Waktu berlalu tanpa terasa, dan libur akhir tahun yang dinanti-nantikan akhirnya tiba. Semua siswa Hogwarts tampak bersemangat, menyusun rencana untuk kembali ke rumah masing-masing, termasuk aku. Kegembiraan liburan memadati udara, tetapi aku tetap merasa ada perasaan melankolis saat harus berpisah dengan teman-teman.
Aku berdiri di dekat peron, memeluk Harry, Hermione, dan Ron satu per satu sebagai tanda perpisahan. "Kalian harus terus berkirim surat denganku, Harry, Hermione, Ron," ucapku dengan suara lembut, berharap jarak tidak akan memisahkan kami.
"Tentu saja," jawab Harry sambil tersenyum. "Kita juga harus berkumpul sewaktu-waktu."
Aku mengangguk. "Aku akan pergi menemui Draco. Kalian masuklah ke kereta lebih dulu," lanjutku, melambaikan tangan pada mereka sebelum berjalan mencari Draco.
"Draco!" panggilku dengan nada kesal saat menemukannya di sisi lain peron. Dia tampak berdiri dengan santai, seperti tidak peduli pada keramaian di sekitarnya. "Kau tidak mengucapkan salam perpisahan padaku?" tanyaku, mencoba menahan rasa jengkel karena diabaikan.
Tanpa menjawab, dia menarikku mendekat, langsung membungkusku dalam pelukannya. Pelukan itu terasa hangat, membuatku lupa akan kekesalanku. Kami berpelukan cukup lama sebelum akhirnya Draco melepaskan genggamannya. Lalu, tanpa peringatan, dia mencium bibirku dengan lembut, seolah itu caranya untuk mengucapkan selamat tinggal.
"Kau harus terus berkirim pesan denganku!" seruku, mencoba terlihat tegas, meskipun wajahku mungkin memerah karena ciumannya.
"Tentu saja, sayang," jawabnya, kemudian mencium keningku lagi. "Kau harus berkunjung ke rumahku sewaktu-waktu. Ke Malfoy Manor," tambahnya.
Aku mengerutkan dahi, mengingat sesuatu. "Mmm... bibimu tidak ada di sana?" tanyaku curiga. Draco langsung menepuk jidatnya, tampak seperti baru menyadari hal yang jelas.
"Kau benar... kita bertemu di Diagon Alley saja," katanya, sedikit canggung. "Ayo masuk ke kereta."
Aku menghela napas panjang dan mengikutinya masuk. Di dalam kereta, aku menariknya duduk di gerbong yang sama dengan Golden Trio. Draco langsung menunjukkan ketidaknyamanannya.
"Cih... mengapa kau menarikku ke sini? Aku akan pergi," ucapnya, mencoba bangkit.
"Sayang, kumohon... aku ingin menghabiskan waktu dengan kalian semua," ujarku, memohon sambil menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Aku tahu ini kelemahannya—jurus pamungkas bertingkah imut.
Draco mendesah panjang, jelas menyerah. "Hahhh..." Dia akhirnya duduk kembali di sampingku. Perjalanan dimulai, tetapi suasana di gerbong terasa begitu canggung.
Berusaha mencairkan suasana, aku menoleh ke Hermione. "Hermione, kapan-kapan aku ke rumahmu ya. Jarak rumahmu dan rumahku kan cukup dekat," kataku dengan ceria.
Namun, seperti yang kuduga, Draco tidak bisa menahan mulutnya. "Rumah muggle? Cih... menjijikan," katanya dengan nada mengejek. Tatapan tajam Hermione langsung tertuju padanya, sementara tangannya mengepal erat, seolah ingin menghantam wajah Draco.
"Terserahmu, tuan sombong berdarah murni," balas Hermione, menatapnya dengan penuh kejengkelan.
Draco, bukannya menahan diri, justru memperburuk suasana. "Sayang, Aku menyarankanmu untuk berhenti berteman dengan mud-blood itu," ucapnya dingin sambil menarik tanganku dan menyimpannya di saku jasnya.
Hermione mendidih. Dia bangkit dari tempat duduknya, jelas berniat untuk memukul Draco.
Aku memegang kepalaku pening. "Ahh... ini bukan ide yang bagus," gumamku, menyadari bahwa menyatukan mereka di satu ruangan adalah kesalahan besar.
KAMU SEDANG MEMBACA
I (don't) HATE YOU | Draco x Reader
FanfictionBercerita tentang seorang gadis yang dibully oleh Draco Lucius Malfoy yang berakhir dengan saling mencintai. Mereka pikir ini hanyalah kisah cinta biasa. Namun mereka tak tau, ada takdir yang jauh lebih besar sedang menanti mereka. ~~~ "Please, don'...
