Bonus Chapter

4.2K 377 17
                                        

Beberapa tahun kemudian.



Jinhye melangkah masuk ke dalam rumah dengan kedua tangan yang membawa kantong belanjaan. Rasa lega perlahan menghampiri saat dirinya mendengar suara tawa dari arah ruang keluarga.

"Aku pulang," seru Jinhye dengan senyuman lebar.

Dan suasana mendadak hening saat Jinhye tiba di ruang keluarga. Helaan napas panjang keluar dari mulutnya ketika melihat mainan berserakan di lantai dan juga sofa. Jinhye meletakkan kantong belanjaan yang dibawanya lalu melangkah maju.

"Kim Seojun, Kim Seojin kemarilah. Eomma datang," seru Jinhye dengan senyuman lebar.

"EOMMA ...." seru gadis kecil berumur tiga tahun berlari menghampiri Jinhye.

Jinhye membungkukkan tubuhnya dan membawah tubuh gadis itu ke dalam gendongannya. "Seojin-a, di mana Oppa?"

"Di sini," sahut laki-laki berumur enam tahun yang muncul dari tempat persembunyiannya dengan cengiran lebar dan berjalan menghampiri sang ibu.

Jinhye tersenyum dan merapikan rambut Seojun yang sedikit berantakan lalu menurunkan Seojin dari gendongannya. Ia menyejajarkan tingginya dengan kedua anaknya dan tersenyum lebar. "Kenapa kalian berdua belum mandi?"

Seojun da Seojin menggelengkan kepalanya dengan kompak.

"Appa bilang, kita akan mandi setelah bermain," sahut Seojun.

"Appa bilang begitu?" tanya Jinhye dengan kerutan di dahi.

Seojun dan Seojin menganggukkan kepala mereka kompak.

"Baiklah. Kalau begitu, kalian pergi ke kamar dulu. Eomma akan menyusul nanti. Oke?"

"Eung Eomma," jawab Seojun dan Seojin kompak. "Ayo!" ajak Seojun sembari menggenggam tangan mungil Seojin dengan tangannya yang sedikit lebih besar dari tangan sang adik.

Jinhye berdiri dan memperhatikan kedua anaknya yang berjalan menuju kamar mereka. Setelah pintu kamar tertutup, Jinhye mengedarkan pandangannya dan menghela napas kasar.

"Keluarlah!" ucap Jinhye malas. "Keluarlah sebelum aku menemukanmu dan mencubitmu," tambahnya dengan wajah kesal.

"Aku minta maaf."

Seruan tersebut membuat Jinhye menoleh ke asal suara dan menatap Doyoung yang berjalan menghampirinya.

Doyoung menunjukkan senyuman terbaiknya pada Jinhye yang terlihat siap mengeluarkan omelannya. "Jangan marah. Aku kan sudah minta maaf."

Jinhye menatap pria di hadapannya yang masih mengenakan piyama kemudian mendengkus kesal. "Kau ini! Aku kan menyuruhmu untuk memandikan anak-anak. Kenapa malah bermain?!"

Doyoung menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada dan menatap Jinhye dengan pandangan memohon. "Jangan marah. Aku akan memandikan anak-anak dengan cepat. Dan kau bisa memasak makan siang dengan tenang."

Jinhye memutar kedua bola matanya malas dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dan rasa kesalnya pun semakin bertambah ketika dirinya kembali melihat mainan yang berserakan.

Doyoung yang menyadari raut wajah Jinhye berubah pun dengan cepat beranjak membereskan semua mainan di lantai. "Aku akan membereskan semua ini. Kau pergi ke dapur dan bereskan barang belanjaan yang kau beli saja," tunjuknya ke arah kantong belanjaan yang tadi dibawa sang istri.

Jinhye berjalan mendekati Doyoung dan menepuk bahu suaminya. "Bereskan semuanya dan mandikan anak-anak. Aku akan memasak makan siang untuk kita."

Doyoung mendongak menatap Jinhye lalu tersenyum lebar. "Iya sayang."

UNEXPECTED ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang