satu karyawan kafe yang lain telah pulang lebih dahulu, menyisakan hongjoong yang tengah menunggunya selesai mengepel lantai.

"ah, benarkah? kalau begitu, terima kasih, wooyoung-ssi." hongjoong tersenyum tipis lalu beranjak pergi. "kutaruh kuncinya di etalase."

"baik, sajangnim. selamat malam." wooyoung membungkukkan badannya sopan.

beberapa saat kemudian, wooyoung akhirnya menyelesaikan pekerjaannya. usai meregangkan tubuh sejenak, pemuda mungil itu mematikan lampu depan kafe dan beranjak menuju ruang ganti.

ia merebahkan diri pada satu-satunya kursi panjang yang ada di sana, sebelum kemudian memejamkan mata sembari menghela napasnya kasar.

ya, wooyoung baru saja berbohong pada seonghwa mengenai dirinya yang telah mendapat tempat tinggal baru untuk ditempati.

bagaimana bisa ia mendapat tempat tinggal secepat itu dalam keadaannya yang seperti ini?

mau tidak mau, wooyoung harus menunggu sampai gaji pertamanya keluar untuk mencari kontrakan murahㅡitu pun kalau cukup.

kembali ke rumah besarnya? jelas merupakan pilihan yang lebih tidak mungkin. wooyoung sudah terlalu muak untuk mendengar cacian demi cacian yang selalu mingi layangkan untuknya.

"bersabarlah, jung wooyoung. kau harus kuat. kau pasti bisa bertahan."

hanya kata-kata penghibur sederhana yang bisa wooyoung tanamkan dalam dirinya atas perubahan drastis dalam hidupnya saat ini.

bitter sweet; hwawoo [✓]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang