Pagi itu cerah, seperti biasa, dan suasana di Hogwarts tampak tenang. Hari-hari yang kulewati terasa damai, dan hampir dua bulan telah berlalu sejak kejadian dengan Hippogriff itu.
Anehnya, Draco benar-benar berhenti mengganggu ku. Bagaimana ya mengatakannya, entah kenapa dia menjadi sedikit lebih... baik padaku. Mungkin itu terlalu berlebihan untuk ku katakan, tapi aku memang merasa ada perubahan. Apapun itu, aku bersyukur.
Namun, sayangnya, perubahan itu tidak berlaku pada teman-temannya. Terutama Pansy. Aku tidak mengerti apa yang salah denganku, kenapa dia begitu sering merundungku akhir-akhir ini.
Hari itu, seperti biasa, aku sedang berjalan menuju kelas ketika Pansy menghampiriku dengan senyum jahat di wajahnya, kalung liontin pemberian ibuku terlihat berada di tangannya. Tanpa berkata apapun, dia mulai melemparkan kalung itu ke sana kemari dengan tongkat sihirnya, seolah-olah itu hanyalah mainan baginya.
"Pansy, kembalikan kalungku sekarang juga!" Aku berteriak, marah sekaligus kesal melihat tingkahnya.
"Tangkap saja sendiri," kata Pansy dengan tawa yang mengejek. "Hahaha, ini menyenangkan. Wuuuu, kalungmu terbang ke atas atap tuh." Dia tersenyum lebar, menikmati momen itu.
Aku merasa kesal, dan segera mengangkat tongkat sihirku. "Wingardium Leviosa," ucapku, berusaha mengangkat kalung itu kembali. Namun, sebelum aku berhasil, Pansy dengan cepat melayangkan "Expelliarmus," yang membuat tongkatku terlempar dari tanganku.
"Sialan!" Aku menggeram kesal, tidak bisa melakukan apa-apa sementara kalungku terbang lebih tinggi.
Tiba-tiba, aku mendengar suara yang cukup familiar, suara yang aku tidak tahu sejak kapan ada di dekatku. "Hentikan, Pansy," perintah Draco dengan nada tegas. Aku menoleh dan melihatnya berdiri di sana, menatap kami dengan ekspresi tidak senang.
Dia mengangkat tongkat sihirnya dengan cepat. "Accio!" Ucapnya, dan kalung liontin itu langsung terbang kembali ke tanganku.
Aku sedikit terkejut, tapi merasa lega. Pansy terlihat marah, wajahnya merah padam karena kehilangan permainan ini. Draco, tanpa berkata apapun lagi, berjalan ke arahku dan menarik belakang bajuku, menyeretku pergi dari sana.
"Draco, mengapa kau membelanya? Biasanya kau yang paling bersemangat saat membuli penghianat itu. Hey, kembali!" Pansy berteriak marah, suaranya seperti orang gila.
Aku terus berusaha melepaskan diri dari cengkeramannya. "Lepaskan aku!" seruku, merasa kesal karena harus ditarik-tarik seperti ini. Tapi Draco tetap menarikku tanpa sedikit pun rasa kasihan.
"Diamlah, kau idiot. Apa kau senang dibuli seperti tadi? Aku tidak akan menyelamatkanmu setiap kali," katanya dengan nada datar, melepaskan tangannya dari belakang jubahku dan membuat aku merasa sedikit lega.
"Aku tidak meminta bantuanmu seperti tadi," jawabku dengan malas, meskipun sebenarnya aku merasa berterima kasih. Hanya saja, aku tidak bisa membiarkan perasaan itu menguasai diriku. Aku lebih memilih untuk terlihat keras kepala.
Draco menatapku tajam, lalu menoyor dahiku dengan keras. "Kau bodoh," katanya. Rasanya agak sakit, dan aku langsung mengusap dahiku yang sedikit memerah.
"Aww... hentikan. Memangnya aku harus bagaimana?" Tanyaku, merasa kesal dengan perlakuannya.
Draco tampak sedikit lebih serius sekarang, meskipun nada suaranya tetap tenang. "Dengar. Aku menyelamatkanmu karena hutang budiku kemarin, saat kau menolongku dari Hippogriff. Sekarang, aku akan mengajarimu cara agar tidak dibuli lagi. Kau ini benar-benar bertingkah seperti salah satu dari para Hufflepuff itu," katanya dengan nada yang agak mengolok.
"Apa? Hufflepuff?" Aku hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja dia katakan.
Draco mengabaikan keluhanku dan melanjutkan, "Hal pertama adalah jangan biarkan siapapun menatapmu rendah. Kau adalah seorang Slytherin dan keturunan Grindelwald. Sadarlah." Draco menjeda kalimatnya. "Dan..." Kemudian, dia mendekat dan berbisik di telingaku, membuatku sedikit terkejut.
KAMU SEDANG MEMBACA
I (don't) HATE YOU | Draco x Reader
FanfictionBercerita tentang seorang gadis yang dibully oleh Draco Lucius Malfoy yang berakhir dengan saling mencintai. Mereka pikir ini hanyalah kisah cinta biasa. Namun mereka tak tau, ada takdir yang jauh lebih besar sedang menanti mereka. ~~~ "Please, don'...
