hidup seonghwa sebagai manager hotel menjadi runyam setelah kedatangan seorang tamu yang memaksa tinggal di kamar vip hotelnya.
ㅡ bxb, lowercase, baku
ㅡ dom!hwa sub!woo
⚠ li'l bit mature content
entah sudah berapa kali wooyoung mondar-mandir di koridor rumah sakit, tepatnya di depan pintu yang membatasi ruang operasi dan ruang tunggu.
tak berselang lama, wooyoung mendapati seonghwa yang baru saja datang sambil berlari.
"bagaimana keadaannya?" tanya seonghwa sedikit terengah. raut wajahnya terlihat cemas.
"masih dioperasi," jawab wooyoung.
seonghwa mengangguk mengerti kemudian menarik tangan wooyoung untuk duduk di kursi panjang yang ada di sana, ketimbang berjalan bolak-balik tanpa arah seperti tadi.
"apa kata dokter?"
"usus buntu katanya."
"hei, tenanglah. kenapa kau terlihat lebih khawatir dariku?" seonghwa tertawa kecil, menggenggam tangan wooyoung yang sedari tadi meremas-remas jemarinya sendiri.
"kau tidak tahu seberapa kagetnya aku saat melihat ibumu tergeletak di lantai tadi!" seru wooyoung dengan bibir mengerucut.
percakapan mereka terhenti begitu saja ketika pintu buram itu terbuka otomatis, menampilkan seorang dokter yang masih berbalutkan pakaian khusus untuk operasi, didampingi oleh salah satu perawat.
"bagaimana keadaannya, dok?" tanya seonghwa.
"untungnya cepat dibawa ke sini sebelum terlambat, jadi bisa ditangani. keadaannya sekarang sudah baik-baik saja."
mendengar hal itu, wooyoung pun menghela napas lega. ia meraih lengan seonghwa karena merasa kakinya begitu lemas sekarang.
sepeninggalan dokter tadi, seonghwa mengecup kening wooyoung singkat.
"terima kasih sudah menyelamatkan ibuku."
setelah nyonya park dipindahkan ke kamar rawat biasa, seonghwa segera menemui sang ibu, sedangkan wooyoung memilih untuk menunggu di luar.
ia hanya tidak ingin membuat calon mertuanya naik darah akibat emosi melihat kehadirannya.
baru saja wooyoung hendak pergi ke kafe rumah sakit dan membeli minuman untuk menyegarkan tenggorokannya yang terasa kering, terdengar suara pintu digeser yang mengurungkan niatnya.
"wooyoung-ah, mama mencarimu."
"eh? aku?" ulang wooyoung tak percaya.
dengan ragu, kakinya melangkah masuk ke dalam ruangan, menemui sosok wanita paruh baya yang tengah terbaring lemas.
"uhm, bagaimana keadaan tante? apakah sudah merasa baikan?" tanya wooyoung hati-hati.
"kemarilah."
pemuda jung itu menurut, melangkah mendekat kemudian duduk pada kursi kecil yang menganggur di samping ranjang.
tubuh mungil wooyoung sedikit tersentak ketika nyonya park meraih tangannya, untuk pertama kalinya.
"terima kasih."
kepala wooyoung yang sempat tertunduk kini mendongak, memandang tak percaya kala netranya menangkap senyum tipis namun tulus yang terukir di wajah nyonya park.
"b-bukan masalah, tante," jawab wooyoung terbata. bibirnya tak bisa menahan senyum melihat sikap nyonya park yang mulai melembut padanya.
"mama."
"eh?"
"panggil mama saja," ulang nyonya park, memperjelas ucapannya.
"b-bolehkah?" kedua netra wooyoung kembali mengerjap tak percaya.
bukankah itu artinya nyonya park sudah merestui hubungannya dengan seonghwa?
"baiklah, kalau begitu ...,"
"... mama."
ㅡ
pendek banget ya? wkwk sengajaa karena chapter depan udah end :")
sebagai gantinya, aku baru publish book baru isinya oneshot gitu, mampir yaaa!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.